Only him

Haris melangkahkan kakinya ke kantin bersama Arkan. Ia mendengus. Hari ini ada saja yang membuatnya kesal. Dari mulai anak remaja yang menyenggol bagian belakang motornya, orang-orang yang cari perhatian kepadanya, sampai lupa membawa airpods kesayangannya.

Haris mendudukan dirinya dibangku kantin. Dilihatnya Jo yang sedang merangkul Asa sedangkan Ajun dan Danny belum datang.

‘Cih, mesra-mesraan tapi kagak jadian’ batin Haris sebal.

“Kusut amat lo,” kata Jo. Haris hanya mengangkat bahunya malas.

“Kenapa dia?” tanya Jo kepada Arkan. Arkan hanya mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu.

Beberapa menit kemudian, Danny dan Ajun pun datang diikuti oleh Jiel dan kedua temannya.

“Kenapa?” tanya Arkan. Pasalnya Danny memasang wajah yang masam.

“Jiel dikerumunin sama cewek-cewek, mereka minta ke Jiel biar mereka deket sama kita,” kata Danny kesal.

“Jiel gapapa?” tanya Haris kepada Jiel yang sekarang duduk disebelahnya.

“Gapapa kak Haris,” kata Jiel sambil tersenyum manis yang membuat Haris ikut tersenyum.

‘Manis banget sih,’ batin Haris.

Saat mereka sedang asik makan, datang dua cewek yang salah satunya merupakan most wanted versi cewek disekolah mereka yang bernama Windy Pramitha.

“Hai kalian! Aku boleh join disini?” tanya Windy kepada Elixir.

“Hai kak Jo,” kata cewek di sebelah Windy.

Jo hanya mengangguk.

Jiel dan kedua temannya hanya diam, merasa tidak berhak untuk berbicara apapun.

“Nggak,” tolak Asa.

“Tapi tempat yang lain udah penuh,” kata Windy.

“Bukan urusan kita,” sahut Ajun.

“Tapi kan kita tem—,” ucapan Windy terputus.

“Bukan temen, gue ga kenal sama lo,” sahut Asa lagi.

“Asa kita seangkatan, aku, Haris sama Arkan juga temen sekelas,” kata Windy.

“Terus?” tanya Ajun.

“Daripada lu bikin gue kesel, mending pergi,” kata Arkan.

Windy menahan emosinya.

“Iya, selamat makan,” katanya lalu pergi.

“Dadah kak Jo, sampai ketemu lagi,” kata cewek yang disamping Windy. Jo tidak menanggapi.

“Bang Arkan kok gitu, kan kasian,” kata Jiel.

“Jangan kasian Jiel, meskipun dia cantik tapi mematikan,” kata Ajun.

“Cantik loh padahal,” kata Jiel.

“Ga tertarik, kita disini demen cowok semua,” sahun Jo.

Semuanya tergelak.

“Eh tapi tau ga sih, itu yang tadi disebelah kak Windy anak baru yang gue ceritain,” kata Darel.

“Siapa namanya?” tanya Juju.

“Zeline, anak 11 IPS 1,” jawab Darel.

“Jadi mau lu gebet Ju?” tanya Jiel.

Juju mendelik, “ogah, gue sukanya kak Yoga, lagi juga kayaknya dia suka kak Jo deh.”

“Ga demen gue,” sahut Jo.


Kelas Haris kini sedang melakukan olahraga baseball. Haris dan Arkan yang sudah selesai praktek menonton teman-temannya dari pinggir lapangan.

“Kantin ga?” tanya Haris kepada Arkan.

Arkan menggeleng, “gausah, gue udah minta Jiel beliin minuman, nanti anaknya nganterin.”

“Lah emang ga belajar dia nya?”

“Jamkos katanya.”

“Haris, nih minum buat kamu,” tiba-tiba Windy datang dengan 2 botol minuman ditangannya. “Satu lagi nih buat Arkan.”

“Ga usah, makasih,” kata Haris. Arkan hanya diam tidak menanggapi.

“Ih gapapa tau Ris, ini ambil,” kaya Windy.

“Nih,” Jiel tiba-tiba datang dan memberikan plastik belanjaannya kepada Arkan.

“Duduk sini dulu,” kata Arkan, Jiel menurut.

“Ih Jiel, kok abis olahraga dibeliin cola? Ga boleh tau, bahaya, mending air mineral aja, kayak gini,” kaya Windy sambil memamerkan botol minumnya.

Jiel mengangkat alisnya, “tapi—.”

“Buang aja itu Jiel, aku udah bawain air mineral kok buat mereka,” kata Windy.

“Gue yang nyuruh, ga usah protes,” kata Arkan.

“Tapi Ar, sebagai adek harusnya Jiel tau mana yang baik dan nggak buat abangnya,” kata Windy.

‘Agak ngeselin juga ya,’ batin Jiel.

“Lo bacot banget sih? Gausah ngatur, emang lo siapa?” kata Haris.

Windy mendengus lalu pergi meninggalkan mereka.

“Gausah dipikirin,” kata Arkan lalu pergi ke lapangan karena dipanggil oleh guru olahraganya.

“Jiel?” panggil Haris.

“Ya kak?”

“Jangan dipikirin omongan Windy ya,” kata Haris sambil mengusap rambut belakang Jiel.

Jiel mengangguk.

“Kok tumben mau disuruh Arkan?” tanya Haris.

“Dapet duit hehe,” kata Jiel cengengesan.

Haris menatap Jiel dari samping. Ia terhipnotis dengan senyuman Jiel yang sedang melihat ke arah lapangan.

“Aku baru sadar,” kata Jiel tiba-tiba.

“Apa?”

“Bang Arkan lumayan ganteng ya.”

Haris terkekeh, “kalau ga ganteng mana mungkin diincer sama banyak cewek, mana mau juga Danny sama dia.”

“Iya sih.”

“Kalau gue gimana?” tanya Haris. Jiel menoleh.

“Apa?”

“Ganteng gak?” tanya Haris.

Jiel tersenyum manis, “ganteng kok.”

Haris terkekeh, “gantengan mana sama Arkan?”

“Gantengan kak Asa,” jawab Jiel.

“Heh,” Jiel terkekeh.

Haris lagi-lagi terpesona. Hanya Jiel yang mampu membuatnya seperti itu. Hanya Jiel yang mampu membuat hari Haris kembali cerah. Ya, hanya Jiel.

“Kak, Jiel ke kelas dulu ya, udah mau masuk ke pelajaran selanjutnya,” Haris mengangguk.

Tiba-tiba dari arah samping terlempar sebuah tongkat baseball ke arah Jiel, hal itu sontak membuat Haris berlari ke arah Jiel lalu memeluknya agar Jiel tidak terkena lemparan tersebut.

“Aish,” Haris meringis karena tongkat baseball tersebut mengenai punggungnya.

Haris menengok ke arah datangnya tongkat baseball tersebut, namun nihil, ia tak menemukan siapapun disana.

Jiel shock. Murid-murid yang berada di lapangan menonton kejadian tersebut.

“Jiel gapapa?” tanya Haris.

Jiel menggeleng.

“K-kak Haris…,”

“Gue gapapa, ayo gue anter ke kelas,” Jiel menggeleng.

“Ke UKS,” kata Jiel.

“Jiel.”

“Ke UKS kak Haris,” Haris menghela nafasnya dan menatap tangannya ditarik oleh Jiel ke UKS.