p l u v i o p h i l e

Kang Younghyun, 24 tahun, penyuka hujan.

Aneh memang di umur nya yang sudah terbilang tidak muda, Younghyun menyukai hal seperti itu.

Ia suka melihat pelangi setelah hujan, ia menyukai aroma tanah setelah hujan, apapun yang berhubungan dengan hujan, ia menyukainya.

Younghyun masuk ke sebuah minimarket untuk membeli ramyeon kesukaan nya.

Hujan-hujan gini enak nya makan ramyeon,’ pikirnya.

Setelah membayar belanjaan nya, Younghyun keluar minimarket dan membuka payungnya. Ia menghirup aroma tanah dan hujan yang tercampur.

Seperti biasa, aroma nya menenangkan,’ katanya dalam hati.

Younghyun berjalan menuju halte untuk menunggu bus tujuan rumahnya.

“Kenapa hujan nya nggak berhenti-berhenti sih?,” kata seorang pria yang baru datang dan duduk di sebelah Younghyun.

Kenapa dia kesal?’ tanya Younghyun dalam hati.

Pria disebelahnya memasang wajah kesal dan sesekali memperhatikan jam tangan nya.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya Younghyun tiba-tiba.

Pria di sebelah nya memutar kepalanya, “kamu nanya aku?”


Yoon Dowoon, 21 tahun, penyuka latte.

Yoon Dowoon melambaikan kepada teman kerja nya. Hari ini, pukul 23.00, Dowoon baru menyelesaikan pekerjaan nya sebagai seorang barista di sebuah kafe.

Setelah melambaikan tangan kepada teman nya, Dowoon bergegas pergi dari sana untuk pulang ke rumah.

Rumah Dowoon lumayan dekat dengan kafe tempat ia bekerja. Jadi, ia hanya perlu berjalan kaki saja untuk pulang ke rumah.

Hampir dikit lagi sampai rumahnya, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Dowoon meneduhkan diri nya di sebuah toko yang sudah tutup. Ia tidak bawa payung dan tidak pula membawa jaket.

10 menit sudah Dowoon menunggu, hujan tak kunjung reda. Ia memutuskan untuk meneduh di halte saja di depan toko tersebut agar ia bisa duduk.

“Kenapa hujan nya nggak berhenti-berhenti sih?” ia berdecak sebal lalu mendudukan diri nya di kursi halte. Disamping nya ada seorang pria juga yang sedang duduk.

Dowoon sesekali mengecek arloji nya, sudah pukul 23.30 ternyata.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya pria di sebelahnya tiba-tiba.

Dowoon memutar kepala nya mengahadap pria tersebut, lalu bertanya, “kamu nanya aku?”

Younghyun mengangguk.

“Kenapa nggak suka hujan?” tanya Younghyun lagi.

“Kata siapa aku nggak suka hujan?” tanya Dowoon.

“Kamu keliatan kesal sekarang.”

Dowoon menghela nafasnya.

“Aku bukannya nggak suka hujan, tetapi kenapa dia turunnya pas aku lagi nggak bawa payung, giliran kemarin aku bawa malah nggak turun hujannya,” jawab Dowoon dengan bibir sedikit maju.

“Padahal hujan itu anugerah,” kata Younghyun.

“Aku tahu,” kata Dowoon.

Hening.

Karena penasaran dengan pria di sebelahnya, Dowoon bertanya, “kamu suka hujan?”

Younghyun tersenyum, “apapun yang berhubungan dengan hujan, aku suka.”

“Kenapa gitu?”

“Hujan menenangkan, hujan selalu menyenangkan, hujan juga membuatku sedikit melupakan masalahku.”

“Tapi, hujan nggak selalu menyenangkan,” kata Dowoon.

“Kenapa gitu?”

“Kedua orang tua ku kecelakaan mobil disaat hujan dan jalanan sangat licin saat itu,” kata Dowoon.

Younghyun merasa bersalah, “maaf, aku nggak tahu.”

Dowoon tersenyum, “nggak apa-apa.”

“Lalu..., apakah kamu trauma dengan hujan?” tanya Younghyun.

“Nggak, karena kejadiannya waktu aku berusia 5 tahun, tidak terlalu mempengaruhi ku.”

Younghyun diam tidak tahu mau merespon apa.

Suasana hening kembali dan hujan semakin deras.

Angin lewat dengan sangat kencang, Dowoon yang hanya memakai kaos tipis itu pun memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.

Younghyun yang melihat itu pun merasa kasihan. Lalu ia melepas jaket nya dan memberinya kepada Dowoon.

“Apa?” tanya Dowoon kebingungan.

“Pakai, kamu kedinginan.”

“Eh?”

“Nggak apa-apa, pakai aja, daripada sakit,” kata Younghyun.

“Terus kamu gimana?”

“Aku udah pakai sweater, kamu cuma kaos tipis.”

Dowoon menerima jaket itu dan memakai nya.

“Terima kasih, ....?”

“Ah, Younghyun, nama ku Kang Younghyun,” kata Younghyun sambil mengulurkan tangannya ke Dowoon.

Dowoon tersenyum dan menerima uluran tangan tersebut, “aku Yoon Dowoon, panggil Dowoon aja.”

“Terima kasih, Younghyun,” kata Dowoon kemudian.

“My pleasure, Dowoon.”

Younghyun melihat Dowoon masih kedinginan, entah mengapa ia ingin memberikan kehangatan kepada Dowoon.

“Kamu masih kedinginan?” tanya Younghyun.

Dowoon mengangguk.

“Geser kesini,” kata Younghyun. Dowoon pun bergeser lebih dekat dengan Younghyun.

Aroma parfum bayi yang berasal dari Dowoon pun memasuki indra penciuman Younghyun.

“Berikan tanganmu,” kata Younghyun. Dowoon memberikan tangannya.

Lalu tangan Dowoon di genggam oleh Younghyun.

“E-eh?”

“Apakah hangat?” tanya Younghyun.

Dowoon mengangguk dan telinganya memerah, “hangat, aku suka.”

Dowoon tidak berbohong, ia sangat suka dengan genggaman tangan Younghyun. Tangan nya tenggelam di balik tangan Younghyun, sangat nyaman dan hangat tentunya.

“Dowoon, wajah mu terkena cipratan air hujan,” kata Younghyun.

“Oh ya?” Dowoon mengusap wajahnya dengan asal.

“Jangan asal-asalan, hadap sini,” kata Younghyun.

Dowoon menghadapkan diri nya kepada Younghyun.

Younghyun mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap wajah Dowoon. Sedangkan Dowoon, hanya memperhatikan wajah Younghyun yang menurutnya tampan.

“Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Younghyun yang penasaran karena Dowoon menatapnya.

“Tidak, kamu tampan, mata mu indah,” kata Dowoon.

“Tiba-tiba?” Younghyun tertawa. Dowoon tersenyum dan masih menatap Younghyun.

“Kau juga imut,” kata Younghyun tiba-tiba.

Dowoon mengalihkan pandangannya kedepan, “jangan seperti itu.”

“Kenapa?”

“Aku malu.”

Younghyun tertawa.

“Jangan seperti itu, Younghyun, nanti aku suka padamu.”

“Dasar bermulut manis.”

Dowoon dan Younghyun tertawa.

“Kenapa semakin dingin?” Dowoon menggigil.

Younghyun tersenyum.

Younghyun melepaskan genggaman tangan nya. Lalu, kedua tangannya menangkup wajah Dowoon.

Dowoon tentu saja terkejut.

“Hangat nggak?”

“Kenapa bisa hangat seperti ini?” tanya Dowoon.

“Nggak tahu juga,” jawab Younghyun.

Dowoon memegang tangan Younghyun yang memegang wajahnya.

“Hangat banget, suka,” kata Dowoon.

Dowoon dan Younghyun sama-sama melihat wajah didepannya saat ini. Younghyun menatap Dowoon. Mata yang indah, suara yang khas, bibir merah muda natural yang semua perempuan inginkan, dan wangi bayi khas Dowoon.

Dowoon mendekatkan wajah nya ke Younghyun.

“Kau tampan,” kata Dowoon.

Younghyun tersenyum.

“Kamu wangi bayi, aku suka,” kata Younghyun.

Dowoon tiba-tiba memegang bibir Younghyun, “mau coba, boleh?”

Younghyun diam mencerna apa yang dikatakan Dowoon.

“Maaf, seperti nya aku terlalu lancang,” kata Dowoon yang melihat Younghyun diam. Dowoon menunduk malu.

Younghyun tiba-tiba Younghyun tersenyum mengerti.

“Dowoon,” panggil Younghyun.

Dowoon mengangkat kepala nya. Younghyun yang masih memegang wajah Dowoon itu pun langsung menariknya ke dalam sebuah ciuman.

Dowoon terkejut.

Younghyun melepaskan ciumannya dan tersenyum, “enak, rasa latte.”

“Curang, aku belum merasakan bibirmu.”

“Kalau mau lagi boleh, aku tidak melarang.”

Dowoon segera mencium Younghyun dan menyesap bibirnya.

“Enak, rasa mint,” kata Dowoon.

Younghyun tersenyum.

“Ingin lagi...,” kata Dowoon.

Younghyun tertawa gemas.

Lalu dua lelaki yang baru bertemu itu berciuman kembali dibawah halte yang ada hanya mereka berdua. Tepat saat itu juga, hujan berhenti.

Mereka melepaskan ciumannya setelah mereka kehabisan nafas.

“Hujan nya sudah berhenti,” kata Dowoon.

“Masih mau disini?” tanya Younghyun. Diam-diam mereka tidak ada keinginan untuk berpisah.

“Rumah mu dimana?” tanya Dowoon.

“Dekat pusat perbelanjaan, tiga kilometer dari sini.”

Dowoon melihat arlojinya, pukul 01.10.

“Bus udah nggak ada jam segini,” kata Dowoon.

Younghyun baru menyadari nya.

“Mau menginap di rumah ku?” tawar Dowoon.

“Nanti merepotkan, aku cari penginapan didekat sini aja.”

“Disini susah mencari penginapan, di rumah ku saja, dekat kok dari sini, aku juga tinggal sendiri.”

“Kamu nggak mau aku pergi ya?” goda Younghyun.

Dowoon memajukan bibirnya, “yasudah kalau kamu mau cari penginapan nggak apa-apa, aku pulang duluan.” Dowoon pun beranjak dari sana.

Younghyun menarik tangan Dowoon dan mendudukannya kembali.

“Kasih tau dulu alasannya kenapa aku harus menginap di rumahmu,” kata Younghyun.

“Aku masih kedinginan.”

“Terus?”

“Butuh kehangatan.”

“Memangnya tidak ada penghangat di rumahmu?”

“Ish, kamu memang tidak peka ya.”

Younghyun tertawa kecil.

“Aku butuh pelukanmu, Younghyun,” kata Dowoon tiba-tiba.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu nggak mau?”

“Kata siapa? Ayo kita ke rumah mu.”

Dowoon tersenyum senang. “Ayo.”

Dua orang yang baru saling kenal itu pun berjalan bergandengan tangan sambil menikmati dingin nya malam. Sangat unik, karena mereka baru saja bertemu.

Perkataan Younghyun memang benar, hujan adalah anugerah. Dowoon sangat berterima kasih kepada hujan di malam itu. Berkat hujan, ia bertemu dengan Younghyun.

Younghyun rasa kebahagiaannya lengkap sekarang. Hujan dan juga Dowoon yang ia temui saat hujan.

“Dowoon, kau tahu? Apapun yang berhubungan dengan hujan aku suka,” kata Younghyun.

Dowoon mengangguk, “tahu, kamu tadi udah bilang.”

Younghyun mengeratkan genggaman tangannya, “maka dari itu, aku menyukaimu, karena kita dipertemukan saat hujan.”

Telinga dan wajah Dowoon memerah.

“Apa nggak bisa kamu bilangnya saat di rumah? Jangan berbicara seperti itu disini, Younghyun, aku nggak mau di bilang gila karena senyum-senyum sendiri,” kata Dowoon.

Younghyun tertawa mendengar perkataan Dowoon.

'Terima kasih, hujan. Berkatmu aku menemukan seseorang yang tidak ingin aku tinggalkan.'


END

01/04/21, dwddablues.