Senyum
Jiel turun dari motor CBR abangnya, lalu ia mengusap-usap bokongnya.
“Pantat gue sakit bang asli, ogah dah gue naik motor lu lagi,” kata Jiel. Arkan hanya terkekeh.
Arkan lalu masuk ke dalam cafe diikuti Jiel dibelakangnya.
“Halo Jiel,” sapa Ajun.
Jiel tersenyum. “Halo kak Ajun.”
“Sini duduk,” kata Jo mempersilahkan Jiel duduk ditempatnya.
“Eh? Gapapa kak?”
“Gapapa lu duduk situ, gue mau deket Asa,” kata Jo dengan suara pelan, Jiel terkekeh mendengarnya.
Jiel duduk disebelah Haris, didepannya ada Danny dan juga Arkan, disudut sebelah kiri ada Asa dan Jo, sedangkan disudut kanan ada Ajun.
“Jiel mau pesen apa?” tanya Asa.
“Apa ya?” dahi Jiel mengkerut karena berpikir.
“Aku mau nasi goreng seafood boleh? Minumnya mau lemon tea aja,” kata Jiel.
“Boleh, gue pesenin ya El,” kata Asa lalu berdiri menuju kasir.
“Makasih kak Asa,” Jiel tersenyum.
Lagi-lagi, Haris tak berkutik dari senyuman Jiel.