Tentang Haris
“Mah, Haris berangkat ya,” kata Haris sambil salim.
“Hati-hati Ris, jangan ngebut,” kata sang ibunda. Haris mengangguk.
Haris merupakan anak tunggal. Ayahnya adalah seorang dokter dirumah sakit besar. Ibunya dulu seorang pengacara, namun kini menjadi ibu rumah tangga sejak Haris lahir.
Haris menjadi pusat perhatian ketika motornya memasuki area sekolah.
‘Dah biasa.’ batinnya.
Haris memarkirkan motor nya di sebelah motor Asa, sahabatnya sejak ia kelas 10.
Haris melangkahkan kakinya menuju kantin, dapat dilihat kelima sahabatnya sedang asik bercanda ditempat favorit mereka. Tempat itu ga boleh ditempatin siapa-siapa lagi selain mereka.
Elixir namanya. Nama itu dibuat sama Jo pas mereka lagi nobar Harry Potter dirumahnya Arkan waktu mereka kelas 10. Haris sih ikut-ikut aja, toh namanya bagus.
Elixir sendiri mulai diomongin orang pas Haris tanding basket disekolah, dari situ tiba-tiba Haris banyak fansnya. Fansnya sih kakak kelas semua soalnya dia baru kelas 10 saat itu. Sejak saat itu baru deh Elixir mulai terkenal, bahkan sekarang sampe ke beberapa sekolah.
Haris sendiri orangnya gampang risih sama yang caper ke dia, ga jarang dia nolak pemberian orang lain, entah itu dibuang, atau dia kasih ke temen-temennya. Haris ga pernah pacaran karena ga ada yang menarik perhatiannya.
“Oy Ris, gimana liburan lu?” tanya Jo ketika Haris sampai.
“Biasa aja,” jawab Haris.
“Elah Ris masih aja lu cuek begitu,” timpal Danny.
Haris hanya mendengus.
“Adek lo berarti kelas 11 ya Ar sekarang?” tanya Ajun kepada Arkan.
Arkan mengangguk, “iya dah kelas 11.”
“Mau liat Jiel ah, pasti nambah lucu,” kata Danny.
“Nambah ngeselin sih iya,” kata Arkan.
“Ayo ke kelas, dah mau bel,” kata Asa.
Lalu semuanya bergegas pergi.
“Gue ke mbak Tia dulu,” kata Haris pas istirahat.
Dilihatnya warung mbak Tia lumayan ramai. Kehadiran Haris mengundang perhatian.
“Ck, jangan liatin gue, mau gue colok mata lu?” kata Haris kepada 3 perempuan disebelahnya. Tidak lama kemudian warung mbak Tia sepi karena kedatangan Haris.
“Mbak pesen 1,” kata Haris.
Mbak Tia mengangguk, “yang lain mana Ris?”
“Tempat biasa,” mbak Tia mengangguk.
“Mbak Tia mau pesen nasi kuningnya 2 ya,” Haris menengok ke arah yang berbicara, ternyata Jiel, adik Arkan.
“Eh Jiel, apa kabar? Makin manis aja ih kamu,” kata mbak Tia.
Jiel terkekeh.
‘Manis,’ batin Haris.
“Baik kok mbak, mbak Tia gimana?”
“Alhamdulillah baik, ini 2 buat siapa aja?”
“Buat aku sama Juju mbak,” kata Jiel sambil tersenyum.
“Oke deh, tunggu bentar ya El, duduk dulu sini, mbak mau bikinin buat dia dulu nih,” kata mbak Tia sambil menunjuk Haris.
Jiel tersenyum, “iya mbak santai aja, aku duduk sini ya.”
Haris memperhatikan orang disebelahnya.
‘Jiel udah gede aja ya,’ batinnya lagi.
Haris dan Elixir berjalan menuju lobby sekolah. Tiba-tiba mereka mendengar suara yang mampu membuat orang disekitar lobby menengok.
“HAH?!” suara dan postur badan yang Haris kenali.
“Adek lu?” tanya Asa kepada Arkan.
“Kayaknya si iya,” kata Arkan.
“Goblok, kok kayaknya, itu emang adek lu,” kata Danny.
Arkan terkekeh.
“Kenapa itu dia?” tanya Ajun.
Arkan menggeleng, “samperin dah yok.”
Arkan menepuk bahu Jiel.
“Jangan bengong Jiel.”
Jiel kaget dengan wajah yang lucu menurut Haris.
“Tadi kenapa teriak-teriak El?” tanya Danny.
“E-eh, oh itu, tadi temenku tiba-tiba bisa bawa motor, aku kaget aja,” kata Jiel.
“Eh Jiel, lu kelas berapa deh?” tanya Jo.
“Aku kelas 11 IPA 2 kak,” sahut Jiel canggung.
“Gue mau ngumpul bentar, lu mau ikut ga?” tanya Arkan.
Jiel menggeleng
“Ngga dulu deh bang, Jiel pulang aja.”
Arkan mengangguk, “yaudah gih sana, ngapain masih disini?”
“Padahal abang yang nyamperin Jiel.”
“Yaudah Jiel pulang ya bang, kak Danny, kak Ajun, kak Jo, kak Asa, kak Haris, Jiel duluan ya,” kata Jiel sambil melambaikan tangan.
“Hati-hati Jiel,” kata Ajun.
Jiel mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkahkan kaki nya ke parkiran motor.
“Yuk cabut,” kata Jo.
Semuanya pergi kecuali Haris yang masih terdiam karena senyuman manis yang diberikan Jiel.