First Move

Farzan menggigiti kukunya sambil bolak balik kesana kemari di kamar Gilang. Ia gelisah dengan perkataan Gilang mengenai ciuman. Jujur saja, Farzan belum pernah mencium atau dicium siapapun, maka dari itu Farzan panik melihat chat yang dikirimkan Gilang mengenai ciuman.

Dari luar, terdengar suara pintu terbuka. Farzan yang panik langsung mencoba kalem seolah menganggap seolah perkataan Gilang hanya candaan belaka. Ia pun keluar kamar untuk menemui Gilang.

“Beli apa sih lama banget,” protes Farzan. “Gue udah laper tau.”

'Nice, acting gue keren,' batin Farzan

“Ngantri, kayak gatau aja hari minggu gimana,” kata Gilang sambil menyiapkan makanan untuknya dan Farzan.

Kedua lelaki itu pun makan di meja makan dengan suasanya yang cukup hangat, tidak ada suasanya canggung sama sekali.

Ketika keduanya selesai makan, Gilang pun mencuci piring dan Farzan membantu Gilang dengan mengelap piring yang basah.

“Lu kalau mabuk segila itu ya?” tanya Gilang.

Farzan yang sangat menghindari topik itupun agak panik ketika Gilang kembali membahasnya.

“Iya, emang segila itu.”

“Lain kali kalau mau mabuk ajak gue, let me protect you,” kata Gilang yang masih fokus mencuci piringnya.

“Maaf ya, gue ngerepotin lu terus, tapi sumpah gue ga bisa apa-apa karena gue ga sadar, gue juga gatau kenapa gue ngechat yang ga jelas ke lu, dan kata temen gue juga gue ga mau pulang kalau ga sama lu,” kata Farzan. “Gue semalem disini bertingkah ga? Kayak ngerusakin barang atau apa gitu? Biar nanti gue ganti.”

Mendengar perkataan Farzan yang panjang lebar itu, Gilang menghentikan aktivitasnya mencuci piring.

You don't have to say sorry, Farzan, gue bantuin lu karena murni gue mau bantu, ga ada yang namanya ngerepotin dikamus gue buat lu, remember what i said? You deserve everything from me, just for you, jadi jangan pikirin itu okay, sunflower?

Farzan diam menatap mata Gilang, tidak ada kebohongan, hanya ada tatapan tulus disana. Mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing, sama-sama tahu yang akan terjadi selanjutnya. Gilang pun mendekatkan wajahnya ke Farzan dan Farzan mulai menutup matanya.

Namun, Farzan sadar tidak ada sesuatu yang terjadi. Farzan membuka matanya dan mendapati Gilang yang tersenyum dengan jarak yang sangat dekat, bahkan nafas Gilang pun terasa dipermukaan wajah Farzan.

“Kenapa? Kok diem? Lu mengharapkan sesuatu kah?” tanya Gilang sambil tersenyum.

“Kelamaan,” kata Farzan.

Lalu tanpa aba-aba Farzan meraih kedua pipi Gilang dan mencium bibirnya dalam. Hanya menempel, tidak lebih. Gilang yang mendapat ciuman tiba-tiba itu pun terkejut, namun tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Farzan menciumnya duluan.

Farzan melepaskan ciumannya, mengambil nafas panjang dan menatap Gilang yang tengah menatapnya dengan smirk khasnya.

“Is this you want? A kiss?” tanya Farzan.

Well, technically, last night you asked for the kiss first, not me, tapi gue yang bikin janji kalau gue bakal cium lu pas lu sadar, tapi ternyata lu duluan yang cium gue,” kata Gilang. “Berarti hutang gue belum lunas.”

Dengan kedua tangan yang penuh sabun, Gilang meraih pipi Farzan untuk menciumnya, kali ini dengan lumatan yang lembut. Farzan yang kaget pun lama-lama mengikuti alur yang dibuat Gilang dan mengalungkan tanganya pada leher Gilang.

Setelah puas, mereka sama-sama mengambil nafas panjang dan menatap satu sama lain.

“Pipi lu,” kata Gilang sambil menahan tawanya.

“Apa?” Farzan mencolek pipinya dan menemukan bercak sabun disana. Sebelum Farzan meledak, Gilang terlebih dahulu kabur dari sana.

“GILANG ANJING, GUE BENCI BANGET SAMA LU!!”

“APA?! LO MAU CIUMAN LAGI?!” teriak Gilang.

“BRENGSEK.”


geminaifourth