Alasan

Ini hari Senin. Sudah 3 hari sejak kejadian yang menimpa Jiel. Arkan sudah memaksanya untuk tidak masuk sekolah dulu karena Jiel sempat demam. Namun, Jiel tetaplah Jiel, karena ia sudah merasa fit, ia tetap akan sekolah meskipun trauma itu belum hilang.

“Istirahat nanti ga usah kemana-mana, dikelas aja, makan bekel yang gue buat, kalau masih mau jajan nitip aja sama Juju atau Darel,” kata Arkan setelah sampai didepan kelas Jiel.

“Iya abang, abang udah tiga kali loh ngomong gini,” kata Jiel.

“Gue khawatir anjir,” kata Arkan.

“Iya iya tau, udah sana, dikit lagi masuk,” usir Jiel. Arkan mengangguk lalu pergi dari sana.

“Kok lo masuk?!” tanya Darel ketika Jiel masuk kelas.

“Ya emang kenapa?”

“Udah sehat emang?” tanya Juju. Jiel mengangguk.

“Duh, harusnya lo tuh memanfaatkan kesempatan aja, kan enak tidur dirumah,” kata Darel.

“Darel goblok, ajaran sesat banget lu,” kata Jiel. Sedangkan Juju menggeplak kepala Darel.

“Jangan kasar-kasar, aku takut,” kata Darel dramatis.

“Jijik!” sahut Jiel dan Juju.


“Cerita,” desak Asa kepada Arkan. Mereka kini sedang berada diruang musik setelah mereka beristirahat.

Arkan menghela nafasnya.

“Gue mantau,” kata Arkan.

“Hah? Mantau siapa lo?” tanya Jo.

“Mantau Jiel,” jawab Arkan.

Teman-temannya memasang wajah bingung.

“Heh kampret, kalau jelasin jangan setengah-setengah anjrit,” kata Ajun.

“Ck, iya ini gue jelasin, jadi gue ke Singapura tuh minta salah satu orang suruhan papa buat mantau Jiel, dan ya mereka terbang kesini, terus langsung mantau Jiel, jadi kalau ada yang jahat ke Jiel mereka kasih tau gue, sebenernya selama ini gue tau siapa yang udah jahat sama adek gue, cuma pura-pura kaget aja pas di chat,” jelas Arkan.

“Dan kenapa gue harus di Singapura? Yap, karena gue ga mau Jiel tau tentang ini dan juga sekalian mancing si penjahat kalau gue ga ada tuh gimana haha, oh iya sebenernya emang ada obrolan tentang keluarga juga, tentang gue yang disuruh jadi penerus bokap, tentang mereka kapan pulang, dan tentang gue dan Jiel nantinya,” lanjut Arkan.

Mereka manggut-manggut paham.

“Jadi, lo tau siapa yang selama ini jahat sama Jiel?” tanya Jo.

Arkan mengangguk.

“Rea sama temen-temennya disuruh sama ‘dia’,” kata Arkan.

What the fuck?” kata Haris.

“Beneran cewek pelakunya?” tanya Danny.

Arkan mengangguk.

“Siapa sih?” tanya Ajun.

Arkan menghela nafasnya.

“Pelakunya….”