DEBT
“Gue takut,” timpal Farnaya.
“Heh kunyuk, lu kan yang berbuat, tanggung jawab sono!” sahut Archi.
Kini dua sejoli itu berada diambang pintu ruangan tempat Galenino menunggu Farnaya, namun baik Farnaya maupun Archi tidak ada yang berani memasuki ruangan tersebut.
“Ekhem,” seseorang berdeham. Farnaya dan Archi langsung menegakkan badannya.
“Lo yang namanya Farnaya?” tanya orang itu sambil menunjuk Farnaya. Farnaya mengangguk.
“Gue Patra,” orang itu memperkenalkan diri. “Masuk aja, Galen udah nunggu.”
“Emm, Pat, boleh gak kalau bawa temen gue?” tanya Farnaya.
“Sebenernya boleh-boleh aja sih, cuma Galen mau nya lu sendiri aja, gue aja disuruh keluar,” Patra nyengir. “Temen lu aman sama gue, sana masuk, Galen gak gigit kok.”
Farnaya menatap Archi lalu Archi mengangguk pertanda bahwa ia baik-baik saja.
Farnaya menegukkan ludahnya sendiri dan berdoa dalam hati semoga Galenino bisa ramah kepadanya lalu ia mulai melangkahkan kakinya kedalam ruangan tersebut.
“Galen?” panggil Farnaya setelah melihat seseorang membelakanginya.
Seseorang yang diasumsikan bernama Galenino itu berbalik. Farnaya merasa rasa takutnya meningkat sekarang melihat Galenino berdiri dihadapannya.
“Hai, gue Farnaya, yang DM lu,” kata Farnaya.
Galenino mendekat, Farnaya meringis karena ketakutan.
“Biasanya, orang yang pinjem duit itu melalui Patra, tapi kenapa lu berani banget langsung DM gue?” tanya Galenino.
“Anu, maaf Galen, gue ga liat persyaratannya,” jawab Farnaya.
“Alesan, lu suka gue?” tanya Galenino.
'Hah? Pede amat?' batin Farnaya.
“Gak bisa jawab?” ulang Galenino.
“Gue beneran gak liat persyaratannya Galen, maaf kalau buat lu ga nyaman,” Farnaya menarik nafasnya. “Jadi, apa bisa lu pinjemin gue uang?”
“Lu kira segampang itu? Karena lu DM gue duluan lu harus—,” ucapan Galenino terpotong karena handphone milik Farnaya berbunyi.
Farnaya yang melihat nama “ibu” di layar handphonenya tanpa ragu langsung mengangkatnya.
'Gak sopan, at least minta izin angkat telpon,' batin Galenino.
“Halo? Ada apa, Bu?” tanya Farnaya. Entah apa seseorang disana menjawab apa, jawaban itu membuat Farnaya memelototkan matanya dan menitikkan air mata.
“Kamu bisa tolong shareloc, Dar? Bilang kak Dewa abis ini aku kesana,” suara Farnaya bergetar hebat. Galenino yang melihat itu menaikkan alisnya.
Farnaya memasukkan handphone nya kembali ke sakunya. Ia kemudian berlutut didepan Galenino.
“Tolong..., pinjemin uang buat gue..., gue gatau lagi harus pinjem siapa, tolong, tolong, gue mohon,” Farnaya dengan sangat amat memohon kepada Galenino.
“Tolong gue Galen, gue akan ngelakuin apapun buat lu, tolongin gue...,” Farnaya menangis.
Galenino yang melihat itu tentu merasa bingung sekaligus shock karena baru pertama kali dia dihadapi oleh situasi seperti ini, namun saat ia mendengar kalimat terakhir Farnaya, dia menyunggingkan senyum kecil.
“Alright, sebutin nominalnya, gue kasih buat lu semua.”
geminaifourth