Drunk
Gilang sampai di club yang sudah diberi tahu oleh Sakha. Ia langsung menuju lantai 3 bersama Marvin setelah Sakha memberi tahu keberadaan mereka.
Setelah melihat wajah-wajah yang ia kenal, ia langsung menghampiri meja tersebut dan langsung menghampiri Farzan yang saat ini tengah meracau di lantai.
“Marv, can you handle the others? Lu duluan aja gapapa, Farzan sama gue,” kata Gilang dan langsung disetujui oleh Marvin.
“Farzan, ayo bangun,” Gilang menepuk-nepuk pipi Farzan.
“Hm? Kak Gilang?” ucap Farzan dengan pipi yang merah.
'Anjir, lucu banget gila,' ucap Gilang dalam hati. Gilang memang sedikit gila karena melihat Farzan yang saat ini sangat amat lucu dimata Gilang.
“Iya ini gue udah dateng, ayo pulang,” kata Gilang.
“Hehe, ganteng banget Gilangku,” kata Farzan sambil mengalungkan tangannya di leher Gilang.
“Iya ini Gilangmu, ayo bangun, aku gendong,” kata Gilang. Gilang membelakangi dirinya di depan Farzan lalu Farzan naik ke punggung Gilang.
“Ready?” tanya Gilang.
“Ay-ay captain!”
“Your place or mine?” tanya Gilang setelah mereka didalam mobil.
“Dimana yang bisa pelukan sama ciuman?” tanya Farzan.
Gilang tertawa, “dimana aja bisa.”
“Ditempat kak Gilang aja,” jawab Farzan.
“As your wish, manis.”
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, mereka akhirnya sampai di apartemen Gilang. Gilang pun langsung membawa Farzan ke kamarnya.
“Nih ganti baju dulu, baru abis itu bebas mau ngapain, gue tunggu diluar,” kata Gilang sambil memberi Farzan kaus dan celana panjang.
“Kak, udah,” kata Farzan. Gilang lalu masuk ke kamarnya dan mendapati Farzan duduk dikasur miliknya. Gilang cukup terkesima melihat Farzan memakai kausnya yang kebesaran ditubuh sang adik tingkatnya dan beberapa jepitan warna warni di rambut Farzan yang entah darimana ia dapatkan. Lucu, batinnya.
“Udah malem, ga tidur?” tanya Gilang lalu menghampiri Farzan.
Farzan yang mendapati Gilang didepannya pun langsung memeluk tubuh tinggi itu. Gilang yang mengerti pun mengusap-usap kepala Farzan.
“Kenapa minum-minum? Something bothering you?”
Farzan hanya menggelengkan kepalanya pada perut Gilang.
“Cerita aja, gue disini.”
“Sebel sama Pak Yana, aku dimarahin karena tugasnya ga bener, padahal udah ngerjain sesuai kemauan dia, sedangkan ada beberapa orang yang ngerjainnya asal-asal tapi diterima, trus aku juga dimaki-maki didepan yang lain, maunya apa sih?!” Farzan mengeluarkan unek-uneknya.
Gilang mencubit pipi Farzan dengan gemas.
“Harus sabar ya Farzanku, gimana juga beliau dosen kamu, aku juga gitu kok pas tahun pertama, tapi lama-lama juga nanti udah biasa.”
Farzan mengangguk lucu lalu memajukan bibirnya.
“Apa?” tanya Gilang.
“Cium.”
Gilang tertawa lagi. “Aku gamau ambil kesempatan, Zan, nanti aja ya pas kamu udah sadar, okay? Sekarang bolehnya peluk aja ya.”
Farzan cemberut, “padahal udah janji.”
“Janji deh pas kamu udah sadar, tapi kamunya harus mau.”
Farzan tersenyum lebar, “pasti mau!”
“Sekarang ayo tidur, udah mau pagi,” kata Gilang lalu menuntun Farzan untuk tiduran dikasur.
“Peluk,” kata Farzan sambil membentangkan tangannya gemas.
Gilang dengan senang hati menerima. Dipeluknya Farzan lalu diusap bagian belakang kepalanya.
“Good night, sunflower.”
geminaifourth