I Always Love You
Ravin menunggu beberapa kakak kelas yang menghajar habis-habisan pacarnya itu di ujung gang. Niat ingin membantu namun ia teringat ucapan ayahnya.
“Inget ya Ravin, jangan nonjok orang yang masih dibawah umur.”
Ravin menghela nafasnya ketika melihat Rizel yang sudah tergeletak dengan wajah memar penuh darah. Ia langsung menghampiri pacarnya itu ketika kakak kelas nya sudah pergi dari sana.
“Vin…,” panggil Rizel.
Ravin langsung memapah Rizel dengan hati-hati.
“Jelasin dirumah,” kata Ravin dingin.
Rizel hanya bisa mengangguk.
“Tunggu disini, gue ganti baju dulu,” kata Ravin setelah mendudukkan Rizel disofa.
Rizel mengangguk.
‘Waduh udah pake gue-lo, marah beneran ini mah,’ batin Rizel.
Ravin keluar dari kamar dengan membawa celana pendek dan kaos untuk Rizel.
“Ganti dulu celananya, baju nya jangan dipake dulu, luka lo sampe badan-badan,” kata Ravin lalu pergi ke dapur untuk mencari kotak P3K.
“Kamu liat tapi kenapa ga bantuin sih?” protes Rizel ketika Ravin sudah mulai mengobati lukanya.
“Ga minat,” balas Ravin.
“Kok gitu sih Apin…,” Rizel memajukan bibirnya.
Ravin tak menjawab. Ia hanya fokus mengobati luka di badan Rizel.
Setelah Ravin selesai mengobati luka di bagian perut Rizel, Rizel memakai kaos yang diberi Ravin dan Ravin beralih untuk mengobati luka yang berada pada wajah Rizel.
“Aw, pelan-pelan Apin, sakit…,” keluh Rizel.
“Salah sendiri siapa suruh berantem?”
“Dia duluan Apin,” kata Rizel sambil menahan rasa sakitnya.
“Ck, dia ga bakalan nonjok lo kalau lo ga ngatain pacar dia ‘jalang’,” kata Ravin.
“Kok kamu tau?”
“Ya lo ngomongnya gede banget di kantin?” balas Ravin.
“Terus kamu belain dia?!” kata Rizel marah.
“Ya lo ngatain pacar dia?” Ravin gamau kalah.
Rizel menghembuskan nafasnya kasar.
“Pacarnya yang sering deketin kamu akhir-akhir ini, udah aku nasihatin baik-baik, tetep ga di denger, aku udah kesel,” kata Rizel.
“Tetep aja lo ga boleh ngatain orang sembarangan kayak gitu,” kata Ravin.
Rizel menunduk.
“Iya maaf,” kata Rizel.
Ravin menutup kotak P3K setelah selesai mengobati Rizel. Melihat Rizel yang menunduk itu sontak membuat Ravin gemas dan mengusak kepala Rizel.
“Ngomongnya jangan gue-lo lagi Apin…,” rengek Rizel.
“Iya Ijel, Apin minta maaf, tapi Ijel jangan ulangin lagi ya?” kata Ravin sambil mengangkat dagu Rizel.
Rizel menatap mata Ravin.
“Iya janji Apin,” kata Rizel. Ravin tersenyum.
“Laper gak? Mau makan apa?” tanya Ravin.
“Mau peluk Apin aja boleh nggak? Kangen Apin,” kata Rizel.
Ravin tertawa. Ia membuka tangannya lebar.
“Sini.”
Rizel langsung menubrukkan dirinya ke dalam pelukan Ravin.
“Kenapa kangen, hm? Kan setiap hari ketemu di sekolah?” tanya Ravin sambil mengecup kepala Rizel.
“Gatau, rasanya kita jauh banget akhir-akhir ini,” kata Rizel.
“Aku juga kangen kamu,” kata Ravin.
“Aku minta maaf ya,” kata Rizel tiba-tiba.
Ravin menatap Rizel, “kenapa?”
“Maaf karena aku belum pantes buat kamu, aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu, kelakuan aku setiap hari buat kamu capek. Aku kadang heran sama diri aku sendiri, kok bisa aku yang jelek, suka cari masalah, langganan BK, dapet pacar yang pengertian, baik, pinter, sabar, dan ganteng kayak kamu,” kata Rizel.
Ravin tertegun.
Hey siapa yang buat Rizel-nya menjadi insecure seperti ini?
“Sayang, kamu ga perlu minta maaf, dari awal aku yang milih kamu untuk jadi pasanganku. Terus kata siapa kamu jelek? Kamu itu manis Ijel, manis banget. Sekarang jujur sama aku, siapa yang buat kamu insecure?”
“Ngga insecure, yang anak-anak omongin disekolah kan bener, aku ga pantes buat kamu,” kata Rizel.
“Hey, look at me,,” kata Ravin.
Rizel menatap Ravin, kedua pipinya di pegang oleh kedua tangan Ravin.
“Ngga ada yang namanya ‘Rizel ga pantes buat Ravindra,’ kamu itu yang paling pantes buat aku Ijel, justru karena perbedaan kita, kita saling melengkapi,” jelas Ravin.
“Jangan ngomong gitu lagi, aku ga suka Ijel, aku cinta kamu karena itu kamu, ngga ada alasan lain, dan jangan dengerin orang lain, cukup denger aku aja,” lanjut Ravin.
Mata Rizel memanas. Lalu ia memeluk Ravin kembali.
“Iya Apin, maaf ya,” kata Rizel.
Ravin mengangkat dagu Rizel lalu mencium hidung, kening, dan kedua pipi Rizel.
“Dimaafin,” kata Ravin sambil tersenyum.
“Kok bibirnya nggak dicium?” tanya Rizel.
“Males, kamu kan suka ketagihan,” kata Ravin.
Rizel memajukan bibirnya.
“Ngga Apin, beneran sekali kecup aja gapapa, udah lama tau,” kata Rizel sambil memegang bibir Ravin.
Ravin hanya merespon dengan mengangkat alisnya.
“Ah lama Apin mah,” kata Rizel lalu mencuri start dengan mengecup bibir Ravin duluan.
“Dih nakal, cium-cium duluan,” kata Ravin setelah Rizel mengecup Ravin.
“Hehe, lama sih,” kata Rizel.
“Balikin,” kata Ravin.
“Apanya?” tanya Rizel.
Tanpa basa-basi Ravin menarik tengkuk Rizel dan mencium nya dalam.
Kali ini bukan hanya kecupan, tapi didominasi sedikit lumatan.
Tautan terlepas ketika Rizel sudah kehabisan napas.
“Kok?!”
“Apa?” tantang Ravin.
“Ih curang, tadi aku kecup-kecup doang,” kata Rizel.
“Bodo amat,” balas Ravin.
“Eh Pin,” panggil Rizel.
“Apa?”
“Mau lagi hehe.”
Kan.
24/10/2021, aqilah.