Who
“Shit!” umpat Jiel lalu berlari keluar ruang musik menuju ruang club bahasa Jepang. Ajun, Danny, Asa dan Jo terkejut dengan umpatan itu. Begitupun Arkan dan Haris yang baru sampai langsung dihadiahi tubrukan dari Jiel.
“Jiel mau kemana?!” teriak Arkan.
“Kenapa Jiel?” tanya Haris kepada teman-temannya.
“Gatau, lagi main hp tiba-tiba ngomong gitu terus lari,” jawab Ajun.
“Susulin,” kata Arkan lalu berlari mengikuti Jiel dan disusul oleh teman-temannya.
“Juju!” panggil Jiel lalu langsung memeluk sang sahabat.
“Ji-Jiel…gue takut…,” kata Juju gemetar.
“Tenang Ju, ada gue disini…,” kata Jiel sambil mengusap-ngusap punggung Juju.
“Ini minum dulu,” kata Jiel sambil menyodorkan teh yang sedari tadi telah dibuat oleh Yoga.
Lalu tidak lama kemudian, Elixir datang.
“Kenapa?” tanya Haris.
Lalu Yoga menceritakan semuanya kepada mereka.
“What the fuck?” umpat Ajun.
Arkan menghela nafasnya. Dia sudah tau betul ini perbuatan siapa.
“Mana kucingnya?” tanya Arkan.
“Udah gue kubur tenang aja,” jawab Yoga.
“Ju, ayo pulang, sama sopir kan?” tanya Jiel.
Juju menggeleng.
“Pak Firman lagi ngga jemput, istrinya lahiran.”
Jiel berpikir keras lalu menatap Yoga.
“Kak Yoga keberatan ngga kalau aku minta tolong anterin Juju?” tanya Jiel.
Yoga menggeleng, “nggak kok, emang rumahnya dimana?”
“Di Jasmine Residence kak,” jawab Jiel.
“Loh? Rumah nenek gue disitu, ayo Ju kakak anterin,” kata Yoga.
Jiel memapah Juju dibantu oleh Yoga.
“Pegangan Ju, nanti jatuh,” kata Yoga setelah Juju naik ke motor Yoga.
Juju memegang pinggang Yoga erat. Karena merasa tidak aman, Yoga mengambil kedua tangan Juju dan ia lingkarkan diperutnya.
“Biar ga jatuh,” kata Yoga lalu melajukan motornya.
Jiel yang melihat itu tersenyum tipis.
“Kenapa senyam-senyum hayo?” tanya Haris.
“Ih kak Haris ngagetin,” kata Jiel. “Ngga itu lucu aja mereka, Juju kan suka sama kak Yoga, eh kak Yoga nya malah kelewat lembut sama Juju, aku yakin pasti baper Juju-nya.”
Perkataan Jiel membuat Haris tertawa.
“Dah yuk balik.”
Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.