11 PM
Jiel membuka matanya perlahan. Pusing melanda kepalanya. Ia tertidur setelah minum obat tadi. Kini ia sudah berada dikamar Haris.
“Jiel? Butuh apa? Masih pusing?” tanya Haris yang berada disebelahnya.
“Pusing dikit tapi gapapa, ini jam berapa kak?” tanya Jiel.
“Jam 11, kamu tidur aja lagi,” kata Haris.
Jiel menggeleng.
“Udah ga ngantuk.”
“Jiel,” panggil Haris.
“Apa?”
“Kamu kok bisa jatuh ke kolam?”
“Aku gatau kak, aku lagi makan sama Juju Darel, tiba-tiba aku kayak didorong gitu, yaudah jatuh,” jelas Jiel.
Haris menghela nafasnya.
Jiel beneran didorong ternyata.
“Tenang aja Jiel, aku sama yang lain bakal nyari siapa yang udah dorong kamu,” kata Haris.
“Makasih kak Haris,” Jiel tersenyum manis. Haris terpesona.
“Sama-sama.”
“Kak Haris, boleh kirimin kontaknya kak Haidar? Aku pengen minta maaf karena udah bikin kacau pestanya,” kata Jiel.
“Hey, kamu nggak bikin kacau Jiel, jangan salahin diri sendiri,” kata Haris.
“Tetep aja aku ga enak kak, kirimin ya kontaknya?”
Haris menghela nafasnya lalu memberikan ponselnya kepada Jiel.
“Pake hp aku aja.”
Jiel mengangguk lalu mulai mengetik pesan kepada Haidar.