Haidar’s Birthday Party
“Kak Haidar, selamat ulang tahun ya, ini kado dari Jiel, semoga suka, oh iya, kata bang Arkan kado dari dia menyusul ya.” kata Jiel.
“Kan gue bilang ga usah ngasih kado, yang penting doa nya,” kata Haidar.
“Gapapa, aku baru pertama kali lho ke birthday party kakak kelas gini, harus totalitas,” kata Jiel.
Haidar dan beberapa teman serta pacarnya terkekeh mendengar omongan Jiel.
“Lu beneran adeknya Arkan? Kok gemes sih, Arkan nya mah boro-boro,” teman Haidar yang bernama Naren. Sontak hal tersebut membuat mata Haris memicing ke arah Naren.
“Iya Haris ga bakal gue ambil, gue udah punya Jericho,” kata Naren.
“Santai Ris,” kata Jo terkekeh.
“Cie Jiel,” bisik Darel dan Juju.
“Apaan sih,” Jiel salting.
Suasana dirumah Haidar sangat ramai saat ini. Tamu tidak hanya diisi oleh murid sekolah Jiel, ada beberapa dari murid sekolah sebelah karena Haidar memang cukup social butterfly.
Jiel dan kedua temannya memisahkan diri dari Elixir, karena ketiga sahabat itu ingin memburu makanan.
“Jiel? Kamu disini?” tanya Windy dan Zeline yang tiba-tiba datang.
“Iya, diundang sama kak Haidar.”
Windi mengangguk, “oke, kita ke belakang ya.”
Jiel mengangguk, mendengar itu, Jiel langsung tertarik untuk pergi ke halaman belakang.
“Ju, Rel, kebelakang yuk!” ajak Jiel yang langsung disetujui oleh kedua temannya.
“Wah anjir, makanan nya lebih banyak,” kata Juju lalu langsung melahap kue didepannya.
Darel mengusap-usap perutnya, “ga jadi kenyang, laper lagi liat ginian.”
Jiel terkekeh melihat kelakuan dua sahabatnya.
Jiel, Juju, dan Darel berdiri dipinggir kolam renang sambil melahap kue mereka.
Tiba-tiba, Jiel terdorong dari belakang yang menyebabkan Jiel jatuh ke kolam renang.
Jiel tidak bisa berenang, ditambah kakinya tiba-tiba keram didalam air. Ia berusaha menahan nafasnya didalam air.
Haris yang sedari tadi memperhatikan Jiel dari dalam kini langsung menyebur ke dalam kolam renang.
Dibawa nya tubuh Jiel ke atas. Jiel sudah tidak sadarkan diri. Haidar dan teman-temannya datang melihat.
“Siapa yang dorong?” tanya Asa kepada Juju dan Darel.
“Gatau kak, kita lagi sama-sama ngadep ke depan situ,” kata Juju dengan gemetar, dia takut jika Jiel kenapa-kenapa.
Melihat itu, Darel langsung merangkul Jiel.
“Tapi sumpah kak, dibelakang kita kosong, rame nya disebelah sana, kalau kesenggol juga ga mungkin soalnya ini jalan kan gede banget,” jelas Darel.
“Wah sengaja ini mah,” timpal Haidar.
“Woy, siapa yang dorong dia?!” tanya Jo lantang.
“Ngaku ga lo semua?!” kata Ajun.
“Kalau sampe ketauan siapa pelakunya, abis lo!” ancam Danny.
Haris memberikan pertolongan pertama kepada Jiel, namun itu semua sia-sia sampai akhirnya ia memberikan nafas buatan kepada Jiel.
Jiel terbatuk lalu sadar. Haris langsung memeluk tubuh Jiel.
“Kamu gapapa?” tanya Haris.
Jiel gemetar.
“Kak Haris…, takut,” kata Jiel dan mengeratkan pelukannya pada Haris.
Haris membopong tubuh Jiel keluar dari rumah Haidar dan membawa masuk ke mobilnya lalu pergi ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja.
“Dar, sorry pesta lo jadi ancur gini,” kata Asa.
“Ngapain minta maaf? Bukan salah lo ataupun Jiel,” kata Haidar.
“Kita harus cari tau sih siapa pelakunya,” kata Marko.
Mereka mengangguk.
“Ayo cek cctv, kita liat siapa yang dorong Jiel,” kata Haidar.
“Lu sama Asa susulin Haris, pasti dia bawa Jiel ke rumah sakit bokapnya, biar gue sama Danny disini,” kata Ajun kepada Jo.
Jo dan Asa mengangguk lalu pergi.
“Kalian pulang aja, sama supir kan?” kata Danny kepada Juju dan Darel.
Mereka mengangguk.
“Kita duluan ya kak.”
“Hati-hati.”