Indoapril
“Pengen ngemil ga sih?” tanya Jiel.
Darel dan Juju mengangguk. Saat ini mereka sedang mengerjakan tugas kelompok bahasa Inggris.
Jiel melihat jam dikamarnya, pukul 19.30. “Gue ke indoapril dulu deh beli jajanan,” kata Jiel.
“Mau ditemenin?” tanya Darel.
Jiel menggeleng, “gausah, selesaiin aja dulu itu.”
Jiel mengambil kunci motornya dan bergegas ke indoapril.
Jiel telah selesai memilih snack dan minuman untuk kedua sahabatnya, kini ia sedang berdiri didepan kasir.
“Totalnya 73.200 kak, ada tambahan lagi?” kata sang kasir.
Jiel menggeleng. Ia hendak membayar, namun ia tak menemukan dompet dikantung celananya.
Jiel panik hingga ingin menangis, tapi tiba-tiba suara laki-laki yang Jiel kenal memasuki indra pendengarannya.
“Saya aja mbak yang bayar, sekalian sama ini, totalnya jadi berapa?” tanya Haris.
“Jadi 87.300, ada tambahan lain?”
Haris menggeleng lalu menyerahkan kartu debitnya.
“Baik kak, ini belanjaannya, terima kasih, selamat datang kembali.”
Jiel masih agak kaget dengan Haris yang tiba-tiba membayarkan belanjaannya.
“Jiel?” panggil Haris.
“E-eh iya kak?”
“Ini belanjaannya,” kata Haris sambil menyodorkan plastik kepada Jiel.
“Eh, iya kak, makasih banyak ya kak, nanti aku ganti duitnya,” kata Jiel.
Haris menggeleng, “gausah gapapa.”
Tiba-tiba Haris mengenggam tangan Jiel dan menuntunnya ke toko martabak sebrang indoapril.
“Tungguin gue bentar ya?” tanya Haris. Jiel yang bingung hanya bisa mengangguk.
“Nih,” Haris menyodorkan sebungkus martabak kepada Jiel.
“Hah?”
“Buat Jiel.”
“Kenapa buat aku kak?”
“Kata Arkan lu demen makan, nih ambil.”
Jiel mau tidak mau mengambil martabak itu. Haris mengenggam tangan Jiel lagi dan membawanya ke depan Indoapril karena motor mereka berdua terparkir disana.
“Kak Haris,” panggil Jiel.
“Ya?”
“Maaf ya udah direpotin, nanti uangnya aku ganti kok seriusan,” kata Jiel.
“Kan gue bilang gapapa.”
“Tapi—,”
“Mending lu pulang, nanti kemaleman,” kata Haris.
Mau tak mau Jiel menuruti perkataan Haris.
“Jiel duluan ya kak, makasih banget udah dibayarin sama dibeliin martabak, dadah.”
Haris mengulum senyumnya.
‘Lucu.’