Traktir

“Lu beneran mau traktir kak Haris hari ini?” tanya Juju saat mereka berjalan menuju kantin. Jiel mengangguk.

“Mending tanya dulu deh El dia suka makan apa, ntar udah lu pesenin dia malah ga makan,” kata Darel.

“Semalem udah gue tanya kok ke kak Arkan, suka makan bakso katanya,” kata Jiel.

Ketiganya telah sampai dikantin, kamtin sangat penuh saat ini.

“Kalian pesen apa? Gue mau pesen bakso juga soalnya,” kata Jiel.

“Sekalian aja deh gimana? Biar cepet,” kata Darel. Juju dan Jiel mengangguk.

Setelah pesanan mereka jadi, Darel membawa nampan bakso mereka ke arah Elixir duduk.

“Buat kak Haris,” kata Jiel tiba-tiba sambil menyerahkan semangkuk bakso dan segelas es jeruk.

Aksi Jiel tersebut menyita perhatian para warga kantin.

Para anggota Elixir menatap Jiel heran, kecuali Arkan tentunya.

“Kenapa?” tanya Haris.

“Mau gantian traktir kak Haris, soalnya kemarin aku udah ditraktir,” kata Jiel.

“Cie Haris udah traktir Jiel,” goda Jo. Haris tidak memperdulikan Jo.

“Kan udah gue bilang gausah Jiel,” kata Haris.

“Jiel ga enak kak Haris,” kata Jiel.

“Dimakan ya kak, Jiel sama temen-temen pamit dulu,” lanjut Jiel sambil tersenyum.

Arkan menahan tangan Jiel. Aksi Arkan membuat para warga kantin terkejut sekaligus bingung.

“Makan disini aja, lu mau makan dimana penuh gitu,” kata Arkan.

Jiel menatap isi kantin, benar semua kursi sudah terisi penuh. Kemudian Jiel menatap kursi yang diduduki Elixir saat ini, masih tersisa beberapa tempat untuk dia makan.

“Iya Jiel sini aja gapapa,” sahut Danny.

“Eh? Tapi aku sama Darel Juju,” kata Jiel.

“Gapapa lah, udah sini aja,” kata Jo.

Jiel menatap Darel dan Juju. “Gapapa?”

“Gapapa Jiel, daripada kita makan berdiri,” kata Juju yang disetujui oleh Darel.

“Nah tuh gapapa, udah sini El,” kata Ajun.

Jiel tersenyum.

“Duduk sini,” kata Haris menggeser tubuhnya.

Jiel mengangguk lalu duduk disebelah Haris. Lalu disusul Juju dan Darel disebelahnya.

Jiel, Juju, dan Darel diperhatikan oleh seluruh siswa dan siswi dikantin. Ada yang memperhatikan dengan tatapan bertanya, tatapan cemburu, tatapan kagum, bahkan tatapan benci.

Jiel memakan baksonya dengan lahap, Haris yang sudah memakan baksonya menatap Jiel gemas.

Bahunya dicolek oleh Jo yang berada di sebelahnya. “Diliatin mulu, suka ya?”

Haris mendengus malas, sedangkan yang lain terkikik geli.

“bang Arkan sama yang lain ga ke tribun lapangan?” tanya Jiel.

“Lagi bosen,” jawab Arkan. Jiel mengangguk.

“Bang, Jiel balik ya, abis ini mau presentasi soalnya,” kata Jiel.

“Bareng aja, kita mau main basket di lapangan soalnya,” kata Arkan.

Jiel, Juju, dan Darel keluar dari kantin bersama Elixir. Jiel berjalan sambil dirangkul oleh Arkan. Lagi-lagi itu membuat warga kantin penasaran, apa hubungan Elixir dengan Jiel.

“Masuk kelas sana, belajar yang bener,” kata Arkan.

Jiel mengangguk.

“Jiel,” panggil Haris. Jiel memutarkan kepalanya ke belakang.

“Makasih ya,” kata Haris. Jiel tersenyum dan mengangguk.

“Sama-sama, makasih juga kak Haris.”

Haris tersenyum tipis.

“Kita pamit dulu, dadah,” kata Jiel lalu menuju gedung IPA diikuti oleh Juju dan Darel.