Soft
Jiel dibawa oleh Elixir ke ruang musik sekolah yang sudah menjadi hak paten mereka karena itu didonasikan oleh papa nya Danny.
“Lu berdua masuk kelas aja, nanti bilangin Jiel ada di UKS,” kata Arkan kepada Juju dan Darel. Mereka berdua mengangguk lalu pergi.
“Coba ceritain,” kata Arkan setelah Jiel duduk disofa.
Jiel menghela nafas, “ya gitu, tadi Jiel lagi makan bakso enak-enak, dia tiba-tiba narik kerah Jiel.”
“Kenapa ga dilawan?” tanya Arkan.
“Ya itu udah ngelawan, tangannya udah Jiel cengkram, Jiel gamau lebih kasar lagi soalnya dia cewek.”
“Masih laper ga?” tanya Arkan.
Jiel mengangguk. “Tadi bakso nya belom abis.”
Lalu Arkan keluar dari ruang musik bersama Danny untuk membelikan makanan untuk Jiel.
Yang tersisa diruang musik hanya Asa yang tidur disofa sebrang Jiel dengan Jo yang juga tertidur dipaha Asa dan Haris yang terduduk di sebelah Jiel. Ajun sedang keluar entah kemana.
“Masih sakit ngga?” tanya Haris.
“Dikit, agak pusing juga sih,” kata Jiel.
“Sini,” kata Haris.
“Hah?”
Haris langsung merebahkan Jiel diatas pahanya lalu mengusap kepala itu lembut.
Jiel yang mendapat serangan mendadak tersebut langsung terdiam.
Beberapa menit berlalu, Haris masih setia mengusap kepala Jiel sambil memainkan handphone nya.
Jiel menatap wajah diatasnya.
‘Ganteng,’ kata Jiel dalam hati.
“Jangan liatin gue terus, gue tau gue ganteng,” kata Haris tiba-tiba.
Jiel gelagapan.
“Siapa juga yang liatin, ih kak Haris pede banget kayak Darel,” kata Jiel sambil memajukan bibirnya.
Haris terkekeh.
“Gue boleh follow twitter lu?” tanya Haris.
“Ya boleh aja kak,” kata Jiel.
Haris tersenyum dan itu sukses membuat Jiel tersipu.
Lalu tidak lama kemudian Arkan dan Danny datang membawa makanan untuk Jiel yang langsung disantap oleh Jiel.