Peluk

Jiel turun dari motor Haris yang cukup tinggi itu. Lalu mereka berdua memasuki kafe yang didalamnya hanya ada beberapa orang termasuk Arkan dan teman-temannya yang tengah sibuk mengerjakan tugas.

“Halo Jiel!” sapa Danny.

“Hai kak Danny,” balas Jiel.

Lalu Jiel duduk dipojok dekat jendela dengan Haris disebelahnya.

“Mau makan apa?” tanya Haris.

“Apa ya? Bingung,” jawab Jiel.

Haris terkekeh gemas melihat Jiel.

“Aku mau mie goreng aja deh, sama es teh manis,” kata Jiel. Haris mengangguk lalu langsung ke kasir untuk memesan makanan Jiel.


Jiel telah selesai makan, ia tidak tau harus ngapain. Elixir tengah sibuk mengerjakan tugas mereka dan tidak ada yang berbicara.

“Tau gitu gausah kesini deh,” kata Jiel dalam hati.

Lalu Jiel melirik keluar jendela, ada sebuah kursi yang menghadap ke taman didepannya, Jiel berniat kesana.

“Mau kemana?” tanya Haris saat Jiel berdiri. Kini Elixir juga ikut menoleh.

“Emm…aku ke luar dulu ya? Duduk disitu, boleh ga bang?” tanya Jiel lalu menatap abangnya.

Arkan mengangguk, “boleh, tapi disitu aja, jangan jauh-jauh.”

Jiel mengangguk senang lalu keluar dari kafe.

Saat Jiel sedang melamun memikirkan masalah yang terjadi pada teman-temannya, Jiel terkejut karena seseorang memberinya jaket dari belakang. Ia menoleh, ternyata Haris.

“Pakai, udaranya dingin,” kata Haris.

“Makasih. Kak Haris udah selesai kerjain tugasnya?” tanya Jiel.

Haris mengangguk, “udah, mereka juga udah, lagi pada makan dulu.”

“Kak Haris ga makan?”

“Masih kenyang.”

Jiel mengangguk.

“Mikirin apa?” tanya Haris.

“Hah?”

“Tadi melamun, sampe kaget gitu aku kasih jaket,” kata Haris.

“Oh hehe, itu aku mikirin kenapa orang-orang yang benci aku tuh temen-temenku dibawa juga, padahal mereka ga salah apa-apaan, Juju dikerjain dan Darel ditabrak.”

“Darel ditabrak?”

“Iya loh tadi, makanya aku dirumah Darel, dia ditabrak pas jalanan sepi, motor dia ditendang sama orang itu,” jelas Jiel.

Haris menggeram kesal, ia tau beul perbuatan siapa ini.

“Kak Haris kenapa?”

“Gapapa, udah kamu jangan terlalu mikirin itu, nanti kamu stres sendiri, tenang aja Jiel, aku sama yang lain bakal cari pelakunya sampe dapet.”

Jiel tersenyum senang, “makasih kak Haris.”

Jiel langsung memeluk Haris disampingnya secara tidak sadar.

Haris yang kaget langsung terkekeh geli dan membalas pelukan Jiel.

Jiel yang tersadar langsung melepaskan pelukannya dan menjauh.

“Eh anu kak, m-maaf ga sengaja,” kata Jiel.

“Gapapa, seneng kok aku dipeluk kamu,” kata Haris.

“Kak Haris ih!!!”

“Gemes banget kalau salting,” kata Haris sambil mengusak rambut Jiel.

“Enggak salting tuh!”

“Tapi mukanya merah banget kayak tomat,” goda Haris.

Jiel menutup wajahnya, “ih kak Haris udah ah.”

Haris tergelak. Sungguh lucu pemuda disampingnya ini.

“Iya ini udah, sinian dong duduknya, aku mau peluk lagi,” kata Haris.

Jiel masih diam sambil menutup wajahnya.

“Eh gamau ya? Maaf deh,” kata Haris lalu berdiri hendak pergi.

“Ih enggak! Mau kok!” kata Jiel lalu langsung memeluk pinggang Haris dari samping.

Haris tersenyum senang lalu langsung memeluk sang calon pacar erat-erat. Sedangkan Jiel, sedang menahan malu yang amat sangat.