geminaifourth

“Lu beneran mau traktir kak Haris hari ini?” tanya Juju saat mereka berjalan menuju kantin. Jiel mengangguk.

“Mending tanya dulu deh El dia suka makan apa, ntar udah lu pesenin dia malah ga makan,” kata Darel.

“Semalem udah gue tanya kok ke kak Arkan, suka makan bakso katanya,” kata Jiel.

Ketiganya telah sampai dikantin, kamtin sangat penuh saat ini.

“Kalian pesen apa? Gue mau pesen bakso juga soalnya,” kata Jiel.

“Sekalian aja deh gimana? Biar cepet,” kata Darel. Juju dan Jiel mengangguk.

Setelah pesanan mereka jadi, Darel membawa nampan bakso mereka ke arah Elixir duduk.

“Buat kak Haris,” kata Jiel tiba-tiba sambil menyerahkan semangkuk bakso dan segelas es jeruk.

Aksi Jiel tersebut menyita perhatian para warga kantin.

Para anggota Elixir menatap Jiel heran, kecuali Arkan tentunya.

“Kenapa?” tanya Haris.

“Mau gantian traktir kak Haris, soalnya kemarin aku udah ditraktir,” kata Jiel.

“Cie Haris udah traktir Jiel,” goda Jo. Haris tidak memperdulikan Jo.

“Kan udah gue bilang gausah Jiel,” kata Haris.

“Jiel ga enak kak Haris,” kata Jiel.

“Dimakan ya kak, Jiel sama temen-temen pamit dulu,” lanjut Jiel sambil tersenyum.

Arkan menahan tangan Jiel. Aksi Arkan membuat para warga kantin terkejut sekaligus bingung.

“Makan disini aja, lu mau makan dimana penuh gitu,” kata Arkan.

Jiel menatap isi kantin, benar semua kursi sudah terisi penuh. Kemudian Jiel menatap kursi yang diduduki Elixir saat ini, masih tersisa beberapa tempat untuk dia makan.

“Iya Jiel sini aja gapapa,” sahut Danny.

“Eh? Tapi aku sama Darel Juju,” kata Jiel.

“Gapapa lah, udah sini aja,” kata Jo.

Jiel menatap Darel dan Juju. “Gapapa?”

“Gapapa Jiel, daripada kita makan berdiri,” kata Juju yang disetujui oleh Darel.

“Nah tuh gapapa, udah sini El,” kata Ajun.

Jiel tersenyum.

“Duduk sini,” kata Haris menggeser tubuhnya.

Jiel mengangguk lalu duduk disebelah Haris. Lalu disusul Juju dan Darel disebelahnya.

Jiel, Juju, dan Darel diperhatikan oleh seluruh siswa dan siswi dikantin. Ada yang memperhatikan dengan tatapan bertanya, tatapan cemburu, tatapan kagum, bahkan tatapan benci.

Jiel memakan baksonya dengan lahap, Haris yang sudah memakan baksonya menatap Jiel gemas.

Bahunya dicolek oleh Jo yang berada di sebelahnya. “Diliatin mulu, suka ya?”

Haris mendengus malas, sedangkan yang lain terkikik geli.

“bang Arkan sama yang lain ga ke tribun lapangan?” tanya Jiel.

“Lagi bosen,” jawab Arkan. Jiel mengangguk.

“Bang, Jiel balik ya, abis ini mau presentasi soalnya,” kata Jiel.

“Bareng aja, kita mau main basket di lapangan soalnya,” kata Arkan.

Jiel, Juju, dan Darel keluar dari kantin bersama Elixir. Jiel berjalan sambil dirangkul oleh Arkan. Lagi-lagi itu membuat warga kantin penasaran, apa hubungan Elixir dengan Jiel.

“Masuk kelas sana, belajar yang bener,” kata Arkan.

Jiel mengangguk.

“Jiel,” panggil Haris. Jiel memutarkan kepalanya ke belakang.

“Makasih ya,” kata Haris. Jiel tersenyum dan mengangguk.

“Sama-sama, makasih juga kak Haris.”

Haris tersenyum tipis.

“Kita pamit dulu, dadah,” kata Jiel lalu menuju gedung IPA diikuti oleh Juju dan Darel.

“Pengen ngemil ga sih?” tanya Jiel.

Darel dan Juju mengangguk. Saat ini mereka sedang mengerjakan tugas kelompok bahasa Inggris.

Jiel melihat jam dikamarnya, pukul 19.30. “Gue ke indoapril dulu deh beli jajanan,” kata Jiel.

“Mau ditemenin?” tanya Darel.

Jiel menggeleng, “gausah, selesaiin aja dulu itu.”

Jiel mengambil kunci motornya dan bergegas ke indoapril.


Jiel telah selesai memilih snack dan minuman untuk kedua sahabatnya, kini ia sedang berdiri didepan kasir.

“Totalnya 73.200 kak, ada tambahan lagi?” kata sang kasir.

Jiel menggeleng. Ia hendak membayar, namun ia tak menemukan dompet dikantung celananya.

Jiel panik hingga ingin menangis, tapi tiba-tiba suara laki-laki yang Jiel kenal memasuki indra pendengarannya.

“Saya aja mbak yang bayar, sekalian sama ini, totalnya jadi berapa?” tanya Haris.

“Jadi 87.300, ada tambahan lain?”

Haris menggeleng lalu menyerahkan kartu debitnya.

“Baik kak, ini belanjaannya, terima kasih, selamat datang kembali.”

Jiel masih agak kaget dengan Haris yang tiba-tiba membayarkan belanjaannya.

“Jiel?” panggil Haris.

“E-eh iya kak?”

“Ini belanjaannya,” kata Haris sambil menyodorkan plastik kepada Jiel.

“Eh, iya kak, makasih banyak ya kak, nanti aku ganti duitnya,” kata Jiel.

Haris menggeleng, “gausah gapapa.”

Tiba-tiba Haris mengenggam tangan Jiel dan menuntunnya ke toko martabak sebrang indoapril.

“Tungguin gue bentar ya?” tanya Haris. Jiel yang bingung hanya bisa mengangguk.


“Nih,” Haris menyodorkan sebungkus martabak kepada Jiel.

“Hah?”

“Buat Jiel.”

“Kenapa buat aku kak?”

“Kata Arkan lu demen makan, nih ambil.”

Jiel mau tidak mau mengambil martabak itu. Haris mengenggam tangan Jiel lagi dan membawanya ke depan Indoapril karena motor mereka berdua terparkir disana.

“Kak Haris,” panggil Jiel.

“Ya?”

“Maaf ya udah direpotin, nanti uangnya aku ganti kok seriusan,” kata Jiel.

“Kan gue bilang gapapa.”

“Tapi—,”

“Mending lu pulang, nanti kemaleman,” kata Haris.

Mau tak mau Jiel menuruti perkataan Haris.

“Jiel duluan ya kak, makasih banget udah dibayarin sama dibeliin martabak, dadah.”

Haris mengulum senyumnya.

‘Lucu.’

“Mah, Haris berangkat ya,” kata Haris sambil salim.

“Hati-hati Ris, jangan ngebut,” kata sang ibunda. Haris mengangguk.

Haris merupakan anak tunggal. Ayahnya adalah seorang dokter dirumah sakit besar. Ibunya dulu seorang pengacara, namun kini menjadi ibu rumah tangga sejak Haris lahir.


Haris menjadi pusat perhatian ketika motornya memasuki area sekolah.

‘Dah biasa.’ batinnya.

Haris memarkirkan motor nya di sebelah motor Asa, sahabatnya sejak ia kelas 10.

Haris melangkahkan kakinya menuju kantin, dapat dilihat kelima sahabatnya sedang asik bercanda ditempat favorit mereka. Tempat itu ga boleh ditempatin siapa-siapa lagi selain mereka.

Elixir namanya. Nama itu dibuat sama Jo pas mereka lagi nobar Harry Potter dirumahnya Arkan waktu mereka kelas 10. Haris sih ikut-ikut aja, toh namanya bagus.

Elixir sendiri mulai diomongin orang pas Haris tanding basket disekolah, dari situ tiba-tiba Haris banyak fansnya. Fansnya sih kakak kelas semua soalnya dia baru kelas 10 saat itu. Sejak saat itu baru deh Elixir mulai terkenal, bahkan sekarang sampe ke beberapa sekolah.

Haris sendiri orangnya gampang risih sama yang caper ke dia, ga jarang dia nolak pemberian orang lain, entah itu dibuang, atau dia kasih ke temen-temennya. Haris ga pernah pacaran karena ga ada yang menarik perhatiannya.

“Oy Ris, gimana liburan lu?” tanya Jo ketika Haris sampai.

“Biasa aja,” jawab Haris.

“Elah Ris masih aja lu cuek begitu,” timpal Danny.

Haris hanya mendengus.

“Adek lo berarti kelas 11 ya Ar sekarang?” tanya Ajun kepada Arkan.

Arkan mengangguk, “iya dah kelas 11.”

“Mau liat Jiel ah, pasti nambah lucu,” kata Danny.

“Nambah ngeselin sih iya,” kata Arkan.

“Ayo ke kelas, dah mau bel,” kata Asa.

Lalu semuanya bergegas pergi.


“Gue ke mbak Tia dulu,” kata Haris pas istirahat.

Dilihatnya warung mbak Tia lumayan ramai. Kehadiran Haris mengundang perhatian.

“Ck, jangan liatin gue, mau gue colok mata lu?” kata Haris kepada 3 perempuan disebelahnya. Tidak lama kemudian warung mbak Tia sepi karena kedatangan Haris.

“Mbak pesen 1,” kata Haris.

Mbak Tia mengangguk, “yang lain mana Ris?”

“Tempat biasa,” mbak Tia mengangguk.

“Mbak Tia mau pesen nasi kuningnya 2 ya,” Haris menengok ke arah yang berbicara, ternyata Jiel, adik Arkan.

“Eh Jiel, apa kabar? Makin manis aja ih kamu,” kata mbak Tia.

Jiel terkekeh.

‘Manis,’ batin Haris.

“Baik kok mbak, mbak Tia gimana?”

“Alhamdulillah baik, ini 2 buat siapa aja?”

“Buat aku sama Juju mbak,” kata Jiel sambil tersenyum.

“Oke deh, tunggu bentar ya El, duduk dulu sini, mbak mau bikinin buat dia dulu nih,” kata mbak Tia sambil menunjuk Haris.

Jiel tersenyum, “iya mbak santai aja, aku duduk sini ya.”

Haris memperhatikan orang disebelahnya.

‘Jiel udah gede aja ya,’ batinnya lagi.


Haris dan Elixir berjalan menuju lobby sekolah. Tiba-tiba mereka mendengar suara yang mampu membuat orang disekitar lobby menengok.

“HAH?!” suara dan postur badan yang Haris kenali.

“Adek lu?” tanya Asa kepada Arkan.

“Kayaknya si iya,” kata Arkan.

“Goblok, kok kayaknya, itu emang adek lu,” kata Danny.

Arkan terkekeh.

“Kenapa itu dia?” tanya Ajun.

Arkan menggeleng, “samperin dah yok.”

Arkan menepuk bahu Jiel.

“Jangan bengong Jiel.”

Jiel kaget dengan wajah yang lucu menurut Haris.

“Tadi kenapa teriak-teriak El?” tanya Danny.

“E-eh, oh itu, tadi temenku tiba-tiba bisa bawa motor, aku kaget aja,” kata Jiel.

“Eh Jiel, lu kelas berapa deh?” tanya Jo.

“Aku kelas 11 IPA 2 kak,” sahut Jiel canggung.

“Gue mau ngumpul bentar, lu mau ikut ga?” tanya Arkan.

Jiel menggeleng

“Ngga dulu deh bang, Jiel pulang aja.”

Arkan mengangguk, “yaudah gih sana, ngapain masih disini?”

“Padahal abang yang nyamperin Jiel.”

“Yaudah Jiel pulang ya bang, kak Danny, kak Ajun, kak Jo, kak Asa, kak Haris, Jiel duluan ya,” kata Jiel sambil melambaikan tangan.

“Hati-hati Jiel,” kata Ajun.

Jiel mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkahkan kaki nya ke parkiran motor.

“Yuk cabut,” kata Jo.

Semuanya pergi kecuali Haris yang masih terdiam karena senyuman manis yang diberikan Jiel.

Jiel sedang pelajaran olahraga sekarang, guru olahraga nya telat masuk, jadi guru nya mengambil jam istirahat ini.

Juju mengerucutkan bibirnya. “Gue laper, aus juga.”

“Iya sama Ju, ini ga bisa istirahat dulu apa ya?” tanya Jiel.

Darel tiba-tiba bertanya kepada sang guru. “Pak ini ga boleh istirahat dulu?”

“Nanti ya Rel, nanti bapak izinin di pelajaran selanjutnya, kalian bisa istirahat nanti,” kata Pak Arya.

“Yaudah mau gimana lagi,” kata Darel.

“Eh El, itu abang lu bukan si?” tanya Darel sambil menunjuk ke arah tribun penonton yang sepi.

Jiel dan Juan memutarkan kepala nya. Terlihat Arkan dan Elixir disana.

Jiel mengangguk, “iya Rel, kata bang Arkan mereka suka kesini kalau istirahat.”

Darel mengangguk.

Dug. Tiba-tiba bola basket dari arah depan menghantam kepala Jiel. Sontak semua melihat ke arah Jiel, tak terkecuali Elixir.

“Aduh, sakit,” Jiel mengaduh sambil terduduk.

Kejadian itu dilihat oleh Elixir dari tribun.

“Anjir sakit banget itu pasti,” kata Ajun.

“Itu kenceng banget anjir, adek lo gapapa?” tanya Jo kepada Arkan.

“Pasti kenapa-kenapa sih, palingan abis ini ke UKS sama Juju Darel, nanti gue samperin,” kata Arkan sambil memakan baksonya.

Diam-diam Haris menaruh perasaan khawatir kepada Jiel.

“Jiel gapapa?” tanya Darel dan Juan panik.

“Pusing,” kata Jiel.

“Jiel sorry banget sumpah, lo gapapa?” tanya orang yang tidak sengaja melemparkan bola basket tersebut.

“Gapapa Farel, cuma pusing dikit, lu lanjut praktek sana,” kata Jiel. Farel mengangguk dan meminta maaf kembali.

“Ke UKS ya?” tanya Darel.

Jiel tak sempat menjawab, kepala nya pusing sekali.

“Pak, saya sama Darel izin mau nganterin Jiel,” kata Juju. Pak Arya mengangguk.

Sesampainya di UKS, Jiel langsung tertidur dibangsal.

“Jiel tidur aja dulu, gue sama Juju ke kantin dulu ya, mau beliin lo bubur,” kata Darel lalu bergegas pergi bersama Juju.

“Rel gimana nih, kang bubur nya penuh, lama pasti,” kata Juju. Memang saat ini masih waktu istirahat.

Tiba-tiba pundak Juju ditepuk olah seseorang. Ternyata Arkan dan Ajun.

“Ini buat Jiel, ada roti, air putih, sama obat sakit kepala, dia cuma bisa minum obat ini, jangan kasih obat yang lain, rotinya suruh abisin, kalian gausah beliin bubur lagi,” Arkan memberikan kantong plastik yang sudah diisi dengan banyak roti, air mineral, dan obat.

“Eh? Oke kak Arkan,” kata Juju. Ini bukan pertama kalinya Juju dan Darel mengobrol dengan Arkan, karena ketika mereka bermain dirumah Jiel mereka sering menyapa Arkan.

“Ini buat kalian,” Ajun memberi sekantong plastik besar yang berisi dengan berbagai macam makanan dan minuman. Darel dan Juju menatap Ajun dan Arkan penuh tanya.

“Buat kalian nanti makan di UKS, tolong jagain Jiel dulu ya sampai kalian masuk ke pelajaran selanjutnya, sisanya biar nanti urusan gue,” lanjut Arkan.

“Iya kak, makasih banyak kak Arkan, kak Ajun, kita pamit ya,” kata Darel. Ajun dan Arkan mengangguk.

“First time Rel gue ngomong sama kak Ajun,” kata Juju kepada Darel sambil melangkahkan kakinya ke UKS.

“Sama Ju.”


Setelah Jiel memakan roti dari sang abang, Jiel kembali tertidur agar sakit kepala nya mereda.

Beberapa menit kemudian Jiel bangun dan menatap 3 orang didepannya, Arkan, Jo, dan Haris. Juju dan Darel sudah masuk ke kelas mereka.

“Udah bangun?” kata Arkan.

Jiel mengangguk lalu mencoba duduk.

Arkan menahan Jiel agar tetap tiduran. “Tiduran aja.”

“Tadi makanan dari abang ya? Makasih ya bang,” kata Jiel memegang tangan Arkan.

Arkan mengangguk lalu mengusap kepala Jiel.

“Kepala nya masih sakit El?” tanya Jo.

“Udah ngga terlalu kok kak Jo,” kata Jiel sambil tersenyum.

“Pulang sekarang ya? Gausah tunggu pulang sekolah, masih 4 jam lagi, gue anterin,” kata Arkan.

“Mau nya sih gitu, tapi emang boleh?” tanya Jiel.

Jo tertawa, “ya boleh atuh Jiel, kan lu sakit, bisa izin.”

Jiel mengangguk, “mau deh.”

“Oke bentar ya, gue bilangin Juju suruh bawain tas lu,” kata Arkan, Jiel mengangguk.


Arkan, Jiel, dan Haris berjalan ke arah lobby depan sekolah. Jo sendiri sudah kembali ke kelasnya karena kelasnya akan mengadakan ulangan harian. Setelah mereka sampai, Arkan tiba-tiba dipanggil oleh temannya.

“Woy Arkan, lu dipanggil pak Jaka noh, suruh ke ruangannya sekarang, penting.”

“Harus sekarang? Adek gue sakit, harus gue anterin pulang dulu.”

“Harus sekarang Ar,” Arkan mendengus.

“Biar gue aja yang anterin adek lu,” kata Haris tiba-tiba.

“Eh? Gapapa? Aku nunggu kak Arkan aja deh.”

“Gapapa Jiel,” sahut Haris.

Arkan tersenyum.

“Makasih sob, nih kunci motornya Jiel, hati-hati ya,” lalu Arkan pergi meninggalkan Jiel dan Haris.

“Ayo Jiel,” kata Haris lalu menggandeng tangan Jiel.

Jantung Jiel rasanya mau copot tiba-tiba digandeng seperti itu.

‘Untung sepi,’ batin Jiel. Namun, siapa sangka ada seseorang yang menatap nya benci dari belakang.


“Makasih ya kak Haris,” Jiel tersenyum manis.

Haris tersenyum, “sama-sama Jiel.”

“Kak Haris balik ke sekolahnya gimana?”

“Kan ada angkot, gampang.”

“Oh iya ya hehe.”

“Iya, dah sana masuk, istirahat ya, cepet sembuh,” kata Haris sambil mengusak rambut Jiel.

“Iya kak Haris, kak Haris hati-hati ya, aku masuk dulu,” kata Jiel sambil tersenyum.

Lalu Haris keluar dari rumah Jiel dengan jantung nya yang berpacu cepat.

Jiel telah menghabisi makanan dan minumannya. Ia kenyang sekarang.

“Mau nambah ga lu?” tanya Arkan.

Jiel menggeleng, “kenyang bang.”

“Halah biasanya kalau sama Juju Darel lu makan sampe 3 piring.”

“Fitnah! Ga pernah ya gue, lu kali tuh,” Jiel memajukan bibirnya.

‘Buka kartu aja nih orang, liat aja pas dirumah nanti, gue pukul pake sapu.’

Ajun tertawa, “lu lucu banget dah El, curiga gue, lu udah ada pacar ya?”

Jiel menggeleng.

“Ngga ada yang mau sama aku kak,” kata Jiel spontan.

Arkan tertawa paling kencang diantara teman-temennya.

“Emang lu tuh jelek Jiel, jadi kagak ada yang mau,” kata Arkan.

“Gue jelek, lu juga jelek Arkan, ga inget apa kita satu gen,” Jiel memutar matanya.

“Ga sopan Arkan-Arkan aja, dasar jelek,” kata Arkan.

“Yaudah iya jelek, gamau berdebat, males, jadi laper lagi.” Semua tertawa karena perkataan Jiel.

“Lu manis,” kata Haris tiba-tiba.

Elixir dan Jiel pun menengok ke arah Haris. Terlalu tiba-tiba. Bahkan Asa sampai cengo.

Jiel tersenyum manis ke Haris. “Makasih kak Haris.”

Arkan menggeleng, “dah kena pelet lu Ris.”

“Gausah dengerin dia kak Haris, anggep aja dia ngga ada.”

Haris tersenyum tipis, “iya Jiel.”

Jiel turun dari motor CBR abangnya, lalu ia mengusap-usap bokongnya.

“Pantat gue sakit bang asli, ogah dah gue naik motor lu lagi,” kata Jiel. Arkan hanya terkekeh.

Arkan lalu masuk ke dalam cafe diikuti Jiel dibelakangnya.

“Halo Jiel,” sapa Ajun.

Jiel tersenyum. “Halo kak Ajun.”

“Sini duduk,” kata Jo mempersilahkan Jiel duduk ditempatnya.

“Eh? Gapapa kak?”

“Gapapa lu duduk situ, gue mau deket Asa,” kata Jo dengan suara pelan, Jiel terkekeh mendengarnya.

Jiel duduk disebelah Haris, didepannya ada Danny dan juga Arkan, disudut sebelah kiri ada Asa dan Jo, sedangkan disudut kanan ada Ajun.

“Jiel mau pesen apa?” tanya Asa.

“Apa ya?” dahi Jiel mengkerut karena berpikir.

“Aku mau nasi goreng seafood boleh? Minumnya mau lemon tea aja,” kata Jiel.

“Boleh, gue pesenin ya El,” kata Asa lalu berdiri menuju kasir.

“Makasih kak Asa,” Jiel tersenyum.

Lagi-lagi, Haris tak berkutik dari senyuman Jiel.

Jam menunjukkan pukul 06.15, Jiel buru-buru memakai sepatunya. Karena ini hari Senin, sekolah mengadakan upacara pada pukul 06.45. Arkan sudah pergi sejak pukul 6 tadi karena ia akan menjemput pacarnya, Danny.

Jiel mengunci pintu rumah dan menaruhnya di pot dekat pintu. Jika kalian bertanya dimana orang tua Jiel, jawabannya adalah di Singapura. Yap, Jiel dan Arkan tinggal berdua dirumah yang cukup besar itu. Orang tua mereka dapat dikatakan sukses untuk saat ini karena mereka selalu giat bekerja, pulang pun jika mereka ingat. Maka dari itu Jiel suka kesepian ketika Arkan pergi ngumpul dengan teman-temannya.

Jiel menutup pagar dan menaiki motor scoopy nya lalu memulai perjalanan nya ke sekolah.


Jiel memasuki kawasan sekolah, dilihatnya para siswa dan siswi ajaran baru yang memakai seragam SMP mereka.

Setelah Jiel memarkirkan motornya di parkiran sekolah, ia menelpon sahabatnya.

“Juju, dimana?”

“Di depan aula El, sini gece,”

“Otewe.”

Tut. Telepon dimatikan. Jiel pun melangkahkan kaki nya ke aula.


“Enak banget ya hari ini jamkos terus,” kata Darel sambil berjalan ke kantin.

Jiel mengangguk. “Tapi belom tentu tau Rel, siapa tau nanti belajar.”

“Iya si, eh tadi lu berangkat sendiri?” tanya Darel.

“Ya iya lah, sama siapa lagi emang?” tanya Jiel heran.

“Kirain sama kak Arkan,” Juju menyambar.

“Ish, dia tuh sama pacarnya tau.”

Darel dan Juju mengangguk-angguk.

“Mau pesen apa ya?” tanya Jiel.

“Eh El gue ke situ yak, mau beli bakso,” kata Darel.

“Oke deh.”

“Juju mau pesen apa?” tanya Jiel.

“Lu mau nasi kuning ga?” tanya Juju.

Jiel mengangguk. “Ayo pesen.”

“Pesenin gue ya, gue beli minum, lu es teh kan?”

Jiel mengangguk.

“Mbak Tia mau pesen nasi kuningnya 2 ya,” kata Jiel sambil tersenyum.

“Eh Jiel, apa kabar? Makin manis aja ih kamu,” kata mbak Tia.

Jiel terkekeh.

“Baik kok mbak, mbak Tia gimana?”

“Alhamdulillah baik, ini 2 buat siapa aja?”

“Buat aku sama Juju mbak,” kata Jiel sambil tersenyum.

“Oke deh, tunggu bentar ya El, duduk dulu sini, mbak mau bikinin buat dia dulu nih,” kata mbak Tia sambil menunjuk satu orang yang duduk di warungnya.

‘Pantesan warung mbak Tia sepi, ada kak Haris ternyata, pada takut mau beli.’

Jika ditanya kenapa Jiel mengenali orang itu jawabannya karena Haris sendiri adalah sahabat Arkan. Haris sendiri adalah member Elixir, nama geng mereka. Beberapa kali Jiel melihat Haris dan Elixir di rumahnya untuk berkumpul. Haris memang ditakuti murid-murid karena tatapannya yang tajam juga perkataannya yang menohok. Namun disisi lain, diantara member Elixir, Haris lah yang paling banyak mempunyai penggemar karena wajahnya yang sangat tampan.

Jiel tersenyum, “iya mbak santai aja, aku duduk sini ya.”

Jiel pun duduk di sebelah Haris sampai sampai makanan nya selesai dibuat.


“Juju sama Darel pulang sama siapa?” tanya Jiel saat mereka sudah sampai depan lobby sekolah.

“Gue mah kan sama supir, eh itu dia udah dateng, gue duluan ya El, Rel, sampai jumpa besok, muah,” kata Juju lalu berlari ke arah mobil nya.

“Darel sama siapa?” tanya Jiel.

“Gue bawa motor El,” kata Darel.

“HAH?!” teriakan Jiel sangat kencang, bahkan geng Elixir yang beberapa meter dibelakang Jiel pun heran.

“Jangan teriak-teriak bego, kenapa sih,” kata Darel sambil membekap mulut Jiel.

“Bohong lu, ga percaya gue.”

“Ih El, seriusan, gue tuh pas libur kemarin belajar motor, kalau ga percaya tunggu sini dah, gue ke parkiran dulu.”

Jiel mengangguk. Dan betapa kaget nya ia melihat Darel mengemudi motor N-Max miliknya. Jiel ternganga.

“Hehe, percaya kan? Yaudah ya gue sekalian balik nih, lu hati-hati, dadah,” kata Darel.

Jiel masih ternganga, sampai akhirnya ada yang menepuk bahunya.

“Jangan bengong Jiel.”

Jiel kaget, lalu menoleh ke samping, ternyata Arkan dengan Elixir.

“Tadi kenapa teriak-teriak El?” tanya Danny.

“E-eh, oh itu, tadi temenku tiba-tiba bisa bawa motor, aku kaget aja,” kata Jiel.

Jiel kaget plus canggung juga, soalnya dia ga deket sama Elixir, kalau Elixir lagi kumpul dirumah juga Jiel cuma dikamar. Jiel ga sadar aja dia udah diperhatiin orang-orang seolah-olah bertanya ada apa Jiel dengan Elixir.

Satu sekolah belum mengetahui kalau Jiel adalah adik dari Arkan. Yang tau hanya Elixir dan juga kedua sahabat Jiel. Arkan dan Jiel sama-sama tidak mengumbar hubungan saudara mereka, tidak menyembunyikan juga, biar aja orang-orang sadar sendiri.

“Eh Jiel, lu kelas berapa deh?” tanya Jo.

“Aku kelas 11 IPA 2 kak,” sahut Jiel sambil tersenyum canggung.

“Gue mau ngumpul bentar, lu mau ikut ga?” tanya Arkan.

Jiel sontak menggeleng.

“Ngga dulu deh bang, Jiel pulang aja,” kata Jiel.

Arkan mengangguk, “yaudah gih sana, ngapain masih disini?”

Jiel mendelik, “padahal abang yang nyamperin Jiel.”

“Yaudah Jiel pulang ya bang, kak Danny, kak Ajun, kak Jo, kak Asa, kak Haris, Jiel duluan ya,” kata Jiel sambil melambaikan tangan.

“Hati-hati Jiel,” kata Ajun.

Jiel mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkahkan kaki nya ke parkiran motor.

“Dia selingkuh, Woon,” ujar Younghyun kepada sang mantan pacar.

“Kak...,” Dowoon merasa iba kepada Younghyun. Bagaimana bisa Seulgi meninggalkan seseorang yang berharga seperti Younghyun.

“Ini salah aku juga, Woon.”

Dowoon memandangi Younghyun dengan tatapan bertanya.

“Aku masih sayang kamu,” kata Younghyun yang sukses membuat kedua mata Dowoon membulat.

“Kak, stop, we are done,” kata Dowoon.

I know I said goodbye and baby, you said too.”

Dowoon mengangguk.

But when I touch her I feel like I'm cheating on you.”

“Maksudnya gimana sih, Kak?”

I thought that I'd be better when I found someone new,” Younghyun memegang tangan Dowoon, namun Dowoon menolaknya.

“Bukan nya emang gitu?” tanya Dowoon yang dibalas gelengan oleh Younghyun.

But when I touch her I feel like I'm cheating on you.”

Dowoon sebenarnya masih tidak mengerti maksud Younghyun itu apa.

“Biar aku jelasin,” kata Younghyun sambil mengambil tangan Dowoon dan menggenggamnya.

Younghyun menghela nafasnya.

“Waktu itu emang aku gampang banget ngajakin kamu putus, karena hubungan kita emang udah gak jelas, lalu aku ketemu Seulgi. Kita pacaran dan dia sayang banget sama aku. Tapi aku ngerasa bersalah, Woon, aku ngerasa aku udah selingkuh dari kamu, padahal kenyataannya kita udah putus,” jelas Younghyun.

“Kak....”

“Tapi entah kenapa, aku malah ngerasa kalau aku nggak cinta sama Seulgi, aku gak dapetin apa yang aku dapetin dari kamu. Nggak jarang aku manggil Seulgi dengan nama kamu, Woon. Pelukan Seulgi kerasa beda, aku nggak ngerasa nyaman, waktu aku ciuman sama dia pun aku terbayang kamu, Woon, bahkan aku nggak nyaman sama ciuman dia. Mungkin karena dia udah kesel sama aku gara-gara aku masih belum lupain kamu, jadi dia selingkuh, dan sekarang kita selesai, aku bahkan ga ngerasa kehilangan dia.”

Penjelasan Younghyun barusan membuat Dowoon menangis.

“Kamu jahat banget, Kak, gimanapun juga dia sayang banget sama kamu.”

“Aku jahat karena kamu, Woon, aku masih sayang sama kamu,” kata Younghyun sambil mengusap air mata Dowoon.

Younghyun memandangi keadaan luar dari jendela kafe, dilihatnya salju turun semakin kencang.

“Woon, ayo ngobrol di apartemen aku aja, kayaknya hari ini mau badai salju,” kata Younghyun.

“Aku pulang aja.”

“Bahaya, Woon, aku takut kamu kenapa-kenapa nanti, aku janji nanti kalau badai nya udah reda aku anterin kamu pulang,” Dowoon tengah berpikir. Akhirnya ia mengangguk.


Dowoon sedang diruang tamu apartemen Younghyun dengan selimut tebal ditubuhnya.

“Woon,” Younghyun memanggil dan duduk di sebelah Dowoon.

“Apa?”

Tanpa disangka, Younghyun memeluk pinggang ramping Dowoon.

“Kak?”

“Kayak gini sebentar aja, aku kangen kamu,” kata Younghyun sambil mengendus leher Dowoon.

Dowoon tentu saja tidak bisa menolak. Lalu, Younghyun meraih wajah Dowoon, namun siapa sangka Younghyun mencium bibir Dowoon.

Dowoon kaget tentu saja, ingin melepaskan namun tenaga Younghyun terlalu kuat. Lama-lama Dowoon pun membalas ciuman Younghyun, kedua tangannya memeluk leher Younghyun.

“H-hah,” Dowoon melepaskan ciumannya karena ia kehabisan nafas.

“Dowoon, can we back together?” tanya Younghyun.

“B-bentar, K-kak, h-hah,” Dowoon masih menetralkan nafasnya.

I'll wait,” kata Younghyun lalu memeluk Dowoon lagi.

Setelah 5 menit, Younghyun bertanya lagi.

“Gimana?”

Tak ada jawaban.

“Woon?”

Tak ada jawaban lagi.

“Dowoon?”

Hening. Younghyun meyimpulkan bahwa Dowoon menolak permintaanya.

“Ah, aku tau kamu gak mau,” kata Younghyun. “Aku ke kamar dulu ya, nanti kalau salju nya udah reda kamu panggil aku aja, nanti aku anterin pulang.”

Younghyun mengacak kepala Dowoon lalu meninggalkan Dowoon sendirian.


Dowoon mengetuk pintu kamar Younghyun. Younghyun segera membukanya.

“Udah reda salju nya? Bentar aku ambil kunci mobil dulu,” Younghyun berbalik, namun tangan nya ditarik oleh Dowoon.

Dowoon kemudian mencium Younghyun dengan tiba-tiba dan loncat kegendongan Younghyun. Younghyun tentu saja kaget. Mereka berciuman sampai nafas mereka habis.

“Ayo balikan,” kata Dowoon.

Younghyun yang masih kaget itu pun tambah kaget.

“Kok diem? Tawaran kamu yang tadi udah ga berlaku ya?” tanya Dowoon.

“Nggak gitu, aku kaget,” kata Younghyun. “Ini kamu beneran?”

Dowoon mengangguk. “Aku masih sayang kamu, Kak.”

Younghyun tersenyum lalu mengecup bibir Dowoon.

“Dowoon, will you be my boyfriend, again?

Yes, I will.”

Lalu kedua nya tertawa dan saling memeluk satu sama lain.


END

240421, dwddablues.

Brian membopong Dowoon ke apartemen nya.

Teman kesayangannya itu sedang mabuk berat sekarang, entah dengan alasan apa dia minum sebanyak itu.

Brian menurunkan Dowoon di kasur nya. Sebenarnya, tidak ada yang boleh menempatkan kasur nya karena Brian risih, tapi pengecualian untuk Yoon Dowoon.

Kang Younghyun, atau lebih akrab di kenal dengan nama Younghyun atau Brian itu berusia 20 tahun. Dia berkuliah ditempat yang sama dengan Dowoon.

Sebenarnya, ia tidak suka dipanggil Brian oleh orang lain, namun jika orang itu Dowoon, Brian dengan senang hati menerima.

Diantara teman-teman yang lain, Brian memperlakukan Dowoon dengan ‘beda’. Beda nya seperti yang disebutkan tadi, Dowoon boleh tidur ditempat nya ataupun menyentuh barangnya, sedangkan teman-temannya yang lain ia larang.

Alasannya simple, Brian menyukai Dowoon. Mencintai Dowoon lebih tepatnya.

Entah sejak kapan ia mulai mencintai teman kesayangannya itu, yang pasti ia tidak mau kehilangan Dowoon.

Brian sendiri belum jujur atas perasaannya pada Dowoon. Ia takut jika ia confess, pertemanan nya dengan Dowoon akan terganggu dan ia tidak ingin itu terjadi.

Setelah menurunkan Dowoon dikasurnya, Brian membuka kaos dan celana jeans Dowoon dan menukarnya dengan celana pendek dan kaos miliknya. Kaos itu terlihat kebesaran pada Dowoon, Brian gemas sendiri lihatnya.

Brian mengusap pucuk kepala Dowoon.

“Dowoon, kenapa lu bisa mabuk gini sih?” tanya nya.

Dowoon yang masih setengah sadar itu tersenyum.

“Gara-gara Brian,” jawabnya.

Brian kaget, dia buat salahkah?

“Kok gue?” tanya Brian.

“Iya, lo, lo yang bikin gue sakit hati,” kata Dowoon masih dengan senyumannya.

“Gue ada buat salah?”

“Lo deket-deket Wonpil mulu, gue cemburu, gue sakit hati, gue suka sama lo,” kata Dowoon lalu meraih tangan Brian dan memeluknya.

Brian tentu saja kaget dengan pengakuan tersebut, tidak lama kemudian ia tersenyum.

“Lo suka sama gue?”

Dowoon mengangguk, “banget.”

“Sejak kapan?”

“Gak tau.”

“Gue juga suka sama lo, Woon,” kata Brian.

“Bohong, kalau lo suka sama gue kenapa deket-deket Wonpil terus?”

“Dia kan temen gue.”

“Gue juga temen lo, Bri.”

“Tapi lo spesial.”

Dowoon menggeser tubuhnya ke pojok lalu space kosong disebelahnya ia tepuk-tepuk.

“Bobo sini,” kata Dowoon.

Brian yang melihat tingkah gemas Dowoon pun tersenyum.

Brian tidur disebelah Dowoon, lalu ia memeluk Dowoon dan menghirup aroma nya.

“Kalau cemburu itu bilang, jangan malah mabuk,” kata Brian mengelus punggung Dowoon.

“Mm,” kata Dowoon dan tenggelam di dada Brian yang hangat.

“Woon? Tidur?” tanya Brian.

Tidak ada jawaban, hanya ada deru nafas Dowoon yang teratur di pelukan Brian.

Good night, sayang.”

Lalu, Brian mengecup pucuk kepala Dowoon.


Dowoon bangun pukul 4 pagi. Ia membuka mata nya perlahan, pusing menjalar di seluruh kepala nya.

“AAAAAA,” tiba-tiba Dowoon berteriak karena kaget di depan wajahnya ada wajah Brian yang tertidur tenang.

Brian yang kaget itu pun langsung terbangun.

“KOK LO DISINI?!”

“Jangan teriak-teriak, Woon, masih pagi juga,” kata Brian. “Lo di apartemen gue, gue yang jemput lo semalem, lo mabuk.”

Dowoon sadar ini bukanlah apartemennya, melainkan apartemen Brian. Ketika Dowoon ingin ngomong, ia merasakan bahwa ada yang ingin keluar dari mulut nya. Ia langsung berlari ke kamar mandi Brian.

Setelah mengeluarkan isi perutnya, Dowoon keluar kamar mandi dengan lemas, pusing di kepala masih menguasainya.

“Lo gak apa-apa?” tanya Brian.

Dowoon menggeleng.

Tiba-tiba tubuh Dowoon terangkat. Ternyata, Brian menggendongnya.

“B-Bri, lo ng-ngapain?” tanya Dowoon.

“Bawa lo ke kamar, lo masih lemes.”

Brian mendudukkan Dowoon dikasurnya.

“Bentar, gue ambilin minum,” kata Brian.

Setelah Dowoon minum, ia tertidur lagi. Brian pun ikut tidur disamping Dowoon dan memeluknya.


Pukul 9 pagi, Dowoon terbangun. Pusing di kepala nya sudah menghilang sedikit.

Namun, ia tersadar bahwa ia terbangun di pelukan Brian.

Dowoon menenggelamkan kepala nya di dada nya Brian dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Brian.

“Andai lo milik gue,” kata Dowoon.

Brian yang ternyata sudah terbangun dari tadi itu pun tersenyum.

“Lo mau jadi milik gue?” tanya Brian.

Dowoon terkejut. Ia mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Brian, tetapi tidak bisa, tenaga Brian lebih besar dari nya.

“Lepasin,” kata Dowoon.

“Liat gue dulu,” kata Brian.

“Gak mau.”

“Sini.”

“Gak,” tidak ada pilihan, Dowoon menenggelamkan wajahnya di dada Brian untuk menghindari tatapan Brian.

Brian tertawa, “lo kalau salting nambah gemesin.”

Dowoon tidak menjawab.

“Woon, gue mau nanya serius,” kata Brian.

“T-tanya aja.”

“Lo cemburu liat gue sama Wonpil?”

Dowoon terdiam.

“Jawab, Woon.”

“Gak.”

“Tapi semalem lo bilang gitu, gak usah pura-pura lagi.”

Dowoon diam.

“Orang mabuk tuh 99% omongannya gak bohong loh, Woon,” lanjut Brian.

Skakmat!

Dowoon mendongakkan kepala nya, “kalau gue cemburu emang kenapa? Iya, gue cemburu karena gue suka sama lo, Bri!”

“Gue—,” ucapan Brian terputus.

“Kalau lo mau jauhin gue sekarang gak apa-apa, gue terima, kalau lo mau jadian sama Wonpil juga gak apa-apa, kalau lo—,” sekarang ucapan Dowoon yang terputus.

Ucapan Dowoon terputus oleh sebuah ciuman. Ciuman yang ia terima dari Brian. Dowoon membulatkan mata nya.

“Gue belum selesai ngomong, jangan dipotong makanya,” kata Brian.

Dowoon masih kaget.

“Gini teman kesayanganku, gue mau bilang kalau gue juga suka sama lo.”

“H-hah?”

“Makanya kalau orang ngomong dengerin dulu, jangan malah dipotong.”

“T-terus lo sama Wonpil?”

“Aku sama dia cuma pure temenan, dia juga udah punya pacar, pacarnya itu Jae, kating kamu,” gaya bicara Brian berubah menjadi aku-kamu dan itu sukses membuat Dowoon merona.

Dowoon seketika malu karena ia sudah cemburu tidak jelas ke Brian, lalu ia menutup wajahnya sendiri.

“Kenapa, hm?” tanya Brian sambil mengelus kepala Dowoon.

“Gue malu, gue udah cemburu gak jelas,” kata Dowoon.

“Muka kamu jangan ditutupin, Woon, liat aku sini.”

Dowoon perlahan membuka tangannya.

Brian mengusap kepala Dowoon gemas.

“Jawab pertanyaan gue yang tadi, Woon.”

“Y-yang mana?”

“Lo mau jadi milik gue?”

Dowoon malu. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Brian.

“Kok malah nunduk, jawab dulu, mau gak?”

Dowoon mengangguk.

“Jawab dulu jangan ngangguk doang.”

“Ck, Bri, gue malu.”

Brian tertawa kencang.

“Woon, liat sini dulu.”

Dowoon mendongak. Tiba-tiba Brian menciumnya lagi. Kali ini Dowoon menutup matanya walaupun sempat kaget tadi.

“Rasa bibir kamu enak masa, Woon, rasa permen karet.”

Dowoon yang mendengar itupun salah tingkah.

“You’re officially my boyfriend now, Yoon Dowoon, i love you so much.”

Brian mencium Dowoon lagi dan Dowoon membalasnya dengan senang hati.


END

10/04/21, dwddablues.

Kang Younghyun, 24 tahun, penyuka hujan.

Aneh memang di umur nya yang sudah terbilang tidak muda, Younghyun menyukai hal seperti itu.

Ia suka melihat pelangi setelah hujan, ia menyukai aroma tanah setelah hujan, apapun yang berhubungan dengan hujan, ia menyukainya.

Younghyun masuk ke sebuah minimarket untuk membeli ramyeon kesukaan nya.

Hujan-hujan gini enak nya makan ramyeon,’ pikirnya.

Setelah membayar belanjaan nya, Younghyun keluar minimarket dan membuka payungnya. Ia menghirup aroma tanah dan hujan yang tercampur.

Seperti biasa, aroma nya menenangkan,’ katanya dalam hati.

Younghyun berjalan menuju halte untuk menunggu bus tujuan rumahnya.

“Kenapa hujan nya nggak berhenti-berhenti sih?,” kata seorang pria yang baru datang dan duduk di sebelah Younghyun.

Kenapa dia kesal?’ tanya Younghyun dalam hati.

Pria disebelahnya memasang wajah kesal dan sesekali memperhatikan jam tangan nya.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya Younghyun tiba-tiba.

Pria di sebelah nya memutar kepalanya, “kamu nanya aku?”


Yoon Dowoon, 21 tahun, penyuka latte.

Yoon Dowoon melambaikan kepada teman kerja nya. Hari ini, pukul 23.00, Dowoon baru menyelesaikan pekerjaan nya sebagai seorang barista di sebuah kafe.

Setelah melambaikan tangan kepada teman nya, Dowoon bergegas pergi dari sana untuk pulang ke rumah.

Rumah Dowoon lumayan dekat dengan kafe tempat ia bekerja. Jadi, ia hanya perlu berjalan kaki saja untuk pulang ke rumah.

Hampir dikit lagi sampai rumahnya, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Dowoon meneduhkan diri nya di sebuah toko yang sudah tutup. Ia tidak bawa payung dan tidak pula membawa jaket.

10 menit sudah Dowoon menunggu, hujan tak kunjung reda. Ia memutuskan untuk meneduh di halte saja di depan toko tersebut agar ia bisa duduk.

“Kenapa hujan nya nggak berhenti-berhenti sih?” ia berdecak sebal lalu mendudukan diri nya di kursi halte. Disamping nya ada seorang pria juga yang sedang duduk.

Dowoon sesekali mengecek arloji nya, sudah pukul 23.30 ternyata.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya pria di sebelahnya tiba-tiba.

Dowoon memutar kepala nya mengahadap pria tersebut, lalu bertanya, “kamu nanya aku?”

Younghyun mengangguk.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya Younghyun lagi.

“Kata siapa aku nggak suka hujan?” tanya Dowoon.

“Kamu keliatan kesal sekarang.”

Dowoon menghela nafasnya.

“Aku bukannya nggak suka hujan, tetapi kenapa dia turunnya pas aku lagi nggak bawa payung, giliran kemarin aku bawa malah nggak turun hujannya,” jawab Dowoon dengan bibir sedikit maju.

“Padahal hujan itu anugerah,” kata Younghyun.

“Aku tahu,” kata Dowoon.

Hening.

Karena penasaran dengan pria di sebelahnya, Dowoon bertanya, “kamu suka hujan?”

Younghyun tersenyum, “apapun yang berhubungan dengan hujan, aku suka.”

“Kenapa gitu?”

“Hujan menenangkan, hujan selalu menyenangkan, hujan juga membuatku sedikit melupakan masalahku.”

“Tapi, hujan nggak selalu menyenangkan,” kata Dowoon.

“Kenapa gitu?”

“Kedua orang tua ku kecelakaan mobil disaat hujan dan jalanan sangat licin saat itu,” kata Dowoon.

Younghyun merasa bersalah, “maaf, aku nggak tahu.”

Dowoon tersenyum, “nggak apa-apa.”

“Lalu..., apakah kamu trauma dengan hujan?” tanya Younghyun.

“Nggak, karena kejadiannya waktu aku berusia 5 tahun, tidak terlalu mempengaruhi ku.”

Younghyun diam tidak tahu mau merespon apa.

Suasana hening kembali dan hujan semakin deras.

Angin lewat dengan sangat kencang, Dowoon yang hanya memakai kaos tipis itu pun memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.

Younghyun yang melihat itu pun merasa kasihan. Lalu ia melepas jaket nya dan memberinya kepada Dowoon.

“Apa?” tanya Dowoon kebingungan.

“Pakai, kamu kedinginan.”

“Eh?”

“Nggak apa-apa, pakai aja, daripada sakit,” kata Younghyun.

“Terus kamu gimana?”

“Aku udah pakai sweater, kamu cuma kaos tipis.”

Dowoon menerima jaket itu dan memakai nya.

“Terima kasih, ....?”

“Ah, Younghyun, nama ku Kang Younghyun,” kata Younghyun sambil mengulurkan tangannya ke Dowoon.

Dowoon tersenyum dan menerima uluran tangan tersebut, “aku Yoon Dowoon, panggil Dowoon aja.”

“Terima kasih, Younghyun,” kata Dowoon kemudian.

“My pleasure, Dowoon.”

Younghyun melihat Dowoon masih kedinginan, entah mengapa ia ingin memberikan kehangatan kepada Dowoon.

“Kamu masih kedinginan?” tanya Younghyun.

Dowoon mengangguk.

“Geser kesini,” kata Younghyun. Dowoon pun bergeser lebih dekat dengan Younghyun.

Aroma parfum bayi yang berasal dari Dowoon pun memasuki indra penciuman Younghyun.

“Berikan tanganmu,” kata Younghyun. Dowoon memberikan tangannya.

Lalu tangan Dowoon di genggam oleh Younghyun.

“E-eh?”

“Apakah hangat?” tanya Younghyun.

Dowoon mengangguk dan telinganya memerah, “hangat, aku suka.”

Dowoon tidak berbohong, ia sangat suka dengan genggaman tangan Younghyun. Tangan nya tenggelam di balik tangan Younghyun, sangat nyaman dan hangat tentunya.

“Dowoon, wajah mu terkena cipratan air hujan,” kata Younghyun.

“Oh ya?” Dowoon mengusap wajahnya dengan asal.

“Jangan asal-asalan, hadap sini,” kata Younghyun.

Dowoon menghadapkan diri nya kepada Younghyun.

Younghyun mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap wajah Dowoon. Sedangkan Dowoon, hanya memperhatikan wajah Younghyun yang menurutnya tampan.

“Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Younghyun yang penasaran karena Dowoon menatapnya.

“Tidak, kamu tampan, mata mu indah,” kata Dowoon.

“Tiba-tiba?” Younghyun tertawa. Dowoon tersenyum dan masih menatap Younghyun.

“Kau juga imut,” kata Younghyun tiba-tiba.

Dowoon mengalihkan pandangannya kedepan, “jangan seperti itu.”

“Kenapa?”

“Aku malu.”

Younghyun tertawa.

“Jangan seperti itu, Younghyun, nanti aku suka padamu.”

“Dasar bermulut manis.”

Dowoon dan Younghyun tertawa.

“Kenapa semakin dingin?” Dowoon menggigil.

Younghyun tersenyum.

Younghyun melepaskan genggaman tangan nya. Lalu, kedua tangannya menangkup wajah Dowoon.

Dowoon tentu saja terkejut.

“Hangat nggak?”

“Kenapa bisa hangat seperti ini?” tanya Dowoon.

“Nggak tahu juga,” jawab Younghyun.

Dowoon memegang tangan Younghyun yang memegang wajahnya.

“Hangat banget, suka,” kata Dowoon.

Dowoon dan Younghyun sama-sama melihat wajah didepannya saat ini. Younghyun menatap Dowoon. Mata yang indah, suara yang khas, bibir merah muda natural yang semua perempuan inginkan, dan wangi bayi khas Dowoon.

Dowoon mendekatkan wajah nya ke Younghyun.

“Kau tampan,” kata Dowoon.

Younghyun tersenyum.

“Kamu wangi bayi, aku suka,” kata Younghyun.

Dowoon tiba-tiba memegang bibir Younghyun, “mau coba, boleh?”

Younghyun diam mencerna apa yang dikatakan Dowoon.

“Maaf, seperti nya aku terlalu lancang,” kata Dowoon yang melihat Younghyun diam. Dowoon menunduk malu.

Younghyun tiba-tiba Younghyun tersenyum mengerti.

“Dowoon,” panggil Younghyun.

Dowoon mengangkat kepala nya. Younghyun yang masih memegang wajah Dowoon itu pun langsung menariknya ke dalam sebuah ciuman.

Dowoon terkejut.

Younghyun melepaskan ciumannya dan tersenyum, “enak, rasa latte.”

“Curang, aku belum merasakan bibirmu.”

“Kalau mau lagi boleh, aku tidak melarang.”

Dowoon segera mencium Younghyun dan menyesap bibirnya.

“Enak, rasa mint,” kata Dowoon.

Younghyun tersenyum.

“Ingin lagi...,” kata Dowoon.

Younghyun tertawa gemas.

Lalu dua lelaki yang baru bertemu itu berciuman kembali dibawah halte yang ada hanya mereka berdua. Tepat saat itu juga, hujan berhenti.

Mereka melepaskan ciumannya setelah mereka kehabisan nafas.

“Hujan nya sudah berhenti,” kata Dowoon.

“Masih mau disini?” tanya Younghyun. Diam-diam mereka tidak ada keinginan untuk berpisah.

“Rumah mu dimana?” tanya Dowoon.

“Dekat pusat perbelanjaan, tiga kilometer dari sini.”

Dowoon melihat arlojinya, pukul 01.10.

“Bus udah nggak ada jam segini,” kata Dowoon.

Younghyun baru menyadari nya.

“Mau menginap di rumah ku?” tawar Dowoon.

“Nanti merepotkan, aku cari penginapan didekat sini aja.”

“Disini susah mencari penginapan, di rumah ku saja, dekat kok dari sini, aku juga tinggal sendiri.”

“Kamu nggak mau aku pergi ya?” goda Younghyun.

Dowoon memajukan bibirnya, “yasudah kalau kamu mau cari penginapan nggak apa-apa, aku pulang duluan.” Dowoon pun beranjak dari sana.

Younghyun menarik tangan Dowoon dan mendudukannya kembali.

“Kasih tau dulu alasannya kenapa aku harus menginap di rumahmu,” kata Younghyun.

“Aku masih kedinginan.”

“Terus?”

“Butuh kehangatan.”

“Memangnya tidak ada penghangat di rumahmu?”

“Ish, kamu memang tidak peka ya.”

Younghyun tertawa kecil.

“Aku butuh pelukanmu, Younghyun,” kata Dowoon tiba-tiba.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu nggak mau?”

“Kata siapa? Ayo kita ke rumah mu.”

Dowoon tersenyum senang. “Ayo.”

Dua orang yang baru saling kenal itu pun berjalan bergandengan tangan sambil menikmati dingin nya malam. Sangat unik, karena mereka baru saja bertemu.

Perkataan Younghyun memang benar, hujan adalah anugerah. Dowoon sangat berterima kasih kepada hujan di malam itu. Berkat hujan, ia bertemu dengan Younghyun.

Younghyun rasa kebahagiaannya lengkap sekarang. Hujan dan juga Dowoon yang ia temui saat hujan.

“Dowoon, kau tahu? Apapun yang berhubungan dengan hujan aku suka,” kata Younghyun.

Dowoon mengangguk, “tahu, kamu tadi udah bilang.”

Younghyun mengeratkan genggaman tangannya, “maka dari itu, aku menyukaimu, karena kita dipertemukan saat hujan.”

Telinga dan wajah Dowoon memerah.

“Apa nggak bisa kamu bilangnya saat di rumah? Jangan berbicara seperti itu disini, Younghyun, aku nggak mau di bilang gila karena senyum-senyum sendiri,” kata Dowoon.

Younghyun tertawa mendengar perkataan Dowoon.

'Terima kasih, hujan. Berkatmu aku menemukan seseorang yang tidak ingin aku tinggalkan.'


END

01/04/21, dwddablues.