Tentang Jiel
Jam menunjukkan pukul 06.15, Jiel buru-buru memakai sepatunya. Karena ini hari Senin, sekolah mengadakan upacara pada pukul 06.45. Arkan sudah pergi sejak pukul 6 tadi karena ia akan menjemput pacarnya, Danny.
Jiel mengunci pintu rumah dan menaruhnya di pot dekat pintu. Jika kalian bertanya dimana orang tua Jiel, jawabannya adalah di Singapura. Yap, Jiel dan Arkan tinggal berdua dirumah yang cukup besar itu. Orang tua mereka dapat dikatakan sukses untuk saat ini karena mereka selalu giat bekerja, pulang pun jika mereka ingat. Maka dari itu Jiel suka kesepian ketika Arkan pergi ngumpul dengan teman-temannya.
Jiel menutup pagar dan menaiki motor scoopy nya lalu memulai perjalanan nya ke sekolah.
Jiel memasuki kawasan sekolah, dilihatnya para siswa dan siswi ajaran baru yang memakai seragam SMP mereka.
Setelah Jiel memarkirkan motornya di parkiran sekolah, ia menelpon sahabatnya.
“Juju, dimana?”
“Di depan aula El, sini gece,”
“Otewe.”
Tut. Telepon dimatikan. Jiel pun melangkahkan kaki nya ke aula.
“Enak banget ya hari ini jamkos terus,” kata Darel sambil berjalan ke kantin.
Jiel mengangguk. “Tapi belom tentu tau Rel, siapa tau nanti belajar.”
“Iya si, eh tadi lu berangkat sendiri?” tanya Darel.
“Ya iya lah, sama siapa lagi emang?” tanya Jiel heran.
“Kirain sama kak Arkan,” Juju menyambar.
“Ish, dia tuh sama pacarnya tau.”
Darel dan Juju mengangguk-angguk.
“Mau pesen apa ya?” tanya Jiel.
“Eh El gue ke situ yak, mau beli bakso,” kata Darel.
“Oke deh.”
“Juju mau pesen apa?” tanya Jiel.
“Lu mau nasi kuning ga?” tanya Juju.
Jiel mengangguk. “Ayo pesen.”
“Pesenin gue ya, gue beli minum, lu es teh kan?”
Jiel mengangguk.
“Mbak Tia mau pesen nasi kuningnya 2 ya,” kata Jiel sambil tersenyum.
“Eh Jiel, apa kabar? Makin manis aja ih kamu,” kata mbak Tia.
Jiel terkekeh.
“Baik kok mbak, mbak Tia gimana?”
“Alhamdulillah baik, ini 2 buat siapa aja?”
“Buat aku sama Juju mbak,” kata Jiel sambil tersenyum.
“Oke deh, tunggu bentar ya El, duduk dulu sini, mbak mau bikinin buat dia dulu nih,” kata mbak Tia sambil menunjuk satu orang yang duduk di warungnya.
‘Pantesan warung mbak Tia sepi, ada kak Haris ternyata, pada takut mau beli.’
Jika ditanya kenapa Jiel mengenali orang itu jawabannya karena Haris sendiri adalah sahabat Arkan. Haris sendiri adalah member Elixir, nama geng mereka. Beberapa kali Jiel melihat Haris dan Elixir di rumahnya untuk berkumpul. Haris memang ditakuti murid-murid karena tatapannya yang tajam juga perkataannya yang menohok. Namun disisi lain, diantara member Elixir, Haris lah yang paling banyak mempunyai penggemar karena wajahnya yang sangat tampan.
Jiel tersenyum, “iya mbak santai aja, aku duduk sini ya.”
Jiel pun duduk di sebelah Haris sampai sampai makanan nya selesai dibuat.
“Juju sama Darel pulang sama siapa?” tanya Jiel saat mereka sudah sampai depan lobby sekolah.
“Gue mah kan sama supir, eh itu dia udah dateng, gue duluan ya El, Rel, sampai jumpa besok, muah,” kata Juju lalu berlari ke arah mobil nya.
“Darel sama siapa?” tanya Jiel.
“Gue bawa motor El,” kata Darel.
“HAH?!” teriakan Jiel sangat kencang, bahkan geng Elixir yang beberapa meter dibelakang Jiel pun heran.
“Jangan teriak-teriak bego, kenapa sih,” kata Darel sambil membekap mulut Jiel.
“Bohong lu, ga percaya gue.”
“Ih El, seriusan, gue tuh pas libur kemarin belajar motor, kalau ga percaya tunggu sini dah, gue ke parkiran dulu.”
Jiel mengangguk. Dan betapa kaget nya ia melihat Darel mengemudi motor N-Max miliknya. Jiel ternganga.
“Hehe, percaya kan? Yaudah ya gue sekalian balik nih, lu hati-hati, dadah,” kata Darel.
Jiel masih ternganga, sampai akhirnya ada yang menepuk bahunya.
“Jangan bengong Jiel.”
Jiel kaget, lalu menoleh ke samping, ternyata Arkan dengan Elixir.
“Tadi kenapa teriak-teriak El?” tanya Danny.
“E-eh, oh itu, tadi temenku tiba-tiba bisa bawa motor, aku kaget aja,” kata Jiel.
Jiel kaget plus canggung juga, soalnya dia ga deket sama Elixir, kalau Elixir lagi kumpul dirumah juga Jiel cuma dikamar. Jiel ga sadar aja dia udah diperhatiin orang-orang seolah-olah bertanya ada apa Jiel dengan Elixir.
Satu sekolah belum mengetahui kalau Jiel adalah adik dari Arkan. Yang tau hanya Elixir dan juga kedua sahabat Jiel. Arkan dan Jiel sama-sama tidak mengumbar hubungan saudara mereka, tidak menyembunyikan juga, biar aja orang-orang sadar sendiri.
“Eh Jiel, lu kelas berapa deh?” tanya Jo.
“Aku kelas 11 IPA 2 kak,” sahut Jiel sambil tersenyum canggung.
“Gue mau ngumpul bentar, lu mau ikut ga?” tanya Arkan.
Jiel sontak menggeleng.
“Ngga dulu deh bang, Jiel pulang aja,” kata Jiel.
Arkan mengangguk, “yaudah gih sana, ngapain masih disini?”
Jiel mendelik, “padahal abang yang nyamperin Jiel.”
“Yaudah Jiel pulang ya bang, kak Danny, kak Ajun, kak Jo, kak Asa, kak Haris, Jiel duluan ya,” kata Jiel sambil melambaikan tangan.
“Hati-hati Jiel,” kata Ajun.
Jiel mengangguk dan tersenyum, lalu ia melangkahkan kaki nya ke parkiran motor.