geminaifourth

“Gue takut,” timpal Farnaya.

“Heh kunyuk, lu kan yang berbuat, tanggung jawab sono!” sahut Archi.

Kini dua sejoli itu berada diambang pintu ruangan tempat Galenino menunggu Farnaya, namun baik Farnaya maupun Archi tidak ada yang berani memasuki ruangan tersebut.

“Ekhem,” seseorang berdeham. Farnaya dan Archi langsung menegakkan badannya.

“Lo yang namanya Farnaya?” tanya orang itu sambil menunjuk Farnaya. Farnaya mengangguk.

“Gue Patra,” orang itu memperkenalkan diri. “Masuk aja, Galen udah nunggu.”

“Emm, Pat, boleh gak kalau bawa temen gue?” tanya Farnaya.

“Sebenernya boleh-boleh aja sih, cuma Galen mau nya lu sendiri aja, gue aja disuruh keluar,” Patra nyengir. “Temen lu aman sama gue, sana masuk, Galen gak gigit kok.”

Farnaya menatap Archi lalu Archi mengangguk pertanda bahwa ia baik-baik saja.

Farnaya menegukkan ludahnya sendiri dan berdoa dalam hati semoga Galenino bisa ramah kepadanya lalu ia mulai melangkahkan kakinya kedalam ruangan tersebut.

“Galen?” panggil Farnaya setelah melihat seseorang membelakanginya.

Seseorang yang diasumsikan bernama Galenino itu berbalik. Farnaya merasa rasa takutnya meningkat sekarang melihat Galenino berdiri dihadapannya.

“Hai, gue Farnaya, yang DM lu,” kata Farnaya.

Galenino mendekat, Farnaya meringis karena ketakutan.

“Biasanya, orang yang pinjem duit itu melalui Patra, tapi kenapa lu berani banget langsung DM gue?” tanya Galenino.

“Anu, maaf Galen, gue ga liat persyaratannya,” jawab Farnaya.

“Alesan, lu suka gue?” tanya Galenino.

'Hah? Pede amat?' batin Farnaya.

“Gak bisa jawab?” ulang Galenino.

“Gue beneran gak liat persyaratannya Galen, maaf kalau buat lu ga nyaman,” Farnaya menarik nafasnya. “Jadi, apa bisa lu pinjemin gue uang?”

“Lu kira segampang itu? Karena lu DM gue duluan lu harus—,” ucapan Galenino terpotong karena handphone milik Farnaya berbunyi.

Farnaya yang melihat nama “ibu” di layar handphonenya tanpa ragu langsung mengangkatnya.

'Gak sopan, at least minta izin angkat telpon,' batin Galenino.

“Halo? Ada apa, Bu?” tanya Farnaya. Entah apa seseorang disana menjawab apa, jawaban itu membuat Farnaya memelototkan matanya dan menitikkan air mata.

“Kamu bisa tolong shareloc, Dar? Bilang kak Dewa abis ini aku kesana,” suara Farnaya bergetar hebat. Galenino yang melihat itu menaikkan alisnya.

Farnaya memasukkan handphone nya kembali ke sakunya. Ia kemudian berlutut didepan Galenino.

“Tolong..., pinjemin uang buat gue..., gue gatau lagi harus pinjem siapa, tolong, tolong, gue mohon,” Farnaya dengan sangat amat memohon kepada Galenino.

“Tolong gue Galen, gue akan ngelakuin apapun buat lu, tolongin gue...,” Farnaya menangis.

Galenino yang melihat itu tentu merasa bingung sekaligus shock karena baru pertama kali dia dihadapi oleh situasi seperti ini, namun saat ia mendengar kalimat terakhir Farnaya, dia menyunggingkan senyum kecil.

“Alright, sebutin nominalnya, gue kasih buat lu semua.”


geminaifourth

Farzan dan Fino agak bete. Penyebabnya adalah, mereka berdua yang awalnya duduk di kursi tengah mendadak pindah ke belakang karena Veronica dan kedua temannya kekeuh ingin duduk di kursi tengah, mau tidak mau Farzan dan Fino harus mengalah.

Jujur, Farzan agak sebal melihat pemandangan Veronica yang selalu menyuapi Gilang dan diterima baik oleh Gilang. Farzan sudah mencoba berbagai cara agar Gilang peka terhadapnya, dari yang pura-pura batuk sampai menyanyikan lagu galau. Namun, itu semua sia-sia, entah Gilang tidak mendengar atau tidak peduli.

“Kak Marvin, boleh ga radionya gue connect ke spotify gue?” tanya Fino tiba-tiba.

Marvin yang sedang menyetir itu mengangguk, “boleh.”

“Eh playlist lu isinya apa?” tanya Ameta, teman Vero.

“Kalau K-Pop enggak dulu deh, kita ga ada yang denger gituan,” sahut Aluna.

Connect ke spotifynya Vero aja deh, bagus-bagus playlistnya,” kata Ameta.

“Boleh,” kata Vero.

“Apa-apaan? Kan temen gue duluan yang mau?” protes Farzan.

“Eh maaf ya, selera musik kalian ga terlalu bagus hehe takutnya ga cocok sama Gilang Marvin, selera musik mereka berdua soalnya cocok sama kita, kalau dengerin musik kalian takutnya mereka ngantuk,” kata Vero.

Farzan jelas berapi-api. Ingin protes lebih lanjut namun ditahan oleh Fino.

“Okay gapapa, selera lu semua aja dah kak yang disetel, selera gue sama Farzan mah paling beda,” jawab Fino.

“Cih, sipaling seleranya bagus gue liat-liat, gatau aja Gilang kalau sama gue dengerinnya NewJeans,” kata Farzan kepada Fino.

“Biarin aja, seleranya sebagus apa sih, paling ga beda jauh sama kita,” kata Fino.

Farzan menggigiti kukunya sambil bolak balik kesana kemari di kamar Gilang. Ia gelisah dengan perkataan Gilang mengenai ciuman. Jujur saja, Farzan belum pernah mencium atau dicium siapapun, maka dari itu Farzan panik melihat chat yang dikirimkan Gilang mengenai ciuman.

Dari luar, terdengar suara pintu terbuka. Farzan yang panik langsung mencoba kalem seolah menganggap seolah perkataan Gilang hanya candaan belaka. Ia pun keluar kamar untuk menemui Gilang.

“Beli apa sih lama banget,” protes Farzan. “Gue udah laper tau.”

'Nice, acting gue keren,' batin Farzan

“Ngantri, kayak gatau aja hari minggu gimana,” kata Gilang sambil menyiapkan makanan untuknya dan Farzan.

Kedua lelaki itu pun makan di meja makan dengan suasanya yang cukup hangat, tidak ada suasanya canggung sama sekali.

Ketika keduanya selesai makan, Gilang pun mencuci piring dan Farzan membantu Gilang dengan mengelap piring yang basah.

“Lu kalau mabuk segila itu ya?” tanya Gilang.

Farzan yang sangat menghindari topik itupun agak panik ketika Gilang kembali membahasnya.

“Iya, emang segila itu.”

“Lain kali kalau mau mabuk ajak gue, let me protect you,” kata Gilang yang masih fokus mencuci piringnya.

“Maaf ya, gue ngerepotin lu terus, tapi sumpah gue ga bisa apa-apa karena gue ga sadar, gue juga gatau kenapa gue ngechat yang ga jelas ke lu, dan kata temen gue juga gue ga mau pulang kalau ga sama lu,” kata Farzan. “Gue semalem disini bertingkah ga? Kayak ngerusakin barang atau apa gitu? Biar nanti gue ganti.”

Mendengar perkataan Farzan yang panjang lebar itu, Gilang menghentikan aktivitasnya mencuci piring.

You don't have to say sorry, Farzan, gue bantuin lu karena murni gue mau bantu, ga ada yang namanya ngerepotin dikamus gue buat lu, remember what i said? You deserve everything from me, just for you, jadi jangan pikirin itu okay, sunflower?

Farzan diam menatap mata Gilang, tidak ada kebohongan, hanya ada tatapan tulus disana. Mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing, sama-sama tahu yang akan terjadi selanjutnya. Gilang pun mendekatkan wajahnya ke Farzan dan Farzan mulai menutup matanya.

Namun, Farzan sadar tidak ada sesuatu yang terjadi. Farzan membuka matanya dan mendapati Gilang yang tersenyum dengan jarak yang sangat dekat, bahkan nafas Gilang pun terasa dipermukaan wajah Farzan.

“Kenapa? Kok diem? Lu mengharapkan sesuatu kah?” tanya Gilang sambil tersenyum.

“Kelamaan,” kata Farzan.

Lalu tanpa aba-aba Farzan meraih kedua pipi Gilang dan mencium bibirnya dalam. Hanya menempel, tidak lebih. Gilang yang mendapat ciuman tiba-tiba itu pun terkejut, namun tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Farzan menciumnya duluan.

Farzan melepaskan ciumannya, mengambil nafas panjang dan menatap Gilang yang tengah menatapnya dengan smirk khasnya.

“Is this you want? A kiss?” tanya Farzan.

Well, technically, last night you asked for the kiss first, not me, tapi gue yang bikin janji kalau gue bakal cium lu pas lu sadar, tapi ternyata lu duluan yang cium gue,” kata Gilang. “Berarti hutang gue belum lunas.”

Dengan kedua tangan yang penuh sabun, Gilang meraih pipi Farzan untuk menciumnya, kali ini dengan lumatan yang lembut. Farzan yang kaget pun lama-lama mengikuti alur yang dibuat Gilang dan mengalungkan tanganya pada leher Gilang.

Setelah puas, mereka sama-sama mengambil nafas panjang dan menatap satu sama lain.

“Pipi lu,” kata Gilang sambil menahan tawanya.

“Apa?” Farzan mencolek pipinya dan menemukan bercak sabun disana. Sebelum Farzan meledak, Gilang terlebih dahulu kabur dari sana.

“GILANG ANJING, GUE BENCI BANGET SAMA LU!!”

“APA?! LO MAU CIUMAN LAGI?!” teriak Gilang.

“BRENGSEK.”


geminaifourth

Gilang sampai di club yang sudah diberi tahu oleh Sakha. Ia langsung menuju lantai 3 bersama Marvin setelah Sakha memberi tahu keberadaan mereka.

Setelah melihat wajah-wajah yang ia kenal, ia langsung menghampiri meja tersebut dan langsung menghampiri Farzan yang saat ini tengah meracau di lantai.

“Marv, can you handle the others? Lu duluan aja gapapa, Farzan sama gue,” kata Gilang dan langsung disetujui oleh Marvin.

“Farzan, ayo bangun,” Gilang menepuk-nepuk pipi Farzan.

“Hm? Kak Gilang?” ucap Farzan dengan pipi yang merah.

'Anjir, lucu banget gila,' ucap Gilang dalam hati. Gilang memang sedikit gila karena melihat Farzan yang saat ini sangat amat lucu dimata Gilang.

“Iya ini gue udah dateng, ayo pulang,” kata Gilang.

“Hehe, ganteng banget Gilangku,” kata Farzan sambil mengalungkan tangannya di leher Gilang.

“Iya ini Gilangmu, ayo bangun, aku gendong,” kata Gilang. Gilang membelakangi dirinya di depan Farzan lalu Farzan naik ke punggung Gilang.

“Ready?” tanya Gilang.

“Ay-ay captain!”

“Your place or mine?” tanya Gilang setelah mereka didalam mobil.

“Dimana yang bisa pelukan sama ciuman?” tanya Farzan.

Gilang tertawa, “dimana aja bisa.”

“Ditempat kak Gilang aja,” jawab Farzan.

“As your wish, manis.”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, mereka akhirnya sampai di apartemen Gilang. Gilang pun langsung membawa Farzan ke kamarnya.

“Nih ganti baju dulu, baru abis itu bebas mau ngapain, gue tunggu diluar,” kata Gilang sambil memberi Farzan kaus dan celana panjang.

“Kak, udah,” kata Farzan. Gilang lalu masuk ke kamarnya dan mendapati Farzan duduk dikasur miliknya. Gilang cukup terkesima melihat Farzan memakai kausnya yang kebesaran ditubuh sang adik tingkatnya dan beberapa jepitan warna warni di rambut Farzan yang entah darimana ia dapatkan. Lucu, batinnya.

“Udah malem, ga tidur?” tanya Gilang lalu menghampiri Farzan.

Farzan yang mendapati Gilang didepannya pun langsung memeluk tubuh tinggi itu. Gilang yang mengerti pun mengusap-usap kepala Farzan.

“Kenapa minum-minum? Something bothering you?”

Farzan hanya menggelengkan kepalanya pada perut Gilang.

“Cerita aja, gue disini.”

“Sebel sama Pak Yana, aku dimarahin karena tugasnya ga bener, padahal udah ngerjain sesuai kemauan dia, sedangkan ada beberapa orang yang ngerjainnya asal-asal tapi diterima, trus aku juga dimaki-maki didepan yang lain, maunya apa sih?!” Farzan mengeluarkan unek-uneknya.

Gilang mencubit pipi Farzan dengan gemas.

“Harus sabar ya Farzanku, gimana juga beliau dosen kamu, aku juga gitu kok pas tahun pertama, tapi lama-lama juga nanti udah biasa.”

Farzan mengangguk lucu lalu memajukan bibirnya.

“Apa?” tanya Gilang.

“Cium.”

Gilang tertawa lagi. “Aku gamau ambil kesempatan, Zan, nanti aja ya pas kamu udah sadar, okay? Sekarang bolehnya peluk aja ya.”

Farzan cemberut, “padahal udah janji.”

“Janji deh pas kamu udah sadar, tapi kamunya harus mau.”

Farzan tersenyum lebar, “pasti mau!”

“Sekarang ayo tidur, udah mau pagi,” kata Gilang lalu menuntun Farzan untuk tiduran dikasur.

“Peluk,” kata Farzan sambil membentangkan tangannya gemas.

Gilang dengan senang hati menerima. Dipeluknya Farzan lalu diusap bagian belakang kepalanya.

“Good night, sunflower.”


geminaifourth

Setelah mendapat pesan terakhir dari Prima, Fargi langsung melompat dari kasurnya menuju pintu kamar hotel untuk menghampiri mantan kekasihnya yang sekarang pindah ke kamar sebelah. Ketika Fargi membuka pintu kamar, Fargi terkejut karena mendapati mantan kekasihnya berdiri di depan pintu kamar.

“Kak Aji...,” panggil Fargi.

Tanpa basa basi, Panji langsung memeluk tubuh Fargi yang cukup mungil itu. Fargi yang belum siap mendapatkan pelukan itu oleng ke belakang namun ia berhasil menahannya. Fargi pun membawa Panji ke dalam kamar.

“Fargi, maafin aku,” kata Panji sambil memeluk erat Fargi.

“No need, kak, aku yang harusnya minta maaf karena udah ngomong putus seenaknya, maafin aku ya, aku gamau putus,” kata Fargi sambil menangis.

“Jangan nangis ya sayang, kita ga putus kok,” kata Panji sambil mengusap air mata Fargi. Fargi yang mendapat perlakuan seperti itu pun langsung memeluk kencang Panji sampai mereka berdua jatuh ke kasur.

“Aku mau peluk kak Aji sampe besok, besok, dan besoknya lagi,” kata Fargi.

“Hahaha, kamu boleh peluk aku sepuasnya nanti kalau kita udah dirumah ya? Besok kan masih acara,” kata Panji.

“Bisa ga kita pulang duluan aja?”

“Gabisa dong, ini kan acara kampus, sabar ya Fargi, lusa kita pulang, nanti kamu boleh peluk aku sampe puas,” kata Panji sambil mengelus kepala Fargi.

“Kak Aji, panggil aku Agi lagi, gamau Fargi,” kata Fargi.

“Why? Isn't that your name?”

“Iya, tapi kayak masih putus, aku gamau.”

Panji terkekeh gemas lalu mengecup bibir Fargi sekilas.

“Agi punyaku,” kata Panji lalu memeluk erat Fargi.

Fargi terkekeh kemudian membalas pelukan Panji. “Kak Aji juga punyaku.”

geminaifourth

Setelah mendapat pesan terakhir dari Prima, Fargi langsung melompat dari kasurnya menuju pintu kamar hotel untuk menghampiri mantan kekasihnya yang sekarang pindah ke kamar sebelah. Ketika Fargi membuka pintu kamar, Fargi terkejut karena mendapati mantan kekasihnya berdiri di depan pintu kamar.

“Kak Aji...,” panggil Fargi.

Tanpa basa basi, Panji langsung memeluk tubuh Fargi yang cukup mungil itu. Fargi yang belum siap mendapatkan pelukan itu oleng ke belakang namun ia berhasil menahannya. Fargi pun membawa Panji ke dalam kamar.

“Fargi, maafin aku,” kata Panji sambil memeluk erat Fargi.

“No need, kak, aku yang harusnya minta maaf karena udah ngomong putus seenaknya, maafin aku ya, aku gamau putus,” kata Fargi sambil menangis.

“Jangan nangis ya sayang, kita ga putus kok,” kata Panji sambil mengusap air mata Fargi. Fargi yang mendapat perlakuan seperti itu pun langsung memeluk kencang Panji sampai mereka berdua jatuh ke kasur.

“Aku mau peluk kak Aji sampe besok, besok, dan besoknya lagi,” kata Fargi.

“Hahaha, kamu boleh peluk aku sepuasnya nanti kalau kita udah dirumah ya? Besok kan masih acara,” kata Panji.

“Bisa ga kita pulang duluan aja?”

“Gabisa dong, ini kan acara kampus, sabar ya Fargi, lusa kita pulang, nanti kamu boleh peluk aku sampe puas,” kata Panji sambil mengelus kepala Fargi.

“Kak Aji, panggil aku Agi lagi, gamau Fargi,” kata Fargi.

“Why? Isn't that your name?”

“Iya, tapi kayak masih putus, aku gamau.”

Panji terkekeh gemas lalu mengecup bibir Fargi sekilas.

“Agi punyaku,” kata Panji lalu memeluk erat Fargi.

Fargi terkekeh kemudian membalas pelukan Panji. “Kak Aji juga punyaku.”

geminaifourth

kkksmdksksk

Jiel turun dari motor Haris yang cukup tinggi itu. Lalu mereka berdua memasuki kafe yang didalamnya hanya ada beberapa orang termasuk Arkan dan teman-temannya yang tengah sibuk mengerjakan tugas.

“Halo Jiel!” sapa Danny.

“Hai kak Danny,” balas Jiel.

Lalu Jiel duduk dipojok dekat jendela dengan Haris disebelahnya.

“Mau makan apa?” tanya Haris.

“Apa ya? Bingung,” jawab Jiel.

Haris terkekeh gemas melihat Jiel.

“Aku mau mie goreng aja deh, sama es teh manis,” kata Jiel. Haris mengangguk lalu langsung ke kasir untuk memesan makanan Jiel.


Jiel telah selesai makan, ia tidak tau harus ngapain. Elixir tengah sibuk mengerjakan tugas mereka dan tidak ada yang berbicara.

“Tau gitu gausah kesini deh,” kata Jiel dalam hati.

Lalu Jiel melirik keluar jendela, ada sebuah kursi yang menghadap ke taman didepannya, Jiel berniat kesana.

“Mau kemana?” tanya Haris saat Jiel berdiri. Kini Elixir juga ikut menoleh.

“Emm…aku ke luar dulu ya? Duduk disitu, boleh ga bang?” tanya Jiel lalu menatap abangnya.

Arkan mengangguk, “boleh, tapi disitu aja, jangan jauh-jauh.”

Jiel mengangguk senang lalu keluar dari kafe.

Saat Jiel sedang melamun memikirkan masalah yang terjadi pada teman-temannya, Jiel terkejut karena seseorang memberinya jaket dari belakang. Ia menoleh, ternyata Haris.

“Pakai, udaranya dingin,” kata Haris.

“Makasih. Kak Haris udah selesai kerjain tugasnya?” tanya Jiel.

Haris mengangguk, “udah, mereka juga udah, lagi pada makan dulu.”

“Kak Haris ga makan?”

“Masih kenyang.”

Jiel mengangguk.

“Mikirin apa?” tanya Haris.

“Hah?”

“Tadi melamun, sampe kaget gitu aku kasih jaket,” kata Haris.

“Oh hehe, itu aku mikirin kenapa orang-orang yang benci aku tuh temen-temenku dibawa juga, padahal mereka ga salah apa-apaan, Juju dikerjain dan Darel ditabrak.”

“Darel ditabrak?”

“Iya loh tadi, makanya aku dirumah Darel, dia ditabrak pas jalanan sepi, motor dia ditendang sama orang itu,” jelas Jiel.

Haris menggeram kesal, ia tau beul perbuatan siapa ini.

“Kak Haris kenapa?”

“Gapapa, udah kamu jangan terlalu mikirin itu, nanti kamu stres sendiri, tenang aja Jiel, aku sama yang lain bakal cari pelakunya sampe dapet.”

Jiel tersenyum senang, “makasih kak Haris.”

Jiel langsung memeluk Haris disampingnya secara tidak sadar.

Haris yang kaget langsung terkekeh geli dan membalas pelukan Jiel.

Jiel yang tersadar langsung melepaskan pelukannya dan menjauh.

“Eh anu kak, m-maaf ga sengaja,” kata Jiel.

“Gapapa, seneng kok aku dipeluk kamu,” kata Haris.

“Kak Haris ih!!!”

“Gemes banget kalau salting,” kata Haris sambil mengusak rambut Jiel.

“Enggak salting tuh!”

“Tapi mukanya merah banget kayak tomat,” goda Haris.

Jiel menutup wajahnya, “ih kak Haris udah ah.”

Haris tergelak. Sungguh lucu pemuda disampingnya ini.

“Iya ini udah, sinian dong duduknya, aku mau peluk lagi,” kata Haris.

Jiel masih diam sambil menutup wajahnya.

“Eh gamau ya? Maaf deh,” kata Haris lalu berdiri hendak pergi.

“Ih enggak! Mau kok!” kata Jiel lalu langsung memeluk pinggang Haris dari samping.

Haris tersenyum senang lalu langsung memeluk sang calon pacar erat-erat. Sedangkan Jiel, sedang menahan malu yang amat sangat.

“Ian ih pelan-pelan, sakit tau!” omel Jenan ketika Hardian mengobati luka di kakinya.

“Siapa suruh balapan? Ketabrak kan?” sinis Hardian.

“Lagian Karen nantangin aku balapan sama abangnya, katanya kalau abangnya menang, Karen bakal ngambil kamu,” kata Jenan.

“Tapi untungnya aku menang sih, abangnya Karen cupu banget, nah karena ga terima abangnya kalah, akhirnya Karen yang nabrak aku pake motor pas perjalanan mau pulang,” lanjutnya.

Hardian menghela nafasnya.

“Je, kalau ada yang nantangin gitu tuh jangan di tanggapin, mau taruhannya aku pun jangan kamu ladenin, aku ga mau sama orang lain selain kamu Je,” kata Hardian.

“Aku kan takut Ian, kalau beneran kamu berpaling gimana?”

Hardian menangkup wajah sang kekasih.

“Denger ya Jenandra Alfian, Hardian Denandra mu ini ga bakal berpaling ke siapapun, mau cewek ataupun cowok aku ga bakal ngelirik mereka, aku cuma sayang sama kamu Je, jadi stop terima ajakan-ajakan orang lain buat memperebutkan aku,” jelas Hardian.

Jenan menangis.

“Hueee hiks, maafin Jenan ya Ian, Jenan ga bakal terima lagi ajakan kayak gitu, janji ini yang terakhir, jangan marah ya Ian, maafin Jenan.”

Hardian tersenyum lalu memeluk Jenan sembari menghapus air mata yang keluar dari mata cantik itu.

“Ian maafin, tapi janji jangan ulangin ya? Ian sayang banget sama Jenan,” kata Hardian sambil mengecup pucuk kepala Jenan.

“Iya Ian, Jenan janji, Jenan juga sayang banget sama Ian,” kata Jenan sambil memeluk erat Hardian.

“Udah dong jangan nangis lagi,” kata Hardian lalu mengcup bibir Jenan.

“Ih Ian cium-cium,” kata Jenan cemberut.

Hardian mengecup bibir Jenan lagi.

“Makanya jangan cemberut bibirnya, pengen aku cium terus tau,” kata Hardian.

Jenan semakin mengerucutkan bibirnya.

Hardian yang kelewat gemas langsung mencium bibir Jenan berkali-kali.

“Iannnnnn!!!!!”

Hardian tertawa melihat Jenan-nya itu.

Shit!” umpat Jiel lalu berlari keluar ruang musik menuju ruang club bahasa Jepang. Ajun, Danny, Asa dan Jo terkejut dengan umpatan itu. Begitupun Arkan dan Haris yang baru sampai langsung dihadiahi tubrukan dari Jiel.

“Jiel mau kemana?!” teriak Arkan.

“Kenapa Jiel?” tanya Haris kepada teman-temannya.

“Gatau, lagi main hp tiba-tiba ngomong gitu terus lari,” jawab Ajun.

“Susulin,” kata Arkan lalu berlari mengikuti Jiel dan disusul oleh teman-temannya.


“Juju!” panggil Jiel lalu langsung memeluk sang sahabat.

“Ji-Jiel…gue takut…,” kata Juju gemetar.

“Tenang Ju, ada gue disini…,” kata Jiel sambil mengusap-ngusap punggung Juju.

“Ini minum dulu,” kata Jiel sambil menyodorkan teh yang sedari tadi telah dibuat oleh Yoga.

Lalu tidak lama kemudian, Elixir datang.

“Kenapa?” tanya Haris.

Lalu Yoga menceritakan semuanya kepada mereka.

What the fuck?” umpat Ajun.

Arkan menghela nafasnya. Dia sudah tau betul ini perbuatan siapa.

“Mana kucingnya?” tanya Arkan.

“Udah gue kubur tenang aja,” jawab Yoga.

“Ju, ayo pulang, sama sopir kan?” tanya Jiel.

Juju menggeleng.

“Pak Firman lagi ngga jemput, istrinya lahiran.”

Jiel berpikir keras lalu menatap Yoga.

“Kak Yoga keberatan ngga kalau aku minta tolong anterin Juju?” tanya Jiel.

Yoga menggeleng, “nggak kok, emang rumahnya dimana?”

“Di Jasmine Residence kak,” jawab Jiel.

“Loh? Rumah nenek gue disitu, ayo Ju kakak anterin,” kata Yoga.

Jiel memapah Juju dibantu oleh Yoga.

“Pegangan Ju, nanti jatuh,” kata Yoga setelah Juju naik ke motor Yoga.

Juju memegang pinggang Yoga erat. Karena merasa tidak aman, Yoga mengambil kedua tangan Juju dan ia lingkarkan diperutnya.

“Biar ga jatuh,” kata Yoga lalu melajukan motornya.

Jiel yang melihat itu tersenyum tipis.

“Kenapa senyam-senyum hayo?” tanya Haris.

“Ih kak Haris ngagetin,” kata Jiel. “Ngga itu lucu aja mereka, Juju kan suka sama kak Yoga, eh kak Yoga nya malah kelewat lembut sama Juju, aku yakin pasti baper Juju-nya.”

Perkataan Jiel membuat Haris tertawa.

“Dah yuk balik.”

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.