geminaifourth

Ini hari Senin. Sudah 3 hari sejak kejadian yang menimpa Jiel. Arkan sudah memaksanya untuk tidak masuk sekolah dulu karena Jiel sempat demam. Namun, Jiel tetaplah Jiel, karena ia sudah merasa fit, ia tetap akan sekolah meskipun trauma itu belum hilang.

“Istirahat nanti ga usah kemana-mana, dikelas aja, makan bekel yang gue buat, kalau masih mau jajan nitip aja sama Juju atau Darel,” kata Arkan setelah sampai didepan kelas Jiel.

“Iya abang, abang udah tiga kali loh ngomong gini,” kata Jiel.

“Gue khawatir anjir,” kata Arkan.

“Iya iya tau, udah sana, dikit lagi masuk,” usir Jiel. Arkan mengangguk lalu pergi dari sana.

“Kok lo masuk?!” tanya Darel ketika Jiel masuk kelas.

“Ya emang kenapa?”

“Udah sehat emang?” tanya Juju. Jiel mengangguk.

“Duh, harusnya lo tuh memanfaatkan kesempatan aja, kan enak tidur dirumah,” kata Darel.

“Darel goblok, ajaran sesat banget lu,” kata Jiel. Sedangkan Juju menggeplak kepala Darel.

“Jangan kasar-kasar, aku takut,” kata Darel dramatis.

“Jijik!” sahut Jiel dan Juju.


“Cerita,” desak Asa kepada Arkan. Mereka kini sedang berada diruang musik setelah mereka beristirahat.

Arkan menghela nafasnya.

“Gue mantau,” kata Arkan.

“Hah? Mantau siapa lo?” tanya Jo.

“Mantau Jiel,” jawab Arkan.

Teman-temannya memasang wajah bingung.

“Heh kampret, kalau jelasin jangan setengah-setengah anjrit,” kata Ajun.

“Ck, iya ini gue jelasin, jadi gue ke Singapura tuh minta salah satu orang suruhan papa buat mantau Jiel, dan ya mereka terbang kesini, terus langsung mantau Jiel, jadi kalau ada yang jahat ke Jiel mereka kasih tau gue, sebenernya selama ini gue tau siapa yang udah jahat sama adek gue, cuma pura-pura kaget aja pas di chat,” jelas Arkan.

“Dan kenapa gue harus di Singapura? Yap, karena gue ga mau Jiel tau tentang ini dan juga sekalian mancing si penjahat kalau gue ga ada tuh gimana haha, oh iya sebenernya emang ada obrolan tentang keluarga juga, tentang gue yang disuruh jadi penerus bokap, tentang mereka kapan pulang, dan tentang gue dan Jiel nantinya,” lanjut Arkan.

Mereka manggut-manggut paham.

“Jadi, lo tau siapa yang selama ini jahat sama Jiel?” tanya Jo.

Arkan mengangguk.

“Rea sama temen-temennya disuruh sama ‘dia’,” kata Arkan.

What the fuck?” kata Haris.

“Beneran cewek pelakunya?” tanya Danny.

Arkan mengangguk.

“Siapa sih?” tanya Ajun.

Arkan menghela nafasnya.

“Pelakunya….”

Jiel membuka matanya perlahan. Pusing melanda kepalanya. Ia tertidur setelah minum obat tadi. Kini ia sudah berada dikamar Haris.

“Jiel? Butuh apa? Masih pusing?” tanya Haris yang berada disebelahnya.

“Pusing dikit tapi gapapa, ini jam berapa kak?” tanya Jiel.

“Jam 11, kamu tidur aja lagi,” kata Haris.

Jiel menggeleng.

“Udah ga ngantuk.”

“Jiel,” panggil Haris.

“Apa?”

“Kamu kok bisa jatuh ke kolam?”

“Aku gatau kak, aku lagi makan sama Juju Darel, tiba-tiba aku kayak didorong gitu, yaudah jatuh,” jelas Jiel.

Haris menghela nafasnya.

Jiel beneran didorong ternyata.

“Tenang aja Jiel, aku sama yang lain bakal nyari siapa yang udah dorong kamu,” kata Haris.

“Makasih kak Haris,” Jiel tersenyum manis. Haris terpesona.

“Sama-sama.”

“Kak Haris, boleh kirimin kontaknya kak Haidar? Aku pengen minta maaf karena udah bikin kacau pestanya,” kata Jiel.

“Hey, kamu nggak bikin kacau Jiel, jangan salahin diri sendiri,” kata Haris.

“Tetep aja aku ga enak kak, kirimin ya kontaknya?”

Haris menghela nafasnya lalu memberikan ponselnya kepada Jiel.

“Pake hp aku aja.”

Jiel mengangguk lalu mulai mengetik pesan kepada Haidar.

Ravin menunggu beberapa kakak kelas yang menghajar habis-habisan pacarnya itu di ujung gang. Niat ingin membantu namun ia teringat ucapan ayahnya.

“Inget ya Ravin, jangan nonjok orang yang masih dibawah umur.”

Ravin menghela nafasnya ketika melihat Rizel yang sudah tergeletak dengan wajah memar penuh darah. Ia langsung menghampiri pacarnya itu ketika kakak kelas nya sudah pergi dari sana.

“Vin…,” panggil Rizel.

Ravin langsung memapah Rizel dengan hati-hati.

“Jelasin dirumah,” kata Ravin dingin.

Rizel hanya bisa mengangguk.


“Tunggu disini, gue ganti baju dulu,” kata Ravin setelah mendudukkan Rizel disofa.

Rizel mengangguk.

‘Waduh udah pake gue-lo, marah beneran ini mah,’ batin Rizel.

Ravin keluar dari kamar dengan membawa celana pendek dan kaos untuk Rizel.

“Ganti dulu celananya, baju nya jangan dipake dulu, luka lo sampe badan-badan,” kata Ravin lalu pergi ke dapur untuk mencari kotak P3K.

“Kamu liat tapi kenapa ga bantuin sih?” protes Rizel ketika Ravin sudah mulai mengobati lukanya.

“Ga minat,” balas Ravin.

“Kok gitu sih Apin…,” Rizel memajukan bibirnya.

Ravin tak menjawab. Ia hanya fokus mengobati luka di badan Rizel.

Setelah Ravin selesai mengobati luka di bagian perut Rizel, Rizel memakai kaos yang diberi Ravin dan Ravin beralih untuk mengobati luka yang berada pada wajah Rizel.

“Aw, pelan-pelan Apin, sakit…,” keluh Rizel.

“Salah sendiri siapa suruh berantem?”

“Dia duluan Apin,” kata Rizel sambil menahan rasa sakitnya.

“Ck, dia ga bakalan nonjok lo kalau lo ga ngatain pacar dia ‘jalang’,” kata Ravin.

“Kok kamu tau?”

“Ya lo ngomongnya gede banget di kantin?” balas Ravin.

“Terus kamu belain dia?!” kata Rizel marah.

“Ya lo ngatain pacar dia?” Ravin gamau kalah.

Rizel menghembuskan nafasnya kasar.

“Pacarnya yang sering deketin kamu akhir-akhir ini, udah aku nasihatin baik-baik, tetep ga di denger, aku udah kesel,” kata Rizel.

“Tetep aja lo ga boleh ngatain orang sembarangan kayak gitu,” kata Ravin.

Rizel menunduk.

“Iya maaf,” kata Rizel.

Ravin menutup kotak P3K setelah selesai mengobati Rizel. Melihat Rizel yang menunduk itu sontak membuat Ravin gemas dan mengusak kepala Rizel.

“Ngomongnya jangan gue-lo lagi Apin…,” rengek Rizel.

“Iya Ijel, Apin minta maaf, tapi Ijel jangan ulangin lagi ya?” kata Ravin sambil mengangkat dagu Rizel.

Rizel menatap mata Ravin.

“Iya janji Apin,” kata Rizel. Ravin tersenyum.

“Laper gak? Mau makan apa?” tanya Ravin.

“Mau peluk Apin aja boleh nggak? Kangen Apin,” kata Rizel.

Ravin tertawa. Ia membuka tangannya lebar.

“Sini.”

Rizel langsung menubrukkan dirinya ke dalam pelukan Ravin.

“Kenapa kangen, hm? Kan setiap hari ketemu di sekolah?” tanya Ravin sambil mengecup kepala Rizel.

“Gatau, rasanya kita jauh banget akhir-akhir ini,” kata Rizel.

“Aku juga kangen kamu,” kata Ravin.

“Aku minta maaf ya,” kata Rizel tiba-tiba.

Ravin menatap Rizel, “kenapa?”

“Maaf karena aku belum pantes buat kamu, aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu, kelakuan aku setiap hari buat kamu capek. Aku kadang heran sama diri aku sendiri, kok bisa aku yang jelek, suka cari masalah, langganan BK, dapet pacar yang pengertian, baik, pinter, sabar, dan ganteng kayak kamu,” kata Rizel.

Ravin tertegun.

Hey siapa yang buat Rizel-nya menjadi insecure seperti ini?

“Sayang, kamu ga perlu minta maaf, dari awal aku yang milih kamu untuk jadi pasanganku. Terus kata siapa kamu jelek? Kamu itu manis Ijel, manis banget. Sekarang jujur sama aku, siapa yang buat kamu insecure?”

“Ngga insecure, yang anak-anak omongin disekolah kan bener, aku ga pantes buat kamu,” kata Rizel.

“Hey, look at me,,” kata Ravin.

Rizel menatap Ravin, kedua pipinya di pegang oleh kedua tangan Ravin.

“Ngga ada yang namanya ‘Rizel ga pantes buat Ravindra,’ kamu itu yang paling pantes buat aku Ijel, justru karena perbedaan kita, kita saling melengkapi,” jelas Ravin.

“Jangan ngomong gitu lagi, aku ga suka Ijel, aku cinta kamu karena itu kamu, ngga ada alasan lain, dan jangan dengerin orang lain, cukup denger aku aja,” lanjut Ravin.

Mata Rizel memanas. Lalu ia memeluk Ravin kembali.

“Iya Apin, maaf ya,” kata Rizel.

Ravin mengangkat dagu Rizel lalu mencium hidung, kening, dan kedua pipi Rizel.

“Dimaafin,” kata Ravin sambil tersenyum.

“Kok bibirnya nggak dicium?” tanya Rizel.

“Males, kamu kan suka ketagihan,” kata Ravin.

Rizel memajukan bibirnya.

“Ngga Apin, beneran sekali kecup aja gapapa, udah lama tau,” kata Rizel sambil memegang bibir Ravin.

Ravin hanya merespon dengan mengangkat alisnya.

“Ah lama Apin mah,” kata Rizel lalu mencuri start dengan mengecup bibir Ravin duluan.

“Dih nakal, cium-cium duluan,” kata Ravin setelah Rizel mengecup Ravin.

“Hehe, lama sih,” kata Rizel.

“Balikin,” kata Ravin.

“Apanya?” tanya Rizel.

Tanpa basa-basi Ravin menarik tengkuk Rizel dan mencium nya dalam.

Kali ini bukan hanya kecupan, tapi didominasi sedikit lumatan.

Tautan terlepas ketika Rizel sudah kehabisan napas.

“Kok?!”

“Apa?” tantang Ravin.

“Ih curang, tadi aku kecup-kecup doang,” kata Rizel.

“Bodo amat,” balas Ravin.

“Eh Pin,” panggil Rizel.

“Apa?”

“Mau lagi hehe.”

Kan.


24/10/2021, aqilah.

“Gimana yah?” tanya Haris saat ayahnya keluar dari IGD.

“Jiel baik-baik aja, pernafasannya juga udah membaik, dia lumayan trauma sekarang, ayah ambil obatnya dulu, abis itu Jiel bisa pulang,” jelas ayah Haris.

Haris mengehela nafasnya lega. Jo dan Asa yang sudah sampai dari tadi ikutan lega.

“Kalian pulang aja,” kata Haris.

Asa menggeleng, “lu masuk aja, kita tungguin disini, biar bantuin lu bawa Jiel nanti.”

“Udah sana,” Jo mendorong Haris masuk ke dalam IGD.

Haris menghampiri Jiel yang sedang menutup matanya. Ia mengambil tangan Jiel untuk digenggam.

Akibat sentuhan itu, Jiel membuka matanya.

“Kak Haris…,” panggil Jiel.

“Iya Jiel, aku disini, jangan takut,” kata Haris sambil mengusap kepala Jiel.

“Makasih kak Haris,” kata Jiel.

No problem, sweetie, nanti pas pulang kamu tidur dikamar aku aja ya, biar bisa aku jagain,” kata Haris.

Jiel mengangguk, “iya.”

“Kak Haidar, selamat ulang tahun ya, ini kado dari Jiel, semoga suka, oh iya, kata bang Arkan kado dari dia menyusul ya.” kata Jiel.

“Kan gue bilang ga usah ngasih kado, yang penting doa nya,” kata Haidar.

“Gapapa, aku baru pertama kali lho ke birthday party kakak kelas gini, harus totalitas,” kata Jiel.

Haidar dan beberapa teman serta pacarnya terkekeh mendengar omongan Jiel.

“Lu beneran adeknya Arkan? Kok gemes sih, Arkan nya mah boro-boro,” teman Haidar yang bernama Naren. Sontak hal tersebut membuat mata Haris memicing ke arah Naren.

“Iya Haris ga bakal gue ambil, gue udah punya Jericho,” kata Naren.

“Santai Ris,” kata Jo terkekeh.

“Cie Jiel,” bisik Darel dan Juju.

“Apaan sih,” Jiel salting.

Suasana dirumah Haidar sangat ramai saat ini. Tamu tidak hanya diisi oleh murid sekolah Jiel, ada beberapa dari murid sekolah sebelah karena Haidar memang cukup social butterfly.

Jiel dan kedua temannya memisahkan diri dari Elixir, karena ketiga sahabat itu ingin memburu makanan.

“Jiel? Kamu disini?” tanya Windy dan Zeline yang tiba-tiba datang.

“Iya, diundang sama kak Haidar.”

Windi mengangguk, “oke, kita ke belakang ya.”

Jiel mengangguk, mendengar itu, Jiel langsung tertarik untuk pergi ke halaman belakang.

“Ju, Rel, kebelakang yuk!” ajak Jiel yang langsung disetujui oleh kedua temannya.

“Wah anjir, makanan nya lebih banyak,” kata Juju lalu langsung melahap kue didepannya.

Darel mengusap-usap perutnya, “ga jadi kenyang, laper lagi liat ginian.”

Jiel terkekeh melihat kelakuan dua sahabatnya.

Jiel, Juju, dan Darel berdiri dipinggir kolam renang sambil melahap kue mereka.

Tiba-tiba, Jiel terdorong dari belakang yang menyebabkan Jiel jatuh ke kolam renang.

Jiel tidak bisa berenang, ditambah kakinya tiba-tiba keram didalam air. Ia berusaha menahan nafasnya didalam air.

Haris yang sedari tadi memperhatikan Jiel dari dalam kini langsung menyebur ke dalam kolam renang.

Dibawa nya tubuh Jiel ke atas. Jiel sudah tidak sadarkan diri. Haidar dan teman-temannya datang melihat.

“Siapa yang dorong?” tanya Asa kepada Juju dan Darel.

“Gatau kak, kita lagi sama-sama ngadep ke depan situ,” kata Juju dengan gemetar, dia takut jika Jiel kenapa-kenapa.

Melihat itu, Darel langsung merangkul Jiel.

“Tapi sumpah kak, dibelakang kita kosong, rame nya disebelah sana, kalau kesenggol juga ga mungkin soalnya ini jalan kan gede banget,” jelas Darel.

“Wah sengaja ini mah,” timpal Haidar.

“Woy, siapa yang dorong dia?!” tanya Jo lantang.

“Ngaku ga lo semua?!” kata Ajun.

“Kalau sampe ketauan siapa pelakunya, abis lo!” ancam Danny.

Haris memberikan pertolongan pertama kepada Jiel, namun itu semua sia-sia sampai akhirnya ia memberikan nafas buatan kepada Jiel.

Jiel terbatuk lalu sadar. Haris langsung memeluk tubuh Jiel.

“Kamu gapapa?” tanya Haris.

Jiel gemetar.

“Kak Haris…, takut,” kata Jiel dan mengeratkan pelukannya pada Haris.

Haris membopong tubuh Jiel keluar dari rumah Haidar dan membawa masuk ke mobilnya lalu pergi ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja.


“Dar, sorry pesta lo jadi ancur gini,” kata Asa.

“Ngapain minta maaf? Bukan salah lo ataupun Jiel,” kata Haidar.

“Kita harus cari tau sih siapa pelakunya,” kata Marko.

Mereka mengangguk.

“Ayo cek cctv, kita liat siapa yang dorong Jiel,” kata Haidar.

“Lu sama Asa susulin Haris, pasti dia bawa Jiel ke rumah sakit bokapnya, biar gue sama Danny disini,” kata Ajun kepada Jo.

Jo dan Asa mengangguk lalu pergi.

“Kalian pulang aja, sama supir kan?” kata Danny kepada Juju dan Darel.

Mereka mengangguk.

“Kita duluan ya kak.”

“Hati-hati.”

Jiel beserta kedua temannya kini sedang asik makan bersama Elixir. Tiba-tiba seorang kakak kelas yang Jiel ketahui bernama Haidar menghampiri mereka.

“Oy Elixir, dateng ya ke birthday party gue,” kata Haidar sambil menyerahkan sebuah undangan.

Asa mengambil undangan tersebut dan membacanya.

“Besok banget?” tanya Asa.

“Iya, besok banget, hari Jumat, jam 7 malem sampe selesai,” jelas Haidar.

“Mendadak amat, belom nyari kado nih,” kata Haris.

“Yaelah Ris, gausah kali, kayak sama siapa aja lu,” Haidar terkekeh.

Lalu Haidar melirik ke arah Jiel.

“Oh iya, lu Aziel adeknya Arkan kan? Lu gue undang juga, ikut aja gapapa, dua temen lu juga boleh ikut kok,” kata Haidar sambil menunjuk kedua sahabat Jiel.

Jiel tersenyum, “aku sama temen-temenku diusahain dateng ya kak.”

Haidar mengangguk.

“Yaudah sob, gue balik ya, jangan lupa dateng, gausah bawa kado juga gapapa, yang penting doa nya, bye.” kata Haidar lalu pergi.

“Kak Haidar cakep ya,” celetuk Juju.

Darel mengangguk, “dah punya pacar Ju, namanya Marko, tau ga?”

Mata Juju membulat, “kak Marko yang bule itu?”

Darel mengangguk.

“Kalian dateng?” tanya Jiel.

“Gue kosong sih, dateng kayaknya,” kata Darel.

Juju mengangguk, “gue juga.”

“Nanti pulang mau cari kado ga?” tanya Danny.

“Dimana?” tanya Ajun.

“Mall deket sini aja, kita bareng-bareng nyarinya,” kata Danny.

“Kalian ikut aja ya.” kata Jo kepada Jiel, Juju, dan Darel.

Mereka mengangguk, “iya.”

“Film Narnia yang terakhir nih kak, ga bosen kan?” tanya Jiel. Saat ini mereka sedang duduk dikasur Haris.

Haris menggeleng, “enggak, seru kok.”

Jiel tersenyum lalu mengambil remote dan mulai memutar film.


Haris terkekeh melihat Jiel yang tiba-tiba tertidur, padahal film nya belum habis.

Lalu Haris membenarkan posisi tidur Jiel agar dia nyaman.

Setelah memastikan Jiel tertidur nyaman, Haris melangkahkan kakinya keluar kamar.

“Bun, mau kemana?” tanya Haris saat melihat sang ibunda berpakaian rapi.

“Itu loh ayahmu, berkas pasien ada yang ketinggalan,” kata sang ibunda.

“Kenapa ga dianterin pake ojol aja?”

“Ayah mu gamau, katanya pengen sekalian makan masakan bunda dan pengen bunda kesana juga.”

“Cih, ayah bucin,” kata Haris terkekeh.

“Oh iya, Jiel mana?” tanya bunda.

“Ketiduran bun dikamar Haris, nanti Haris tidur di sofa atau kamar Jiel aja.”

“Loh gausah, temenin aja Jiel nya.”

Haris menaikkan alisnya, “loh gapapa?”

Bunda tertawa, “ya gapapa atuh, asal ga macem-macem.”

“Ya ngga, emang nya Haris cowok kayak gitu apa.”

“Ya siapa tau, kamu kan suka Jiel.”

Haris tersedak ludahnya sendiri.

“Bun?”

“Hahaha, gapapa bunda sih setuju aja, udah ya bunda pergi dulu nih, takut kemaleman,” kata bunda.

Haris lalu tersenyum dan menyalami bunda nya.

“Makasih bunda, hati-hati dijalan.”


Jiel membuka matanya perlahan. Tak lama kemudian ia menyadari kalau ini bukanlah kamarnya.

Jiel menengok ke sebelah kiri, ada Haris yang sedang tertidur.

“Mampus ganteng banget gila.” batin Jiel.

Setelah puas memandangi Haris, Jiel mengambil handphone nya dan memotret Haris.

Cekrek

Haris membuka matanya dan Jiel terkejut.

“Ngapain foto-foto?” tanya Haris dengan suara khas bangun tidur.

Jiel mleyot.

“A-anu…,” Jiel tidak bisa berkata-kata.

“Buat apa hm?”

“B-buat koleksi pribadi,” kata Jiel.

Menyadari dirinya keceplosan, Jiel menampar mulutnya sendiri sedangkan Haris terkekeh.

“Maaf kak Haris, ini mau di hapus,” kata Jiel sambil menyalakan kembali handphone nya.

Haris menahan tangan Jiel.

“Jadi kamu suka koleksi foto aku?” tanya Haris.

“Ini kenapa aku-kamuan lagi, kerasukan apa ya?” batin Jiel.

“Enggak.” kata Jiel. “Tapi boleh?”

“Boleh apa?” tanya Haris.

“Ngoleksi foto kak Haris?”

Haris terkekeh lagi.

“Boleh aja kalau buat Jiel, asal jangan dipake buat macem-macem,” kata Haris.

“Enggak! Enggak bakal! Cuma disimpen aja,” kata Jiel.

Haris terkekeh.

“Yaudah, sekarang mandi, kita siap-siap kesekolah,” kata Haris.

Jiel mengangguk dan langsung bersiap-siap ke sekolah.

Ini hari ketiga tanpa Arkan. Belum ada tanda-tanda bahwa abangnya itu akan pulang.

Sekarang Jiel sedang berada di lapangan. Pelajaran olahraga nya baru saja selesai beberapa menit yang lalu.

“Jiel, sini!” panggil seseorang dari arah tribun. Ternyata Ajun, Haris, Asa, dan Danny.

“Gue kesana ya,” kata Jiel kepada Juju dan Darel yang masih memfokuskan diri mereka bermain basket.

Jiel langsung menghampiri mereka.

“Kayak ada yang kurang deh,” celetuk Jiel sambil memperhatikan mereka.

“Pacar gue ga ada,” sahut Danny.

Jiel tergelak, “sabar ya kak, aku tau kok kak Danny kangen sama abang.”

“Bukan main dia mah,” sahut Ajun.

“Oh iya, kak Jo mana?” tanya Jiel.

Belum sempat ada yang menjawab, Jo datang.

“Asa…,” panggil Jo. Yang dipanggil hanya mendengus lalu pergi meninggalkan mereka ditribun.

Jo menghela nafasnya, lalu terduduk.

“Kak Asa kenapa?” tanya Jiel heran.

Haris langsung menarik Jiel duduk disebelahnya.

“Duduk, emang ga capek berdiri terus?”

Jiel terkekeh.

“Gue ga paham,” kata Jo tiba-tiba. Semuanya menengok.

“Gue ga paham kenapa Asa menghindar terus dari gue, padahal gue ga buat salah apa-apa,” lanjut Jo.

“Jiel, sini bentar!” panggil Darel dari arah lapangan.

“Bentar kak,” Jiel langsung berlari kearah Darel.

“Kak Jo pacaran sama Zeline?” tanya Darel yang langsung mendapat tabokan dari Jiel dilengannya.

“Gosip mana lagi?”

Darel menunjukkan handphone nya yang disana tertera foto Jo dan Zeline berangkat ke sekolah bareng.

“Ada videonya juga anjir,” kata Juju dan menunjukkan video tersebut.

Jiel melongo.

‘Katanya kak Jo ga suka Zeline?’ batin Jiel.

Lalu ia tersadar, sepertinya ini berhubungan dengan mengindarnya Asa.

“Jadi mereka pacaran ga?”

“Mana gue tau,” jawab Jiel.

“Ih, yaudah sana lu balik, kak Haris noh liatin lu mulu, berasa gue ngapa-ngapain lu,” kata Darel.

Jiel mendengus lalu kembali ke arah tribun.

“Kenapa si Darel?” tanya Haris.

“Ngajak gibah kak Jo,” kata Jiel lempeng.

“Hah? Gue?” tanya Jo. Jiel mengangguk.

“Jujur bangt ni anak,” kata Danny sambil mengusak-ngusak rambut Jiel.

“Kak Jo pacaran sama Zeline?” tanya Jiel.

“Hah? Siapa yang bilang gitu?” tanya Jo.

“Ga ada yang bilang, aku nanya aja, kalau ngga pacaran kenapa kalian pergi bareng tadi?”

“Gue nemu dia dipinggir jalan, katanya diturunin sama papa nya disitu, jadi ya karena gue baik ya gue tumpangin,” kata Jo.

“Katanya lu ga demen, tapi ngeboncengin,” kata Haris.

“Plin-plan banget,” kata Danny.

“Ya gue masih ada rasa kemanusiaan lah anjir,” kata Jo.

“Jadi kak Jo ngga pacaran sama Zeline?”

“Ya ngga lah! Suka aja ngga!”

“Yaudah, kalau gitu jelasin ke kak Asa,” kata Jiel.

Jo mengangkat alisnya.

“Kak Asa ngambek dari kapan?” tanya Jiel.

“Tadi pagi.”

“Aku rasa kak Asa cemburu pas tau kak Jo berangkat bareng Zeline,” kata Jiel.

“Hah? Maksudnya?” tanya Jo.

“Alasannya apa lagi kalau bukan cemburu? Kemarin masih baik-baik aja kan? Saranku mending jelasin aja ke kak Asa, kalau dia masih ga percaya ya terserah itu urusan dia, tapi seenggaknya kak Jo udah jelasin,” kata Jiel.

Jo terdiam.

“Kalau dia gamau ngomong sama gue gimana? Tadi aja dia menghindar gitu.”

“Kak Jo temenan sama kak Asa udah berapa lama sih? Masa ginian aja gatau, ya pancing lah! Kak Jo pasti tau dong kelemahan kak Asa apa? Pake cara itu biar Asa mau ngomong sama kak Jo,” kata Jiel ngegas.

Jo speechless.

“Lu kok paham banget beginian?” tanya Ajun.

“Gimana ga paham, abang kalau berantem sama kak Danny minta sarannya sama aku terus,” kata Jiel.

Danny terkekeh.

“Aku ganti baju dulu ya kak, ga enak nih udah gerah,” kata Jiel.

Mereka mengangguk.

“Nanti istirahat ditempat kita,” kata Haris.

“Siap!”

Haris terkekeh lalu mengusak rambut Jiel.

Yang diusak langsung berlari dan menghampiri dua temannya.

“Cih bulol,” kata Ajun.

“Gausah komen, Dika noh kejar,” kata Haris lalu pergi dari sana.

“Kurang ajar!”

“Sini,” kata Haris sambil menepuk sofa disebelahnya. Jiel mendudukkan dirinya disana.

“Mau nonton apa kak?”

“Kamu pilih aja,” kata Haris sambil memberi remote tv.

‘Ini kak Haris ga salah ngomong? Kenapa jadi aku-kamuan anjir,’ batin Jiel.

Lalu Jiel mencari film dari tv Haris.

“Ini aja mau kak?” tanya Jiel.

The chronicles of Narnia?”

Jiel mengangguk, “ada 3 filmnya, kalau kak Haris suka kita bisa nonton lagi kapan-kapan.”

Haris tersenyum kecil.

“Boleh.”

Sampai akhirnya mereka menonton sampai habis dan Jiel pun kembali ke kamarnya.

“Assalamualaikum,” kata Haris membuka pintu. Dibelakangnya ada Jiel dan Arkan.

“Waalaikumsalam, eh ini Aziel ya?” tanya bunda Haris.

“Iya tante, panggil Jiel aja,” kata Jiel sambil salim.

“Aduh gemesnya, panggil bunda aja ya Jiel,” kata bunda Haris.

Jiel terkekeh lalu mengangguk, “iya bunda.”

“Bunda, Arkan nitip Jiel ya, kalau nakal marahin aja gapapa kok,” kata Arkan.

“Anak gemes gini mah mana tega mau marahin,” kata bunda Haris. Jiel hanya terkekeh.

“Yaudah kalau gitu Arkan pamit ya bun, soalnya besok penerbangan pagi,” kata Arkan.

“Iya, hati-hati ya Arkan,” kata bunda Haris.

“Jiel gue pergi ya,” kata Arkan. Jiel yang agak tidak rela ditinggal Arkan langsung memeluk Arkan.

“Salam sama Mama-Papa, jangan kelamaan disana, bawain oleh-oleh,” kata Jiel.

“Iya-iya, udah sana,” Arkan melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Jiel lalu pergi dari rumah Haris.

“Eh Abang ayo anter Jiel ke kamarnya,” kata sang ibunda. Haris mengangguk dan langsung membawa Jiel ke kamar tamu.


“Lu tidur disini, kamar gue disebelah, kalau mau apa-apa panggil gue aja,” kata Haris.

“Iya, makasih ya kak Haris, maaf ngerepotin.”

“Nggak ngerepotin selagi itu Aziel Kalandra,” kata Haris sambil mengusak rambut Jiel lalu pergi meninggalkan Jiel.

‘Kak Haris ga sopan, udah baper gini main pergi aja!’ batin Jiel.