Undangan
Jiel beserta kedua temannya kini sedang asik makan bersama Elixir. Tiba-tiba seorang kakak kelas yang Jiel ketahui bernama Haidar menghampiri mereka.
“Oy Elixir, dateng ya ke birthday party gue,” kata Haidar sambil menyerahkan sebuah undangan.
Asa mengambil undangan tersebut dan membacanya.
“Besok banget?” tanya Asa.
“Iya, besok banget, hari Jumat, jam 7 malem sampe selesai,” jelas Haidar.
“Mendadak amat, belom nyari kado nih,” kata Haris.
“Yaelah Ris, gausah kali, kayak sama siapa aja lu,” Haidar terkekeh.
Lalu Haidar melirik ke arah Jiel.
“Oh iya, lu Aziel adeknya Arkan kan? Lu gue undang juga, ikut aja gapapa, dua temen lu juga boleh ikut kok,” kata Haidar sambil menunjuk kedua sahabat Jiel.
Jiel tersenyum, “aku sama temen-temenku diusahain dateng ya kak.”
Haidar mengangguk.
“Yaudah sob, gue balik ya, jangan lupa dateng, gausah bawa kado juga gapapa, yang penting doa nya, bye.” kata Haidar lalu pergi.
“Kak Haidar cakep ya,” celetuk Juju.
Darel mengangguk, “dah punya pacar Ju, namanya Marko, tau ga?”
Mata Juju membulat, “kak Marko yang bule itu?”
Darel mengangguk.
“Kalian dateng?” tanya Jiel.
“Gue kosong sih, dateng kayaknya,” kata Darel.
Juju mengangguk, “gue juga.”
“Nanti pulang mau cari kado ga?” tanya Danny.
“Dimana?” tanya Ajun.
“Mall deket sini aja, kita bareng-bareng nyarinya,” kata Danny.
“Kalian ikut aja ya.” kata Jo kepada Jiel, Juju, dan Darel.
Mereka mengangguk, “iya.”