Malam Minggu
“Kita mau kemana kak?” tanya Jiel saat motor Haris berhenti di lampu merah.
“Jiel mau nya kemana?” tanya Haris.
“Bingung,” jawab Jiel.
“Mau nonton gak?” tawar Haris.
Jiel berpikir, “boleh deh.”
Lalu lampu berubah menjadi hijau dan motor Haris melaju ke arah Mall.
“Mau nonton apa?” tanya Haris saat mereka telah memasuki bioskop.
Jiel melihat jadwal film yang ada.
“Film itu mau ga kak? Lagi rame banget disekolah,” kata Jiel sambil menunjuk poster film horor yang berada di depan teater.
Haris menaikkan alisnya, “yakin? ga takut?”
Jiel menggeleng, “nggak, paling cuma kaget aja.”
Sebenarnya Jiel agak takut juga, tapi karena kepo filmnya seperti apa, Jiel mau tidak mau harus menonton.
Haris terkekeh, “yaudah ayo pesen tiketnya.”
Jiel dan Haris keluar dari teater dengan Jiel yang masih setia memegang lengannya semenjak film dimulai.
Haris mendudukan Jiel dikursi depan teater dan mengusap tangan Jiel yang masih setia memeluk lengannya.
“Serem banget kak,” lirih Jiel. Haris terkekeh dibuatnya.
“Katanya berani,” ledek Haris.
“Berani kalau ga serem.”
Haris mengacak rambut Jiel gemas.
“Laper gak? Mau makan apa?” tanya Haris.
“Mau udon boleh?” tanya Jiel dengan mata yang berbinar. Haris gemas melihatnya.
“Boleh, ayo,” Haris menggenggam tangan Jiel dan itu sukses membuat pipi Jiel bersemu.