Rumah Haris
“Assalamualaikum,” kata Haris membuka pintu. Dibelakangnya ada Jiel dan Arkan.
“Waalaikumsalam, eh ini Aziel ya?” tanya bunda Haris.
“Iya tante, panggil Jiel aja,” kata Jiel sambil salim.
“Aduh gemesnya, panggil bunda aja ya Jiel,” kata bunda Haris.
Jiel terkekeh lalu mengangguk, “iya bunda.”
“Bunda, Arkan nitip Jiel ya, kalau nakal marahin aja gapapa kok,” kata Arkan.
“Anak gemes gini mah mana tega mau marahin,” kata bunda Haris. Jiel hanya terkekeh.
“Yaudah kalau gitu Arkan pamit ya bun, soalnya besok penerbangan pagi,” kata Arkan.
“Iya, hati-hati ya Arkan,” kata bunda Haris.
“Jiel gue pergi ya,” kata Arkan. Jiel yang agak tidak rela ditinggal Arkan langsung memeluk Arkan.
“Salam sama Mama-Papa, jangan kelamaan disana, bawain oleh-oleh,” kata Jiel.
“Iya-iya, udah sana,” Arkan melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Jiel lalu pergi dari rumah Haris.
“Eh Abang ayo anter Jiel ke kamarnya,” kata sang ibunda. Haris mengangguk dan langsung membawa Jiel ke kamar tamu.
“Lu tidur disini, kamar gue disebelah, kalau mau apa-apa panggil gue aja,” kata Haris.
“Iya, makasih ya kak Haris, maaf ngerepotin.”
“Nggak ngerepotin selagi itu Aziel Kalandra,” kata Haris sambil mengusak rambut Jiel lalu pergi meninggalkan Jiel.
‘Kak Haris ga sopan, udah baper gini main pergi aja!’ batin Jiel.