geminaifourth

Hari Minggu siang, Elixir dan Jiel berkumpul diruang tamu rumah Danny.

“Gue mau ke Singapura,” kata Arkan tiba-tiba. Mata Jiel melotot. Masalahnya ini terlalu tiba-tiba.

“Ngapain?!” tanya Jiel.

“Ada urusan sama Mama Papa,” jawab Arkan.

“Kapan?”

“Berangkat besok pagi.”

“Berapa hari?” tanya Jiel.

“Paling lama seminggu.”

“Kok lama banget?! Jiel sendirian dong dirumah?!” protes Jiel.

“Nggak, lu bakal nginep dirumah Haris.”

“Hah?” Jiel bingung.

“Tadi pagi abang ke rumah Haris dulu minta izin ke orang tua nya buat nitipin lu, mereka ngizinin kok,” jelas Arkan.

“Eh kalau gitu gausah nginep bang, Jiel gapapa sendiri dirumah,” kata Jiel.

“Nggak, harus dirumah gue, nanti lu kenapa-kenapa Jiel, ga inget kejadian semalem?” kata Haris. Jiel melemas.

“Nurut ya? Gue gamau lu kenapa-kenapa dirumah sendirian, bisa-bisa pas abang pulang lu udah ga ada,” kata Arkan.

“Ngomongnya ih!” Danny menabok lengan Arkan.

“Bercanda, nurut ya Jiel?” kata Arkan.

Jiel menghela nafasnya, “yaudah.”

“Yaudah sekarang ayo kita pulang ke rumah dulu, beresin keperluan lu buat dibawa, gausah bawa motor dulu, lu berangkat-pulang sama Haris,” kata Arkan. Jiel mengangguk pasrah.

“Makasih ya kak udah dijajanin hehe,” kata Jiel setelah mereka sampai didepan rumah Jiel.

Haris mengangguk. “Sama-sama, dah sana masuk, gue tungguin dari sini, lu pasti takut kan?”

“Ih kak Haris,” Haris terkekeh dibuatnya.

Jiel lalu memasuki rumahnya. Namun, betapa terkejutnya ia menemukan dua burung yang kepala nya terputus diatas motornya dengan darah yang berceceran.

Jiel berteriak. Haris langsung menyusul Jiel ke dalam halaman rumah. Haris melotot begitu melihat itu. Lalu langsung memeluk Jiel yang gemetaran.

“K-kak itu…”

“Masuk dulu,” kata Haris tenang. Jiel mengambil kuncinya yang ia simpan dipot. Tangan Jiel gemetar, tak sanggup membuka kunci. Melihat itu, Haris langsung mengambil alih.

Haris mendudukkan Jiel disofa, lalu memberi minum untuk Jiel.

“Kak, takut…,” lirih Jiel.

Haris memegang tangan Jiel dan mengusapnya.

“Gausah takut, ada gue disini,” kata Haris lembut.

“Kita mau kemana kak?” tanya Jiel saat motor Haris berhenti di lampu merah.

“Jiel mau nya kemana?” tanya Haris.

“Bingung,” jawab Jiel.

“Mau nonton gak?” tawar Haris.

Jiel berpikir, “boleh deh.”

Lalu lampu berubah menjadi hijau dan motor Haris melaju ke arah Mall.

“Mau nonton apa?” tanya Haris saat mereka telah memasuki bioskop.

Jiel melihat jadwal film yang ada.

“Film itu mau ga kak? Lagi rame banget disekolah,” kata Jiel sambil menunjuk poster film horor yang berada di depan teater.

Haris menaikkan alisnya, “yakin? ga takut?”

Jiel menggeleng, “nggak, paling cuma kaget aja.”

Sebenarnya Jiel agak takut juga, tapi karena kepo filmnya seperti apa, Jiel mau tidak mau harus menonton.

Haris terkekeh, “yaudah ayo pesen tiketnya.”


Jiel dan Haris keluar dari teater dengan Jiel yang masih setia memegang lengannya semenjak film dimulai.

Haris mendudukan Jiel dikursi depan teater dan mengusap tangan Jiel yang masih setia memeluk lengannya.

“Serem banget kak,” lirih Jiel. Haris terkekeh dibuatnya.

“Katanya berani,” ledek Haris.

“Berani kalau ga serem.”

Haris mengacak rambut Jiel gemas.

“Laper gak? Mau makan apa?” tanya Haris.

“Mau udon boleh?” tanya Jiel dengan mata yang berbinar. Haris gemas melihatnya.

“Boleh, ayo,” Haris menggenggam tangan Jiel dan itu sukses membuat pipi Jiel bersemu.

Haris melangkahkan kakinya ke kantin bersama Arkan. Ia mendengus. Hari ini ada saja yang membuatnya kesal. Dari mulai anak remaja yang menyenggol bagian belakang motornya, orang-orang yang cari perhatian kepadanya, sampai lupa membawa airpods kesayangannya.

Haris mendudukan dirinya dibangku kantin. Dilihatnya Jo yang sedang merangkul Asa sedangkan Ajun dan Danny belum datang.

‘Cih, mesra-mesraan tapi kagak jadian’ batin Haris sebal.

“Kusut amat lo,” kata Jo. Haris hanya mengangkat bahunya malas.

“Kenapa dia?” tanya Jo kepada Arkan. Arkan hanya mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu.

Beberapa menit kemudian, Danny dan Ajun pun datang diikuti oleh Jiel dan kedua temannya.

“Kenapa?” tanya Arkan. Pasalnya Danny memasang wajah yang masam.

“Jiel dikerumunin sama cewek-cewek, mereka minta ke Jiel biar mereka deket sama kita,” kata Danny kesal.

“Jiel gapapa?” tanya Haris kepada Jiel yang sekarang duduk disebelahnya.

“Gapapa kak Haris,” kata Jiel sambil tersenyum manis yang membuat Haris ikut tersenyum.

‘Manis banget sih,’ batin Haris.

Saat mereka sedang asik makan, datang dua cewek yang salah satunya merupakan most wanted versi cewek disekolah mereka yang bernama Windy Pramitha.

“Hai kalian! Aku boleh join disini?” tanya Windy kepada Elixir.

“Hai kak Jo,” kata cewek di sebelah Windy.

Jo hanya mengangguk.

Jiel dan kedua temannya hanya diam, merasa tidak berhak untuk berbicara apapun.

“Nggak,” tolak Asa.

“Tapi tempat yang lain udah penuh,” kata Windy.

“Bukan urusan kita,” sahut Ajun.

“Tapi kan kita tem—,” ucapan Windy terputus.

“Bukan temen, gue ga kenal sama lo,” sahut Asa lagi.

“Asa kita seangkatan, aku, Haris sama Arkan juga temen sekelas,” kata Windy.

“Terus?” tanya Ajun.

“Daripada lu bikin gue kesel, mending pergi,” kata Arkan.

Windy menahan emosinya.

“Iya, selamat makan,” katanya lalu pergi.

“Dadah kak Jo, sampai ketemu lagi,” kata cewek yang disamping Windy. Jo tidak menanggapi.

“Bang Arkan kok gitu, kan kasian,” kata Jiel.

“Jangan kasian Jiel, meskipun dia cantik tapi mematikan,” kata Ajun.

“Cantik loh padahal,” kata Jiel.

“Ga tertarik, kita disini demen cowok semua,” sahun Jo.

Semuanya tergelak.

“Eh tapi tau ga sih, itu yang tadi disebelah kak Windy anak baru yang gue ceritain,” kata Darel.

“Siapa namanya?” tanya Juju.

“Zeline, anak 11 IPS 1,” jawab Darel.

“Jadi mau lu gebet Ju?” tanya Jiel.

Juju mendelik, “ogah, gue sukanya kak Yoga, lagi juga kayaknya dia suka kak Jo deh.”

“Ga demen gue,” sahut Jo.


Kelas Haris kini sedang melakukan olahraga baseball. Haris dan Arkan yang sudah selesai praktek menonton teman-temannya dari pinggir lapangan.

“Kantin ga?” tanya Haris kepada Arkan.

Arkan menggeleng, “gausah, gue udah minta Jiel beliin minuman, nanti anaknya nganterin.”

“Lah emang ga belajar dia nya?”

“Jamkos katanya.”

“Haris, nih minum buat kamu,” tiba-tiba Windy datang dengan 2 botol minuman ditangannya. “Satu lagi nih buat Arkan.”

“Ga usah, makasih,” kata Haris. Arkan hanya diam tidak menanggapi.

“Ih gapapa tau Ris, ini ambil,” kaya Windy.

“Nih,” Jiel tiba-tiba datang dan memberikan plastik belanjaannya kepada Arkan.

“Duduk sini dulu,” kata Arkan, Jiel menurut.

“Ih Jiel, kok abis olahraga dibeliin cola? Ga boleh tau, bahaya, mending air mineral aja, kayak gini,” kaya Windy sambil memamerkan botol minumnya.

Jiel mengangkat alisnya, “tapi—.”

“Buang aja itu Jiel, aku udah bawain air mineral kok buat mereka,” kata Windy.

“Gue yang nyuruh, ga usah protes,” kata Arkan.

“Tapi Ar, sebagai adek harusnya Jiel tau mana yang baik dan nggak buat abangnya,” kata Windy.

‘Agak ngeselin juga ya,’ batin Jiel.

“Lo bacot banget sih? Gausah ngatur, emang lo siapa?” kata Haris.

Windy mendengus lalu pergi meninggalkan mereka.

“Gausah dipikirin,” kata Arkan lalu pergi ke lapangan karena dipanggil oleh guru olahraganya.

“Jiel?” panggil Haris.

“Ya kak?”

“Jangan dipikirin omongan Windy ya,” kata Haris sambil mengusap rambut belakang Jiel.

Jiel mengangguk.

“Kok tumben mau disuruh Arkan?” tanya Haris.

“Dapet duit hehe,” kata Jiel cengengesan.

Haris menatap Jiel dari samping. Ia terhipnotis dengan senyuman Jiel yang sedang melihat ke arah lapangan.

“Aku baru sadar,” kata Jiel tiba-tiba.

“Apa?”

“Bang Arkan lumayan ganteng ya.”

Haris terkekeh, “kalau ga ganteng mana mungkin diincer sama banyak cewek, mana mau juga Danny sama dia.”

“Iya sih.”

“Kalau gue gimana?” tanya Haris. Jiel menoleh.

“Apa?”

“Ganteng gak?” tanya Haris.

Jiel tersenyum manis, “ganteng kok.”

Haris terkekeh, “gantengan mana sama Arkan?”

“Gantengan kak Asa,” jawab Jiel.

“Heh,” Jiel terkekeh.

Haris lagi-lagi terpesona. Hanya Jiel yang mampu membuatnya seperti itu. Hanya Jiel yang mampu membuat hari Haris kembali cerah. Ya, hanya Jiel.

“Kak, Jiel ke kelas dulu ya, udah mau masuk ke pelajaran selanjutnya,” Haris mengangguk.

Tiba-tiba dari arah samping terlempar sebuah tongkat baseball ke arah Jiel, hal itu sontak membuat Haris berlari ke arah Jiel lalu memeluknya agar Jiel tidak terkena lemparan tersebut.

“Aish,” Haris meringis karena tongkat baseball tersebut mengenai punggungnya.

Haris menengok ke arah datangnya tongkat baseball tersebut, namun nihil, ia tak menemukan siapapun disana.

Jiel shock. Murid-murid yang berada di lapangan menonton kejadian tersebut.

“Jiel gapapa?” tanya Haris.

Jiel menggeleng.

“K-kak Haris…,”

“Gue gapapa, ayo gue anter ke kelas,” Jiel menggeleng.

“Ke UKS,” kata Jiel.

“Jiel.”

“Ke UKS kak Haris,” Haris menghela nafasnya dan menatap tangannya ditarik oleh Jiel ke UKS.

Jiel memakan bakso nya lahap. Hari ini dia tidak makan bersama Elixir karena Elixir berada ditribun, Jiel malas untuk pergi kesana.

“Minggu depan gue udah mulai eskul,” kata Juju.

“Lah? Bukannya ga jadi?” tanya Darel.

“Hehe, waktu itu pas mau ketemu kak Dika gue juga ketemu ketuanya, ganteng, jadinya gue gamau keluar,” kata Juju.

“Yeu dasar! Namanya siapa?” tanya Jiel.

“Kak Yoga, seriusan ganteng banget,” kata Juju.

“Ya pepet lah,” kata Darel. Juju mengangguk semangat.

Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba kerah baju Jiel ditarik dari belakang yang membuat Jiel tersedak.

Jiel menoleh. Ternyata seorang perempuan yang menariknya dengan 2 teman disampingnya.

“Heh lu siapa? Main tarik aja baju orang, kalau Jiel ketelak bakso gimana? Mau tanggung jawab?” kata Darel marah.

“Haha ga peduli sih gue, yang gue cuma mau bilang lu gausah deket-deket Elixir lagi ngerti ga?” kata perempuan yang bernama Rea itu.

“Kok ngatur?” tanya Jiel.

“Eh berani ya lu sama kakak kelas,” kata temannya yang bernama Nia.

“Sama-sama makan nasi, ngapain takut,” sahut Jiel.

“Belagu lo anjing, jauhin Elixir sekarang juga, lo ga ada hak deket-deket dia,” kata temannya lagi yang bernama Berta.

Jiel hanya mengangkat bahu malas lalu melanjutkan acara makannya.

Ketiga orang itu geram dan Rea langsung menjambak rambut Jiel.

“Lepasin anjing tangan lo!” kata Darel. Juju pun berusaha memisahkan tangan Rea dari kepala Jiel. Namun dihalangi oleh Nia dan Berta.

Kejadian itu ditonton oleh seluruh warga kantin tanpa berniat menolong, bahkan ada yang mengambil video.

Jiel mencengkram tangan Rea diatasnya, namun Rea semakin menarik rambut Jiel.

Tiba-tiba dari ujung kantin Elixir datang ke arah Jiel.

Rea otomatis melepaskan tangannya dari kepala Jiel.

“Lu kenapa Jiel?” tanya Arkan.

“Arkan liat, tangan gue abis dicengkram sama dia, sakit banget,” kata Rea mengadu kepada Arkan.

“Heh anjing, lo duluan yang jambak Jiel,” kata Darel.

Arkan mendengus malas.

“Ada yang videoin gak?” tanya Ajun.

Hening.

“Gue tanya ada yang videoin gak?!” marah Ajun.

“S-saya kak,” kata seorang perempuan.

“Bawa sini,” kata Ajun. Perempuan ini memberikan handphone nya kepada Ajun, lalu Ajun menunjukkan video tersebut kepada Elixir.

Arkan tertawa remeh. Wajah Rea dan kedua temannya sudah pucat pasi.

Danny menghampiri Jiel, berdiri dibelakangnya sambil mengusap kepala Jiel.

“Sakit?” tanya Danny.

Jiel mengangguk. “Dikit.”

Asa menghampiri Juju dan Darel yang tengah tersulut emosi dan langsung mendudukan mereka berdua dan merangkulnya.

“Jangan emosi,” kata Asa yang mampu membuat Darel dan Juju terdiam. Agak takut juga sebenernya.

“Lu cewek, ngapain ngejambak cowok? Cowok main tonjok, bukan main jambak,” kata Arkan.

“Ya untung Jiel ga nonjok lu, walaupun muka lu tonjokable,” kata Ajun.

“Kasih kita alasan kenapa lu ngejambak Jiel,” kata Jo.

“A-anu—,”

“Gausah terbata-bata, ga pantes,” kata Haris.

Rea ketakutan.

“Lama lo, cepet ngomong,” kata Ajun.

“G-gue sebel sama dia! Soalnya udah deket-deket Elixir, ga pantes!” kata Rea.

“Kenapa ga pantes?” tanya Asa.

“Ya dia orang baru tiba-tiba deketin kalian, dianterin Haris, minjem hoodie ke Arkan, caper banget!” kata Rea.

Elixir tertawa sarkas.

“Lo yang nyiram Jiel juga?” tanya Arkan.

Rea mengangguk.

“Iya, kenapa? Dia basah kuyup dan minjem hoodie lu seenaknya, apalagi kalau bukan caper?”

Arkan tertawa sangat kencang.

“Bang, udah,” kata Jiel.

Rea mengangkat alisnya tanda bingung.

“Belum selesai,” kata Arkan.

Jiel menghela nafasnya.

“Rea dengerin ya, eh ga Rea doang, semuanya yang ada disini dengerin,” kata Arkan.

“Gue, Arkananta Melviano Adhitama, adalah abang kandung dari Aziel Kalandra Adhitama, orang yang dijambak barusan,” kata Arkan penuh penekanan.

Seluruh warga kantin terkejut, begitupun Rea dan kedua temannya.

“B-bohong, gue ga percaya!” kata Rea.

Lalu Arkan membuka ponselnya dan menunjukkan semua fotonya bersama Jiel dan kedua orang tuanya.

“Gimana? Malu gak? Malu ya hahahah,” kaya Arkan.

“Malu sama iri sih Ar, malu karena salah pilih target dan iri karena tau Jiel adek lu dan bisa deket sama Elixir,” kata Jo.

Arkan terkekeh.

You mess with wrong person, Rea, gue pastiin abis ini lo ga bakal tenang disekolah,” kata Arkan.

“Dan buat semuanya, jangan ada yang gangguin Jiel dan dua temannya, Juju sama Darel, kalau ada yang sampe nyakitin mereka, siap-siap lu berurusan sama Elixir,” lanjutnya kepada seluruh warga kantin.

Lalu Elixir membawa Jiel, Juju, dan Darel pergi dari sana meninggalkan Rea dan kedua temannya yang diselimuti rasa malu.

Jiel dibawa oleh Elixir ke ruang musik sekolah yang sudah menjadi hak paten mereka karena itu didonasikan oleh papa nya Danny.

“Lu berdua masuk kelas aja, nanti bilangin Jiel ada di UKS,” kata Arkan kepada Juju dan Darel. Mereka berdua mengangguk lalu pergi.

“Coba ceritain,” kata Arkan setelah Jiel duduk disofa.

Jiel menghela nafas, “ya gitu, tadi Jiel lagi makan bakso enak-enak, dia tiba-tiba narik kerah Jiel.”

“Kenapa ga dilawan?” tanya Arkan.

“Ya itu udah ngelawan, tangannya udah Jiel cengkram, Jiel gamau lebih kasar lagi soalnya dia cewek.”

“Masih laper ga?” tanya Arkan.

Jiel mengangguk. “Tadi bakso nya belom abis.”

Lalu Arkan keluar dari ruang musik bersama Danny untuk membelikan makanan untuk Jiel.

Yang tersisa diruang musik hanya Asa yang tidur disofa sebrang Jiel dengan Jo yang juga tertidur dipaha Asa dan Haris yang terduduk di sebelah Jiel. Ajun sedang keluar entah kemana.

“Masih sakit ngga?” tanya Haris.

“Dikit, agak pusing juga sih,” kata Jiel.

“Sini,” kata Haris.

“Hah?”

Haris langsung merebahkan Jiel diatas pahanya lalu mengusap kepala itu lembut.

Jiel yang mendapat serangan mendadak tersebut langsung terdiam.

Beberapa menit berlalu, Haris masih setia mengusap kepala Jiel sambil memainkan handphone nya.

Jiel menatap wajah diatasnya.

‘Ganteng,’ kata Jiel dalam hati.

“Jangan liatin gue terus, gue tau gue ganteng,” kata Haris tiba-tiba.

Jiel gelagapan.

“Siapa juga yang liatin, ih kak Haris pede banget kayak Darel,” kata Jiel sambil memajukan bibirnya.

Haris terkekeh.

“Gue boleh follow twitter lu?” tanya Haris.

“Ya boleh aja kak,” kata Jiel.

Haris tersenyum dan itu sukses membuat Jiel tersipu.

Lalu tidak lama kemudian Arkan dan Danny datang membawa makanan untuk Jiel yang langsung disantap oleh Jiel.

“Makasih ya kak,” kat Jiel setelah mereka sampai parkiran sekolah. Beruntungnya mereka tidak telat karena jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang.

“Bareng ke dalemnya,” kata Haris. Jiel mengangguk. Lalu mereka berjalan berdua masuk kedalam sekolah.

Siswa dan siswi yang berada disekitaran mereka melongo tidak percaya. Karena mereka baru kali ini melihat Haris membonceng orang lain selain Elixir.

“Mau langsung ke kelas?” tanya Haris.

Jiel mengangguk.

“Aku ke kelas dulu ya kak, sekali lagi makasih, dadah,” Jiel melambaikan tangannya kepada Haris yang langsung Haris balas dengan senyuman.


Berita Jiel yang dibonceng oleh Haris kesekolah sudah tersebar luas. Banyak yang mengasumsikan bahwa Jiel mempunyai hubungan lebih dengan Haris. Jiel sih tidak begitu peduli, terserah saja orang mau ngomong apa.

Sekarang Jiel sedang berjalan ke kamar mandi, ia membiarkan Darel dan Juju pergi ke kantin duluan.

Ketika Jiel selesai buang air, tiba-tiba ada yang menyiram Jiel dari luar.

Jiel terkejut. Tubuhnya basah kuyup.

Jiel membuka pintu kamar mandi lalu mencari orang yang sudah menyiramnya tersebut.

“Aish, ga beruntung banget gue hari ini,” kata Jiel sambil memanyunkan bibirnya.

Jiel bingung ingin mengganti bajunya dengan apa karena ia tidak membawa hoodie dan baju olahraga. Kedua temannya pun begitu.

Jiel cemberut lalu melangkahkan kaki ke kantin.

“Loh Jiel kok basah kuyup?” tanya Juju ketika Jiel sampai dihadapan Darel dan Juju.

“Gue disiram dari luar kamar mandi, gatau siapa yang ngelakuin, lu berdua tunggu sini deh ya, gue mau pinjem hoodie ke abang gue dulu,” jelas Jiel.

“Abang,” panggil Jiel ketika dia sampai dimeja Elixir.

“Kok lu basah banget?” tanya Arkan heran.

Jiel cemberut. “Nanti Jiel ceritain, Jiel boleh pinjem hoodie nya gak bang? Dingin.”

Arkan langsung melepas hoodie nya dan memberikannya kepada sang adik.

“Tunggu bentar ya bang, Jiel ganti dulu, nanti Jiel kesini lagi.”

Arkan mengangguk.

Setelah Jiel mengganti seragamnya, Jiel mengajak Juju dan Darel untuk duduk ditempat Elixir.

“Lu duduk duluan aja, kita pesen makanan,” kata Darel. Jiel mengangguk.

“Jadi kenapa?” tanya Arkan.

“Tadi Jiel lagi buang air, terus pas Jiel mau keluar tiba-tiba ada yang siram Jiel, pas Jiel keluar ga nemu siapa orangnya,” jelas Jiel.

“Kok bisa? Lu ada salah ga sama orang?” tanya Ajun.

Jiel menggeleng. “Ngga, ngga punya hutang juga, Jiel main juga sama Juju Darel doang.”

Juju dan Darel kemudian datang membawa pesanan mereka dan langsung disantap oleh 3 sekawan itu.

“Pasti ga mungkin sih kalau nyiram Jiel tanpa alasan gitu,” kata Jo tiba-tiba yang disambut anggukan oleh yang lain.

Jiel mengangkat bahunya, “gatau deh, mungkin ini lagi hari sialnya Jiel aja, udah motor ga bisa dinyalain dan sekarang disiram sama orang.”

“Lu pulang sama gue,” kata Arkan.

Jiel menggeleng, “gausah, abang kan hari ini futsal.”

“Gapapa, gue izin bentar.”

“Kalau gitu Jiel sama gue aja,” kata Haris. Semuanya menengok.

“Gausah kak—,” ucapan Jiel diputus. oleh Haris.

“Gue udah jemput lu, gue harus anter balik lagi.”

Jiel hanya bisa mengangguk mengiyakan.

“Yaudah deh.”


Jiel menunggu Elixir diparkiran motor sambil menenteng helm nya. Semua pasang mata menatap ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya. Jiel tidak memperdulikan hal tersebut.

Tidak lama kemudian, Elixir datang.

“Udah lama?” tanya Haris.

Jiel menggeleng.

“Ris, makasih udah anter adek gue,” kata Arkan. Haris mengangguk.

“Ayo naik,” kata Haris. Lalu Jiel memakai helm nya dan menaiki motor Haris.

“Duluan ya bang, kak Danny, kak Ajun, kak Jo, kak Asa,” kata Jiel.

“Hati-hati, jangan ngebut Ris,” kata Danny. Haris mengangguk.

“Pegangan,” kata Haris. Jiel kemudian memegang pinggang Haris.


“Kak Haris, sekali lagi makasih banyak ya,” kata Jiel setelah sampai dirumahnya.

Haris mengangguk, “sana masuk, mandi pake air hangat, jangan lupa makan, kalau pusing langsung minum obat.”

Jiel terkekeh, “iya pak dokter.”

Haris tersenyum tipis, “gue balik ya.”

“Hati-hati kak,” lalu Haris pergi dengan motornya.

“Jiel gue berangkat duluan ya,” kata Arkan.

“Masih jam 6 kurang, abang mau ngapain ke sekolah pagi-pagi?” tanya Jiel yang baru keluar kamar mandi.

“Kan jemput Danny dulu, terus gue belom kerjain tugas ekonomi, mau kerjain dulu disekolah.”

“Dih dasar pemalas, yaudah sana,” usir Jiel. Lalu Arkan keluar dari rumah mereka.

Pukul 06.30, Jiel mengunci pintunya dan tak lupa menyimpannya dipot dekat pintu. Lalu ia menyalakan motornya. Namun motornya itu tidak kunjung menyala.

“Ini motor gue kenapa?!” tanya Jiel.

“Haduh bro, jangan sekarang deh, udah mau telat nih,” lanjutnya.

Jiel menyalakan motornya berkali-kali, namun nihil.

Terpikir olehnya untuk naik angkot saja namun pasti telat.

“Ojol aja kali ya? Tapi gue ga ngerti caranya,” fyi, Jiel belum pernah naik ojol.

Akhirnya Jiel memutuskan untuk mengirim pesan kepada Arkan cara memesan ojol.

“Tumben abang lu ngajak makan bareng?” tanya Juju.

“Gatau tuh,” jawab Jiel malas.

Ketiga sekawan itu memasuki lapangan indoor yang sepi karena sekarang waktu istirahat. Jiel dan kedua temannya berjalan keatas tribun menuju Elixir.

“Ngapain sih bang?” tanya Jiel.

“Makan lah disini,” jawab Arkan.

Jiel memutar matanya malas. Lalu ia duduk disebelah kanan Arkan disusul oleh kedua temannya. Dibelakang Jiel ada Haris dan Asa, disebelah kiri Arkan ada Danny, dan dibawah Jiel ada Ajun dan Jo.

“Tau ga sih, ternyata eskul yang dibilang pak jaka ga wajib,” kata Darel setelah makanannya habis.

Juju tersedak air minumnya, “kok ga bilang dari kemarin sih?!”

“Gue aja baru tau semalem,” kata Darel.

“Tau dari mana Rel?” tanya Jiel.

“Dari Adam hehe, katanya Adam pak Jaka sengaja ngomong gitu biar semua murid aktif ikut eskul, tapi realitanya kita ga diwajibin kok,” kata Darel.

“Yah…,” Juju memajukan bibirnya.

“Kenapa Ju? Lu udah pilih eskul?” tanya Jiel.

“Iya…, bahasa Jepang,” Juju kembali memajukan bibirnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA,” tawa Darel meledak.

“Gede banget anjir,” Juju menabok lengan Darel.

“Gue kira lu milih taekwondo?” tanya Jiel.

“Kan taekwondo mah udah didaftarin ditempat lain sama papa, jadi gausah ikut lagi yang disekolah.”

“Terus itu gimana eskulnya? Gabisa dibatalin kah?” tanya Darel.

Juju menggeleng, “ngga tau, gue mau batalin tapi ga tau muka ketua club nya, kemarin waktu daftar cuma ketemu wakilnya doang, mukanya agak galak gitu, tapi baik sih.”

“Siapa?” tanya Jiel.

“Kak Dika, Mahardika Fabian,” jawab Juju.

Mendengar nama Dika disebut, Ajun menoleh.

“Dika 12 IPS 3?” tanya Ajun.

Juju mengangguk.

“Demi apa dia wakil ketua club bahasa Jepang? Wah Ju, lu harus bantuin gue,” kata Ajun.

“Bantuin apa kak?”

“Deketin gue sama Dika.”

“Gimana caranya?”

Ajun berpikir. Suatu ide terlintas dikepalanya.

“Gini deh, sekarang lu ikut gue ke ruang club bahasa Jepang, lu mintain id kkt atau sosmed nya Dika, nah gue yang bilang ke ketuanya kalau lu ga jadi join club, gimana?” tawar Ajun.

“Emang kak Ajun tau ketuanya siapa?” tanya Juju.

“Gampang itu mah, mau ga nih?”

Juju tersenyum, “boleh deh kak, ayo.”

Ajun dan Juju pergi meninggalkan mereka.

“Temen lu bucin,” kata Jo kepada Elixir.

“Temen lo juga bego,” Danny menoyor kepala Jo.

Jiel menolehkan kepalanya ke arah Darel yang kini tengah sibuk bermain hp sambil tersenyum.

Kepo, Jiel melihat siapa yang sedang bertukar pesan dengan Darel. Seketika matanya terbuka.

“Cie Darel cie, ngapain ngirim emot love ke Adam? Suka ya?” suara Jiel yang terbilang kencang membuat Elixir menoleh.

“Darel suka sama si ketos?” tanya Jo.

“Eng-enggak! Jiel fitnah banget lu, dah ah males gue mau balik aja, bye!” kata Darel lalu pergi meninggalkan Jiel dengan wajah yang memerah.

Jiel tertawa, “selamat mengejar cinta!” teriaknya kepada Darel.

“Jiel,” panggil Arkan.

“Kenapa bang?”

“Kalau ada yang jahatin lu bilang ya ke gue? Enggak ke gue aja, lu bisa bilang ke temen-temen gue.”

Jiel menaikkan sebelah alisnya, “emang kenapa bang? Lagian juga kalau ada yang jahatin Jiel bakal Jiel lawan.”

“Ya kalau masih dalam batas wajar silahkan lu lawan, tapi kalau udah pake kekerasan lu harus bilang ke kita, ngerti?” kata Arkan.

Jiel mengangguk, “iya abang.”

“Ayo balik, udah mau masuk,” kata Asa lalu pergi meninggalkan tribun dan disusul oleh yang lain.

“Jiel,” panggil Haris.

Jiel menoleh, “kenapa kak?”

“Boleh minta id kkt lu? Biar ada apa-apa gampang, kalau abang lu ga bisa dihubungin nanti ke gue aja chatnya,” kata Haris sambil menyodorkan handphone nya.

Jiel mengangguk, “boleh.” Lalu Jiel mengetik id nya diponsel Haris dan menambahkannya sebagai teman.

“Udah kak.”

Haris tersenyum. “Ayo balik.”

Jiel berbalik lalu diikuti oleh Haris dibelakangnya.

Jiel hampir terjatuh dianak tangga, namun tangan Haris dengan sigap menarik lengan Jiel.

“Hati-hati,” kata Haris.

Jiel menelah ludah. Jantungnya berpacu dengan cepat.

“Makasih kak,” kata Jiel dengan wajah yang memerah.

Haris tersenyum tipis melihatnya.

“Jiel, ikut gue yuk?” ajak Arkan.

“Kemana bang?” Jiel yang sedang menonton film menghentikan kegiatannya.

“Main pees dirumah nya Danny, bareng Elixir juga,” kata Arkan.

“Kenapa ga disini? Biasanya kan disini.”

“Bosen lah disini terus, yuk ikut? Lu sendirian nanti, digondol hantu yang ada.”

“Sembarangan.”

“Ikut ya? Lagi juga besok hari Minggu, tenang aja, banyak makanan disana, kalau lu gabut ya tidur aja, gue gamau lu sendirian disini,” kata Arkan.

Sebenarnya Jiel ingin menolak permintaan Arkan karena ia tidak terlalu dekat dengan Elixir, namun melihat Arkan yang sedikit memohon ini membuat ia mengurungkan niatnya.

“Yaudah deh iya, tunggu bentar, gue ganti baju dulu,” kata Jiel. Arkan tersenyum lalu keluar dari kamar Jiel.


Pukul 7 malam, Jiel dan Arkan sampai dirumah Danny. Mereka masuk ke dalam rumah Danny, tak lupa mereka menyapa kedua orang tua Danny.

“Masuk aja ke kamarnya, tadi Ajun sama Haris udah dateng,” kata mama nya Danny. Arkan mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu pamit ke kamar Danny.

“Eh ada Jiel,” sapa Danny ketika Arkan dan Jiel membuka pintu kamar Danny.

“Hehe, gapapa kan kak aku ikut?” tanya Jiel.

“Ya gapapa dong, ayo duduk, anggap aja rumah sendiri ya,” kata Danny. Jiel tersenyum.

Jiel mendudukkan dirinya disofa kamar Danny. Ia melihat Ajun yang sedang bermain pees dan Haris yang sedang duduk dibalkon kamar Danny.

Tak lama kemudian, Jo dan Asa datang.

“Eh ada Jiel, tumben?” kata Jo.

Jiel terkekeh, “kak Arkan maksa, takut aku digondol hantu katanya.”

Mereka tertawa.

Beberapa menit sudah terlewati, Jiel pun merasa bosan. Dilihatnya Haris yang masih betah dibalkon.

“Haris emang suka gitu, suka menyendiri,” kata Asa tiba-tiba.

Jiel menoleh ke Asa yang berada di sampingnya.

“Padahal temennya banyak disini,” kata Jiel.

Asa tersenyum tipis.

“Boleh aku samperin gak?” tanya Jiel kepada Asa.

“Ya boleh? Siapa yang larang,” kata Asa. Jiel mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke balkon.

Haris agak terkejut melihat kehadiran Jiel disini.

“Kok lu disini?” tanya Haris.

“Aku dari tadi bareng abang disini,” jawab Jiel. Haris menengok ke dalam, teman-temannya sudah berkumpul.

“Aku boleh duduk disini?” tanya Jiel menunjuk bangku di sebelah Hari.

Haris mengangguk.

“Kak Haris kenapa disini?” tanya Jiel.

“Ngadem, lu ngapain disini?” Haris bertanya balik.

“Nemenin kak Haris.”

Haris menaikkan alisnya heran. “Kenapa?”

“Kak Haris sendirian kayak orang ga punya temen aja, yaudah aku temenin,” sahut Jiel yang membuat Haris terkekeh.

“Gue emang begini Jiel.”

“Harusnya selagi ada temen kak Haris berbaur, jangan diem begini.”

“Kok ngatur?”

“Nggak ngatur, ngasih saran.”

Jawaban Jiel membuat Haris tersenyum entah kenapa. Sayangnya senyuman itu tidak disadari oleh Jiel.

“Iya Jiel.”

Jiel beranjak dari duduknya dan berjalan ke pagar besi didepannya, lalu menatap bintang.

Jiel mendengar suara heboh dan tertawa dari dalam kamar Danny. Jiel tersenyum. Hidupnya yang hanya diisi oleh keberisikan Juju dan Darel kini juga diisi oleh Elixir. Jiel hampir tidak mengalami kesepian lagi.

Tiba-tiba dari belakang ada yang menaruh jaket ditubuh Jiel.

“Dingin Jiel, lu ga pake jaket?” tanya Haris.

Jiel masih memproses kejadian ini. Jantungnya tiba-tiba berpacu cepat.

“Jiel?” panggil Haris.

“E-eh, iya kak kenapa?” Jiel gelagapan.

“Lu kesini ga pake jaket?”

“Pake kok, ada didalem, aku copot tadi,” kata Jiel.

Jiel menguap tiba-tiba.

“Lu ngantuk?” tanya Haris.

Jiel menggeleng, “jam berapa kak?”

Haris melihat jam tangannya, “sembilan.”

‘Kok jam segini udah ngantuk ya? Padahal biasanya jam sebelas baru ngantuk,’ batin Jiel.

Tiba-tiba Haris membawa Jiel ke dalam kamar.

“Arkan adek lu udah ngantuk,” kata Haris.

Jiel melotot kepada Haris.

“Eh? Jiel tidur duluan aja dikasur,” kata Danny.

Jiel menggeleng, “belom ngantuk kak, kak Haris ngada-ngada.”

“Yaudah kalau ngantuk tidur aja di kasur ya,” kata Danny, Jiel mengangguk.

“Cepu ih males,” kata Jiel lalu duduk disofa.

Haris terkikik lalu menyusul Jiel duduk disofa.

“Jangan ngambek, ga pantes,” kata Haris.

“Siapa yang ngambek?” tanya Jiel. Bibirnya manyun. Baru sadar dia tuh kalau Haris agak nyebelin.

“Jiel yang ngambek.”

“Nggak.”

Jiel memperhatikan Ajun yang sedang bermain pees bersama Arkan dan Danny, dilihatnya juga Jo dan Asa sedang menonton film dari laptop dengan kepala Jo yang bersandar dibahu Asa.

“Kak, kak Jo sama kak Asa pacaran?” tanya Jiel kepada Haris pelan.

“Kenapa kok nanya gitu?”

“Abisnya mesra banget, aku juga sering liat mereka berduaan.”

“Ngga pacaran, mereka berdua temenan dari SMP, Jo suka Asa, tapi gatau Asa nya,” kata Haris.

Mata Jiel membulat lucu.

“Kasian friendzone,” kata Jiel.

Haris hanya tertawa tipis.

Waktu menunjukkan pukul 10. Haris yang sedari tadi bermain ponsel pun dikejutkan dengan bahu nya yang tiba-tiba ditiban kepala Jiel.

Haris melihat Jiel. Tertidur.

Haris tersenyum tipis, lalu membenarkan posisi duduknya dan membaringkan Jiel diatas pahanya.