Putus atau Terus?
Setelah mendapat pesan terakhir dari Prima, Fargi langsung melompat dari kasurnya menuju pintu kamar hotel untuk menghampiri mantan kekasihnya yang sekarang pindah ke kamar sebelah. Ketika Fargi membuka pintu kamar, Fargi terkejut karena mendapati mantan kekasihnya berdiri di depan pintu kamar.
“Kak Aji...,” panggil Fargi.
Tanpa basa basi, Panji langsung memeluk tubuh Fargi yang cukup mungil itu. Fargi yang belum siap mendapatkan pelukan itu oleng ke belakang namun ia berhasil menahannya. Fargi pun membawa Panji ke dalam kamar.
“Fargi, maafin aku,” kata Panji sambil memeluk erat Fargi.
“No need, kak, aku yang harusnya minta maaf karena udah ngomong putus seenaknya, maafin aku ya, aku gamau putus,” kata Fargi sambil menangis.
“Jangan nangis ya sayang, kita ga putus kok,” kata Panji sambil mengusap air mata Fargi. Fargi yang mendapat perlakuan seperti itu pun langsung memeluk kencang Panji sampai mereka berdua jatuh ke kasur.
“Aku mau peluk kak Aji sampe besok, besok, dan besoknya lagi,” kata Fargi.
“Hahaha, kamu boleh peluk aku sepuasnya nanti kalau kita udah dirumah ya? Besok kan masih acara,” kata Panji.
“Bisa ga kita pulang duluan aja?”
“Gabisa dong, ini kan acara kampus, sabar ya Fargi, lusa kita pulang, nanti kamu boleh peluk aku sampe puas,” kata Panji sambil mengelus kepala Fargi.
“Kak Aji, panggil aku Agi lagi, gamau Fargi,” kata Fargi.
“Why? Isn't that your name?”
“Iya, tapi kayak masih putus, aku gamau.”
Panji terkekeh gemas lalu mengecup bibir Fargi sekilas.
“Agi punyaku,” kata Panji lalu memeluk erat Fargi.
Fargi terkekeh kemudian membalas pelukan Panji. “Kak Aji juga punyaku.”
— geminaifourth