c a f u n é
Brian membopong Dowoon ke apartemen nya.
Teman kesayangannya itu sedang mabuk berat sekarang, entah dengan alasan apa dia minum sebanyak itu.
Brian menurunkan Dowoon di kasur nya. Sebenarnya, tidak ada yang boleh menempatkan kasur nya karena Brian risih, tapi pengecualian untuk Yoon Dowoon.
Kang Younghyun, atau lebih akrab di kenal dengan nama Younghyun atau Brian itu berusia 20 tahun. Dia berkuliah ditempat yang sama dengan Dowoon.
Sebenarnya, ia tidak suka dipanggil Brian oleh orang lain, namun jika orang itu Dowoon, Brian dengan senang hati menerima.
Diantara teman-teman yang lain, Brian memperlakukan Dowoon dengan ‘beda’. Beda nya seperti yang disebutkan tadi, Dowoon boleh tidur ditempat nya ataupun menyentuh barangnya, sedangkan teman-temannya yang lain ia larang.
Alasannya simple, Brian menyukai Dowoon. Mencintai Dowoon lebih tepatnya.
Entah sejak kapan ia mulai mencintai teman kesayangannya itu, yang pasti ia tidak mau kehilangan Dowoon.
Brian sendiri belum jujur atas perasaannya pada Dowoon. Ia takut jika ia confess, pertemanan nya dengan Dowoon akan terganggu dan ia tidak ingin itu terjadi.
Setelah menurunkan Dowoon dikasurnya, Brian membuka kaos dan celana jeans Dowoon dan menukarnya dengan celana pendek dan kaos miliknya. Kaos itu terlihat kebesaran pada Dowoon, Brian gemas sendiri lihatnya.
Brian mengusap pucuk kepala Dowoon.
“Dowoon, kenapa lu bisa mabuk gini sih?” tanya nya.
Dowoon yang masih setengah sadar itu tersenyum.
“Gara-gara Brian,” jawabnya.
Brian kaget, dia buat salahkah?
“Kok gue?” tanya Brian.
“Iya, lo, lo yang bikin gue sakit hati,” kata Dowoon masih dengan senyumannya.
“Gue ada buat salah?”
“Lo deket-deket Wonpil mulu, gue cemburu, gue sakit hati, gue suka sama lo,” kata Dowoon lalu meraih tangan Brian dan memeluknya.
Brian tentu saja kaget dengan pengakuan tersebut, tidak lama kemudian ia tersenyum.
“Lo suka sama gue?”
Dowoon mengangguk, “banget.”
“Sejak kapan?”
“Gak tau.”
“Gue juga suka sama lo, Woon,” kata Brian.
“Bohong, kalau lo suka sama gue kenapa deket-deket Wonpil terus?”
“Dia kan temen gue.”
“Gue juga temen lo, Bri.”
“Tapi lo spesial.”
Dowoon menggeser tubuhnya ke pojok lalu space kosong disebelahnya ia tepuk-tepuk.
“Bobo sini,” kata Dowoon.
Brian yang melihat tingkah gemas Dowoon pun tersenyum.
Brian tidur disebelah Dowoon, lalu ia memeluk Dowoon dan menghirup aroma nya.
“Kalau cemburu itu bilang, jangan malah mabuk,” kata Brian mengelus punggung Dowoon.
“Mm,” kata Dowoon dan tenggelam di dada Brian yang hangat.
“Woon? Tidur?” tanya Brian.
Tidak ada jawaban, hanya ada deru nafas Dowoon yang teratur di pelukan Brian.
“Good night, sayang.”
Lalu, Brian mengecup pucuk kepala Dowoon.
Dowoon bangun pukul 4 pagi. Ia membuka mata nya perlahan, pusing menjalar di seluruh kepala nya.
“AAAAAA,” tiba-tiba Dowoon berteriak karena kaget di depan wajahnya ada wajah Brian yang tertidur tenang.
Brian yang kaget itu pun langsung terbangun.
“KOK LO DISINI?!”
“Jangan teriak-teriak, Woon, masih pagi juga,” kata Brian. “Lo di apartemen gue, gue yang jemput lo semalem, lo mabuk.”
Dowoon sadar ini bukanlah apartemennya, melainkan apartemen Brian. Ketika Dowoon ingin ngomong, ia merasakan bahwa ada yang ingin keluar dari mulut nya. Ia langsung berlari ke kamar mandi Brian.
Setelah mengeluarkan isi perutnya, Dowoon keluar kamar mandi dengan lemas, pusing di kepala masih menguasainya.
“Lo gak apa-apa?” tanya Brian.
Dowoon menggeleng.
Tiba-tiba tubuh Dowoon terangkat. Ternyata, Brian menggendongnya.
“B-Bri, lo ng-ngapain?” tanya Dowoon.
“Bawa lo ke kamar, lo masih lemes.”
Brian mendudukkan Dowoon dikasurnya.
“Bentar, gue ambilin minum,” kata Brian.
Setelah Dowoon minum, ia tertidur lagi. Brian pun ikut tidur disamping Dowoon dan memeluknya.
Pukul 9 pagi, Dowoon terbangun. Pusing di kepala nya sudah menghilang sedikit.
Namun, ia tersadar bahwa ia terbangun di pelukan Brian.
Dowoon menenggelamkan kepala nya di dada nya Brian dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Brian.
“Andai lo milik gue,” kata Dowoon.
Brian yang ternyata sudah terbangun dari tadi itu pun tersenyum.
“Lo mau jadi milik gue?” tanya Brian.
Dowoon terkejut. Ia mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Brian, tetapi tidak bisa, tenaga Brian lebih besar dari nya.
“Lepasin,” kata Dowoon.
“Liat gue dulu,” kata Brian.
“Gak mau.”
“Sini.”
“Gak,” tidak ada pilihan, Dowoon menenggelamkan wajahnya di dada Brian untuk menghindari tatapan Brian.
Brian tertawa, “lo kalau salting nambah gemesin.”
Dowoon tidak menjawab.
“Woon, gue mau nanya serius,” kata Brian.
“T-tanya aja.”
“Lo cemburu liat gue sama Wonpil?”
Dowoon terdiam.
“Jawab, Woon.”
“Gak.”
“Tapi semalem lo bilang gitu, gak usah pura-pura lagi.”
Dowoon diam.
“Orang mabuk tuh 99% omongannya gak bohong loh, Woon,” lanjut Brian.
Skakmat!
Dowoon mendongakkan kepala nya, “kalau gue cemburu emang kenapa? Iya, gue cemburu karena gue suka sama lo, Bri!”
“Gue—,” ucapan Brian terputus.
“Kalau lo mau jauhin gue sekarang gak apa-apa, gue terima, kalau lo mau jadian sama Wonpil juga gak apa-apa, kalau lo—,” sekarang ucapan Dowoon yang terputus.
Ucapan Dowoon terputus oleh sebuah ciuman. Ciuman yang ia terima dari Brian. Dowoon membulatkan mata nya.
“Gue belum selesai ngomong, jangan dipotong makanya,” kata Brian.
Dowoon masih kaget.
“Gini teman kesayanganku, gue mau bilang kalau gue juga suka sama lo.”
“H-hah?”
“Makanya kalau orang ngomong dengerin dulu, jangan malah dipotong.”
“T-terus lo sama Wonpil?”
“Aku sama dia cuma pure temenan, dia juga udah punya pacar, pacarnya itu Jae, kating kamu,” gaya bicara Brian berubah menjadi aku-kamu dan itu sukses membuat Dowoon merona.
Dowoon seketika malu karena ia sudah cemburu tidak jelas ke Brian, lalu ia menutup wajahnya sendiri.
“Kenapa, hm?” tanya Brian sambil mengelus kepala Dowoon.
“Gue malu, gue udah cemburu gak jelas,” kata Dowoon.
“Muka kamu jangan ditutupin, Woon, liat aku sini.”
Dowoon perlahan membuka tangannya.
Brian mengusap kepala Dowoon gemas.
“Jawab pertanyaan gue yang tadi, Woon.”
“Y-yang mana?”
“Lo mau jadi milik gue?”
Dowoon malu. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Brian.
“Kok malah nunduk, jawab dulu, mau gak?”
Dowoon mengangguk.
“Jawab dulu jangan ngangguk doang.”
“Ck, Bri, gue malu.”
Brian tertawa kencang.
“Woon, liat sini dulu.”
Dowoon mendongak. Tiba-tiba Brian menciumnya lagi. Kali ini Dowoon menutup matanya walaupun sempat kaget tadi.
“Rasa bibir kamu enak masa, Woon, rasa permen karet.”
Dowoon yang mendengar itupun salah tingkah.
“You’re officially my boyfriend now, Yoon Dowoon, i love you so much.”
Brian mencium Dowoon lagi dan Dowoon membalasnya dengan senang hati.
END
10/04/21, dwddablues.